WARTAGARUT.COM – Kurash merupakan olahraga bela diri gulat tradisional asal Uzbekistan, Asia Tengah, yang mengandalkan teknik bantingan dalam posisi berdiri.
Berbeda dari sejumlah cabang gulat lainnya, olahraga ini tidak memperbolehkan pertarungan di lantai, cekikan, maupun kuncian sendi.
Kurash memiliki sejarah panjang. Federasi Kurash Indonesia (FERKUSHI) menyebut olahraga ini telah dipraktikkan setidaknya 3.500 tahun lalu berdasarkan penelitian yang dirujuk dalam sejarah kurash.
Tradisi tersebut kemudian berkembang menjadi olahraga dengan aturan pertandingan yang lebih terstruktur.
Di tingkat internasional, kurash telah dipertandingkan dalam Asian Games.
Cabang ini juga tercantum dalam program Asian Games Aichi-Nagoya 2026, yang berlangsung di Jepang.
Mengenal Kurash dan Asal-usulnya
Kurash berasal dari kawasan Asia Tengah, khususnya Uzbekistan.
Pada awal perkembangannya, olahraga ini menjadi bagian dari tradisi masyarakat setempat dan dipertunjukkan dalam berbagai kegiatan sosial.
Seiring waktu, kurash berkembang menjadi cabang olahraga kompetitif dengan sistem penilaian, kategori berat badan, serta peraturan pertandingan.
Federasi Kurash Indonesia mencatat bahwa penyusunan aturan modern mulai dikembangkan oleh Komil Yusupov pada 1980 sebelum kurash semakin terorganisasi di tingkat internasional.
Nama kurash dalam bahasa Uzbek juga dikaitkan dengan filosofi mencapai tujuan secara adil.
Nilai tersebut sejalan dengan penekanan pada sportivitas, kepatuhan terhadap aturan, dan penghormatan terhadap lawan.
Teknik Bantingan Menjadi Kunci Kemenangan
Pertandingan kurash mempertemukan dua atlet di atas matras.
Salah satu atlet mengenakan jaket hijau, sedangkan lawannya memakai jaket biru.
Pakaian khusus tersebut menjadi bagian penting dalam pelaksanaan teknik pegangan dan bantingan.
Tujuan utama pertandingan adalah menjatuhkan lawan dengan teknik yang sah.
Bantingan yang membuat punggung lawan menyentuh matras dapat menghasilkan kemenangan langsung sesuai ketentuan penilaian kurash.
Jika bantingan tidak menghasilkan kemenangan langsung, wasit memberikan nilai berdasarkan kualitas dan hasil teknik yang dilakukan.
Atlet dengan hasil penilaian lebih baik dapat memenangkan pertandingan.
Karena pertandingan berpusat pada teknik berdiri, atlet perlu menguasai keseimbangan, pegangan, pengaturan posisi tubuh, kecepatan, dan kemampuan membaca gerakan lawan.
Aturan Kurash Berbeda dari Judo dan Gulat Lantai
Salah satu karakteristik utama kurash adalah larangan melanjutkan pertarungan melalui teknik lantai.
Setelah atlet berada di posisi bawah, pertandingan tidak berkembang menjadi adu kuncian seperti pada sejumlah cabang bela diri lainnya.
Kurash juga melarang teknik cekikan dan kuncian sendi.
Aturan ini membedakannya dari beberapa olahraga bela diri yang menggunakan teknik pengendalian lawan di lantai.
Meski sama-sama mengandalkan bantingan, kurash dan judo memiliki peraturan, sistem penilaian, serta karakter teknik yang berbeda.
Karena itu, pengalaman dalam satu cabang bela diri tidak otomatis membuat atlet menguasai seluruh aturan cabang lainnya.
Bagi atlet yang ingin menekuni kurash, pemahaman terhadap regulasi resmi, teknik yang diperbolehkan, dan sistem penilaian menjadi bagian penting dari persiapan pertandingan.
Kurash di Asian Games dan Kompetisi Internasional
Kurash mendapat pengakuan dari Dewan Olimpiade Asia pada 2003.
Cabang ini kemudian masuk dalam program Asian Indoor Games 2007 dan dipertandingkan pada Asian Games Jakarta-Palembang 2018.
Pada Asian Games Aichi-Nagoya 2026, kurash kembali tercantum sebagai salah satu cabang olahraga yang dipertandingkan.
Kehadirannya dalam ajang multievent Asia memperlihatkan perkembangan kurash dari tradisi bela diri regional menjadi olahraga kompetitif lintas negara.
Kompetisi internasional membutuhkan kesiapan atlet, pelatih, wasit, dan penyelenggara. International Kurash Association (IKA) juga memiliki aturan resmi yang mengatur pelaksanaan pertandingan serta tanggung jawab para pihak yang terlibat.
FERKUSHI Menjadi Organisasi Kurash di Indonesia
Di Indonesia, pembinaan dan pengembangan olahraga kurash berada di bawah Federasi Kurash Indonesia atau FERKUSHI.
Organisasi ini bertanggung jawab mengoordinasikan kegiatan, pembinaan, serta pengembangan cabang olahraga tersebut di tingkat nasional.
FERKUSHI didirikan pada 15 Juni 2016 dengan nama awal Pengurus Besar Kurash Indonesia.
Pada 2019, nama organisasi tersebut berubah menjadi Federasi Kurash Indonesia.
Organisasi ini kemudian tercatat sebagai anggota Komite Olahraga Nasional Indonesia dan Komite Olimpiade Indonesia pada tahun yang sama.
Pengembangan kurash di Indonesia memerlukan pembinaan berjenjang, pelatih yang memahami teknik, wasit yang menguasai regulasi, serta kompetisi yang memberi kesempatan kepada atlet untuk meningkatkan kemampuan.
Dengan karakter pertandingan yang berfokus pada bantingan berdiri dan aturan yang berbeda dari cabang bela diri lainnya, kurash menjadi salah satu olahraga yang dapat dipelajari oleh masyarakat sekaligus dikembangkan melalui pembinaan atlet yang terstruktur.
Informasi mengenai kegiatan, kompetisi, dan pembinaan kurash di daerah dapat diperoleh melalui pengurus FERKUSHI setempat serta kanal resmi organisasi.***
Penulis : Soni Tarsoni
Editor : Soni Tarsoni

















Komentar