WARTAGARUT.COM – Mahasiswa Pendidikan Profesi Guru (PPG) Institut Pendidikan Indonesia (IPI) Garut menghadirkan beragam inovasi untuk membantu menjawab persoalan pembelajaran di sekolah.
Karya yang ditampilkan dalam Gelar Karya 2.0 PPG IPI Garut Tahun 2026 mencakup media pembelajaran, permainan edukatif, sistem informasi, hingga gagasan yang mengangkat literasi, budaya Nusantara, dan keselamatan di lingkungan sekolah.
Rektor IPI Garut, Prof. Dr. H. Nizar Alam Hamdani, M.M., M.T., M.Si., M.Kom., CIHCM, menegaskan bahwa gelar karya tidak sekadar menjadi ajang pameran produk pendidikan.
Kegiatan ini menjadi kesempatan bagi calon guru untuk mengubah hasil analisis masalah di sekolah menjadi gagasan dan media pembelajaran yang dapat digunakan secara nyata.
“Tujuan gelar karya ini adalah menampilkan produk-produk yang dapat memberikan solusi terhadap masalah pendidikan. Pengetahuan diubah menjadi pengalaman, sementara gagasan akademik diwujudkan menjadi kebutuhan nyata dalam dunia pendidikan,” kata Nizar saat menghadiri Gelar Karya 2.0 bertema “Merajut Arah, Membangun Bangsa” di Aula IPI Garut, Jalan Terusan Pahlawan No. 32, Kecamatan Tarogong Kidul, Kabupaten Garut, Senin (19/10/2026).

Isi Artikel
Prof. Nizar: Guru Harus Mampu Memaknai Kehidupan
Menurut Nizar Alam Hamdani, pendidikan tidak cukup dimaknai sebagai proses pemindahan pengetahuan dari guru kepada peserta didik.
Pendidikan juga merupakan ikhtiar untuk membangun manusia yang mampu berpikir kritis, memiliki budi pekerti luhur, serta bertanggung jawab.
Ia menilai guru memiliki peran penting dalam menuntun peserta didik mengembangkan potensi dan karakter mereka.
Karena itu, inovasi pembelajaran harus berangkat dari kebutuhan siswa, bukan semata-mata mengikuti perkembangan teknologi.
“Pendidikan itu bagaimana memanusiakan manusia, menuntun peserta didik agar mampu mengembangkan potensinya, membangun karakternya, dan memberikan manfaat bagi kehidupan,” ujarnya.
Nizar Alam Hamdani menjelaskan, karya yang dipamerkan mahasiswa PPG IPI Garut dikembangkan melalui pendekatan yang beragam.
Sebagian memanfaatkan teknologi pembelajaran, sedangkan lainnya menggunakan media sederhana yang dirancang agar materi lebih mudah dipahami siswa.
Menurutnya, kedua pendekatan tersebut sama-sama penting selama mampu membantu mengatasi kesulitan belajar.
“Gelar karya bukan hanya memamerkan teknologi di bidang pendidikan. Sesuatu yang sederhana pun bisa memberikan manfaat, terutama ketika materi yang sebelumnya sulit dipahami siswa dapat disampaikan dengan cara yang lebih mudah diterima,” katanya.
Keberagaman Menjadi Kekuatan Pendidikan
Tema “Merajut Arah, Membangun Bangsa” juga memiliki makna tersendiri bagi Nizar Alam Hamdani.
Ia memandang tema tersebut sebagai ajakan untuk menyatukan pengetahuan, pengalaman, dan kebudayaan dalam membangun arah pendidikan nasional.
Mahasiswa PPG IPI Garut yang berasal dari berbagai daerah membawa pengalaman dan latar budaya berbeda.
Keberagaman tersebut dapat memperkaya pendekatan pembelajaran sekaligus memperkuat tujuan bersama dalam memajukan pendidikan Indonesia.
Nizar Alam Hamdani juga menekankan pentingnya empat kompetensi guru profesional, yakni kompetensi pedagogik, profesional, sosial, dan kepribadian.
“Guru adalah pelukis masa depan. Guru profesional harus memiliki kompetensi dan mampu memanfaatkan teknologi yang ada untuk meningkatkan kualitas pendidikan serta derajat hidup bangsa,” tuturnya.
Dalam pengembangan program PPG, Nizar Alam Hamdani menyampaikan bahwa IPI Garut menargetkan akreditasi internasional pada akhir 2027.
Target tersebut merupakan bagian dari upaya peningkatan kualitas program setelah memperoleh akreditasi unggul di tingkat nasional.

Dr. Galih: Karya Harus Menjawab Kebutuhan Murid
Wakil Rektor I IPI Garut, Dr. Galih Abdul Fatah Maulani, M.Kom., mengatakan Gelar Karya 2.0 merupakan penyelenggaraan tahun kedua setelah kegiatan serupa pertama kali dilaksanakan pada tahun sebelumnya.
Ia menilai keberhasilan sebuah karya pendidikan tidak semata-mata diukur dari kecanggihan teknologi atau tampilan produk.
Hal terpenting adalah manfaatnya bagi proses belajar siswa.
“Karya yang baik mengundang kekaguman, tetapi karya yang bermakna membantu menyelesaikan permasalahan,” kata Dr. Galih.
Ia berharap setiap karya yang ditampilkan mampu menjawab kebutuhan nyata di kelas, mulai dari membantu siswa memahami pelajaran, mendorong keberanian bertanya, hingga menumbuhkan kepercayaan terhadap kemampuan diri sendiri.
Dr. Galih juga mengingatkan calon guru agar memanfaatkan teknologi secara kreatif dan bertanggung jawab.
Menurutnya, penggunaan media yang canggih tetap harus diimbangi kepekaan pendidik dalam memahami kesulitan, kebutuhan, dan suara peserta didik.
“Murid membutuhkan guru yang mampu memahami kesulitannya, mendengarkan suaranya, dan menuntunnya untuk berkembang,” ujarnya.
Karena itu, ia mendorong mahasiswa menjadikan gelar karya sebagai ruang untuk saling belajar, menerima masukan, dan menyempurnakan produk agar dapat diterapkan di sekolah secara berkelanjutan.
“Semoga dari PPG IPI Garut lahir guru-guru yang berilmu, berintegritas, dan mampu menumbuhkan harapan bagi anak-anak Indonesia,” tutur Dr. Galih.

Dr. Irsyad: Diikuti 68 Mahasiswa Calon Guru
Koordinator Program PPG IPI Garut, Dr. Irsyad Nugraha, M.Pd., menjelaskan bahwa Gelar Karya 2.0 merupakan luaran mata kuliah proyek kepemimpinan yang diikuti 68 mahasiswa PPG calon guru gelombang pertama tahun 2026.
Peserta terdiri atas 40 mahasiswa Pendidikan Pancasila dan 28 mahasiswa Pendidikan Bahasa Indonesia.
Dalam proses pembimbingan serta pengujian proyek, kegiatan ini melibatkan 15 dosen dan 12 guru pamong.
Menurut Dr. Irsyad, proyek kepemimpinan memberi kesempatan kepada mahasiswa untuk mengenali persoalan di sekolah, merancang solusi, kemudian mengembangkan karya yang relevan dengan kebutuhan pembelajaran.
“Gelar karya ini menjadi wadah inovasi dan kreativitas mahasiswa PPG IPI Garut, baik melalui media pembelajaran, metode berbasis teknologi, maupun pemanfaatan kebudayaan dari daerah masing-masing,” katanya.
Dari Permainan Edukatif hingga Sistem Informasi
Ragam karya yang dipamerkan menunjukkan pendekatan mahasiswa dalam mengembangkan media belajar.
Salah satunya berupa permainan ludo yang dipadukan dengan materi Pancasila dan kewarganegaraan.
Melalui permainan tersebut, siswa diharapkan dapat mempelajari materi dengan cara yang lebih menarik dan menyenangkan.
Selain itu, terdapat kelompok mahasiswa Pendidikan Bahasa Indonesia yang mengembangkan sistem informasi sebagai media dan platform pendukung pembelajaran.
Dr. Irsyad mengatakan, karya mahasiswa juga mengangkat sejumlah isu pendidikan, seperti literasi, pembelajaran digital, sekolah aman, kesiapsiagaan bencana, serta pelestarian permainan dan budaya Nusantara.
Ia menambahkan, proses pengembangan karya didukung oleh dosen pembimbing dan guru pamong.
Mahasiswa memperoleh pendampingan secara berkala selama satu semester untuk menyusun dan menyempurnakan produk.
Meski begitu, mahasiswa menghadapi tantangan dalam mengatur waktu karena harus menyelesaikan proyek di tengah agenda PPG yang padat, termasuk seminar dan persiapan ujian kompetensi.
Menurut Dr. Irsyad, persiapan tahun ini dilakukan lebih awal dibandingkan penyelenggaraan perdana.
Mahasiswa telah diarahkan untuk mempersiapkan luaran proyek sejak semester pertama sehingga memiliki waktu lebih panjang untuk mengembangkan karya.
Gelar karya tersebut juga memberikan apresiasi dalam beberapa kategori, yakni karya terbaik, karya inovatif, karya berdampak, dan stan terbaik.
Karya Mahasiswa Berpeluang Diterapkan di Sekolah Lain
Dr. Irsyad berharap produk yang dihasilkan mahasiswa tidak berhenti sebagai materi pameran, tetapi dapat digunakan untuk mendukung pembelajaran di ruang kelas.
Pihak PPG IPI Garut, kata dia, akan menjajaki penyampaian hasil inovasi mahasiswa kepada Pemerintah Kabupaten Garut agar karya yang sesuai dapat dimanfaatkan di sekolah-sekolah di luar sekolah mitra.
“Kami akan mencoba menyampaikan inovasi-inovasi yang dihasilkan mahasiswa PPG kepada Bupati Garut dan Kepala Dinas Pendidikan agar bisa dimanfaatkan di beberapa sekolah lain, di luar sekolah mitra,” ujarnya.
Menurut Dr. Irsyad, rencana tersebut telah dibicarakan bersama pimpinan IPI Garut dan perwakilan Dinas Pendidikan Kabupaten Garut.
Namun, tindak lanjutnya masih memerlukan koordinasi lebih lanjut dengan pemerintah daerah.
Ia berharap inovasi mahasiswa dapat memberikan manfaat lebih luas bagi guru dan peserta didik, sekaligus mendukung peningkatan kualitas pendidikan di Kabupaten Garut.
Melalui Gelar Karya 2.0, IPI Garut mendorong calon guru untuk tidak hanya menguasai materi pelajaran, tetapi juga mampu membaca kebutuhan siswa, mengembangkan solusi kreatif, dan menerapkan teknologi secara tepat.
Dengan begitu, karya akademik diharapkan dapat berlanjut menjadi praktik pembelajaran yang bermanfaat di sekolah.***
Penulis : Soni Tarsoni
Editor : Soni Tarsoni

















Komentar