WARTAGARUT.COM – Institut Teknologi Bandung (ITB) melaksanakan program pengabdian masyarakat di Tarogong, Garut, pada April–November 2025 dengan fokus pada penerapan teknologi pakan suplemen dan energi terbarukan untuk meningkatkan efisiensi budidaya nila hitam menggunakan sistem bioflok.
Program ini dipimpin Dr. Eng. Nugraha dari Fakultas Teknologi Industri (FTI) ITB bekerja sama dengan Kopontren Bina Hasanah Al-Musaddadiyah.
Dr. Eng. Nugraha mengungkapkan bahwa kegiatan ini dilatarbelakangi tantangan pelaku budidaya ikan air tawar di Garut, terutama tingginya biaya pakan dan beban listrik dalam operasional bioflok.
Melalui inovasi pakan suplemen berbasis prebiotik–probiotik dan pemasangan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) berkapasitas 1 kWp,
“Kami dari ITB menawarkan solusi untuk menekan biaya produksi sekaligus meningkatkan kualitas ikan,”ungkapnya melauli rilis pada Jumat, 28 november 2025.
Ia menerangkan bahwa Eisiensi energi dicapai melalui PLTS yang dipasang untuk memenuhi kebutuhan listrik aerasi, pencahayaan, serta CCTV.
“PLTS yang kami pasang disesuaikan dengan daya listrik operasional kolam bioflok. Total kapasitasnya 1 kWp,” jelas Dr. Eng. Nugraha.
Pihaknya menegaskan komitmen ITB untuk terus menjangkau masyarakat melalui program pemberdayaan yang berkelanjutan.
“Kami berharap kolaborasi dengan Kopontren Bina Hasanah dapat berlanjut meskipun pendampingan resmi telah selesai,” ujarnya.

Dr. Eng. Muhammad Iqbal dari tim pengabdian masyarakat ITB, menambahkan bahwa penggunaan pakan suplemen pada riset sebelumnya terbukti meningkatkan survival rate (SR) dan menurunkan feed conversion ratio (FCR) secara signifikan.
“Dengan demikian, pelaku budidaya bioflok punya potensi meraih keuntungan lebih besar,” ujarnya.
Ia menegaskan, Hasil uji laboratorium menunjukkan ikan nila hitam bioflok yang diberi pakan suplemen memiliki kadar energi, protein, Omega-3, dan Omega-6 lebih tinggi dibandingkan ikan dari kolam tanah maupun Keramba Jaring Apung (KJA).
“Kualitas gizi ikan nila hitam bioflok mulai dari energi, protein, hingga Omega 3 dan Omega 6 terbukti lebih tinggi dibandingkan ikan dari kolam tanah maupun KJA.,” ujar Dr. Eng. Muhammad Iqbal.
Ketua Kopontren Bina Hasanah, Hj. Atik Mardiati, merasakan langsung manfaat penghematan tersebut.
“Penggunaan pakan suplemen dan bantuan PLTS ini tepat sasaran. Mudah-mudahan bisa menjadi percontohan untuk budidaya air tawar di daerah lain,” tuturnya.

Sebagai bagian dari perayaan 50 tahun Yayasan Al-Musaddadiyah Garut, Kopontren Bina Hasanah juga menggelar lomba memasak berbahan utama ikan nila hitam bioflok.
Kegiatan tersebut didukung Dinas Perikanan dan Peternakan Kabupaten Garut serta Puteri Bahari Inteligensia Jawa Barat 2025.
“Lomba ini bentuk edukasi tentang pentingnya makanan bergizi untuk mencegah stunting sekaligus upaya pemberdayaan ekonomi,” ujar Hj. Atik Mardiati.***
Penulis : Soni Tarsoni

















