WARTAGARUT.COM – Yayasan Dharma Husada Insani Garut (YDHIG) bersama Institut Kesehatan Karsa Husada Garut (IKKHG) menekankan pentingnya pembentukan akhlak dan karakter mahasiswa di tengah perkembangan era digital.
Pendidikan mahasiswa dinilai tidak cukup hanya membekali kemampuan teknis sesuai bidang kesehatan, tetapi juga perlu membentuk kepribadian dan perilaku yang baik.
Pesan tersebut mengemuka dalam kegiatan Tabligh Akbar Maulid Nabi dan Mentoring Mahasiswa yang digelar Yayasan Dharma Husada Insani Garut (YDHIG) bersama IKKHG di Basement Kampus 2 IKKHG, Kamis (1/10/2026).
Kegiatan mengangkat tema “Menebar Cinta dan Kepedulian dengan Meneladani Rasulullah” dengan menghadirkan Ustadz Hudzaifah Aslam sebagai penceramah.
Ketua Pembina Yayasan Dharma Husada Insani Garut, Dr. H. Hadiat, M.A., mengatakan kegiatan tersebut merupakan inisiatif mahasiswa, khususnya Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), yang ingin menghadirkan penceramah muda untuk menyampaikan pesan keagamaan dengan pendekatan yang dekat dengan kehidupan anak muda.
Menurut Dr. Hadiat, pendekatan tersebut membuat pesan tentang keteladanan Rasulullah lebih mudah dikaitkan dengan kehidupan mahasiswa saat ini.
“Intinya baguslah inisiatif mahasiswa ini untuk bisa menghadirkan penceramah muda yang bahasanya bisa disesuaikan dengan bahasa anak muda,” ujar Dr. Hadiat.
Isi Artikel
Akhlak Jadi Bekal di Tengah Era Digital
Salah satu pesan yang dinilai relevan oleh Hadiat adalah persoalan perilaku mahasiswa di ruang digital.
Ia menyoroti jejak digital yang dapat merekam berbagai aktivitas seseorang di internet.
Karena itu, mahasiswa dinilai perlu memahami konsekuensi dari perilaku yang dilakukan di ruang digital.
Menurut Dr. Hadiat, pesan tersebut tidak hanya relevan bagi mahasiswa, tetapi juga bagi dosen dan orang tua.
“Jadi kita semua sebagai dosen, sebagai orang tua juga bisa baik mengingatkan itu,” katanya.
Dr. Hadiat menilai pendidikan agama tidak semestinya hanya berhenti pada pelaksanaan ibadah secara personal.
Menurutnya, nilai ibadah juga perlu tercermin melalui kemampuan seseorang menjaga diri dari perbuatan yang buruk.
Ia juga mengibaratkan perjalanan hidup seperti berada di eskalator.
Waktu terus berjalan meskipun seseorang tidak bergerak, sehingga manusia perlu menggunakan waktunya untuk melakukan hal-hal yang baik.
Mahasiswa Tak Cukup Hanya Menguasai Ilmu Kesehatan
Dr. Hadiat menegaskan bahwa perguruan tinggi kesehatan memiliki tanggung jawab membekali mahasiswa dengan kompetensi sesuai bidang masing-masing.
Namun, menurut dia, kemampuan teknis perlu berjalan bersama pembentukan karakter dan kepribadian.
“Kami di yayasan sebagai badan penyelenggara selalu mengingatkan kepada dosen bahwa mereka itu jangan hanya membekali dengan kemampuan teknis di bidang kesehatan,” ujarnya.
Ia menyebut bidang seperti keperawatan, farmasi, dan gizi tetap menjadi kompetensi utama mahasiswa. Namun, pendidikan karakter tidak boleh ditinggalkan.
Dr. Hadiat mencontohkan gerakan bersih dan rapi sebagai salah satu upaya membangun kebiasaan serta kepribadian mahasiswa.
Menurutnya, karakter yang baik dapat menjadi bagian dari bekal mahasiswa ketika nantinya memasuki dunia kerja maupun mengabdi kepada masyarakat.
Karena itu, ia menitipkan pesan kepada dosen dan mahasiswa agar mengutamakan perbuatan baik serta memberikan pelayanan dengan tulus.
Tabligh Akbar Jadi Pengingat Sivitas Kampus
Rektor IKKHG, Dr. Iwan Wahyudi, S.Kep., Ners., M.Kep., mengatakan Tabligh Akbar merupakan bagian dari implementasi visi religius kampus.
Kegiatan tersebut diarahkan untuk menanamkan nilai religius kepada sivitas akademika, terutama mahasiswa, dosen, dan tenaga pendidik di lingkungan IKKHG.
“Bagaimana kita ingin menanamkan nilai-nilai religiusitas di kalangan sivitas, terutama bagi mahasiswa dan juga dosen, pendidik dan sebagainya,” kata Iwan.
Menurutnya, nilai keagamaan diharapkan tidak hanya hadir dalam kegiatan seremonial, tetapi dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari di lingkungan kampus.
Dr. Iwan juga menjelaskan alasan pihaknya mendukung kehadiran penceramah muda dalam kegiatan tersebut.
Pilihan itu merupakan aspirasi dari organisasi mahasiswa dan Lembaga Dakwah Kampus (LDK).
Menurut Dr. Iwan, mahasiswa menilai penceramah dari kalangan muda dapat lebih mudah membangun kedekatan dengan audiens seusianya.
“Mungkin akan lebih baik kalau penceramahnya juga dari kalangan anak muda,” ujarnya.
Pendidikan Karakter Jadi Nilai Tambah Mahasiswa
Dr. Iwan berharap mahasiswa IKKHG tidak hanya memiliki kemampuan intelektual dan kompetensi di bidang kesehatan.
Ia ingin mahasiswa juga memiliki akhlak serta karakter positif yang dapat menjadi nilai tambah ketika mereka memasuki kehidupan profesional dan masyarakat.
“Tidak hanya punya kemampuan secara intelektual, tapi juga mereka memiliki kemampuan dari sisi akhlak, karakter yang positif,” kata Dr. Iwan.
Ia menilai pesan yang disampaikan Ustadz Hudzaifah Aslam juga menekankan pentingnya menjaga ibadah, moral, dan akhlakul karimah dalam kehidupan sehari-hari.
Bagi IKKHG, pendidikan tersebut menjadi bagian dari upaya membentuk lulusan yang tidak hanya kompeten dalam bidang kesehatan, tetapi juga memiliki karakter yang baik dalam menjalankan peran di masyarakat.
Melalui kegiatan Tabligh Akbar dan mentoring mahasiswa, YDHIG dan IKKHG berharap nilai keteladanan Rasulullah dapat terus diingat dan diterapkan oleh sivitas akademika dalam kehidupan sehari-hari.
Penulis : Soni Tarsoni
Editor : Soni Tarsoni

















Komentar