WARTAGARUT.COM – Guru Al-Islam, Kemuhammadiyahan dan Bahasa Arab (ISMUBA) di lingkungan pendidikan Muhammadiyah Kabupaten Garut didorong untuk terus memperbarui pengetahuan, adaptif terhadap perubahan, dan berani mengembangkan metode pembelajaran yang lebih kreatif.
Dorongan tersebut disampaikan Sekretaris Majelis Dikdasmen dan PNF Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Garut, Dr. Fahrurroji Firman Al Fajar, S.Pd.I., M.Pd., dalam kegiatan Pembinaan Guru ISMUBA dan Pembentukan MGMP Guru ISMUBA di Gedung Dakwah Muhammadiyah Garut, Kamis (1/10/2026).
Menurut Dr. Fahrurroji, pembentukan dan penguatan MGMP Guru ISMUBA merupakan langkah lanjutan untuk memperkuat kualitas pendidikan Al-Islam dan Kemuhammadiyahan di lingkungan perguruan Muhammadiyah.
Forum tersebut diharapkan tidak hanya menjadi tempat berkumpulnya guru, tetapi menjadi ruang kolaborasi untuk meningkatkan kualitas pembelajaran dan memperkuat ciri khas pendidikan Muhammadiyah.
“Harapannya adanya kelompok atau forum guru mata pelajaran Al-Islam dan Kemuhammadiyahan ini suatu saat bisa melayani pendidikan yang lebih prima di lingkungan Muhammadiyah Kabupaten Garut,” ujar Dr. Fahrurroji.
Ia mengatakan, guru ISMUBA memiliki posisi strategis karena pembelajaran Al-Islam dan Kemuhammadiyahan menjadi salah satu ciri khas pendidikan Muhammadiyah.
Guru ISMUBA Diminta Terus Upgrade Diri
Dr. Fahrurroji mengingatkan guru ISMUBA agar tidak terjebak pada pola lama dalam menghadapi persoalan pendidikan.
Menurutnya, guru Muhammadiyah harus memiliki semangat berkemajuan dengan terus memperbarui informasi, pengetahuan, dan cara mengajar.
“Guru Al-Islam dan Kemuhammadiyahan adalah guru yang senantiasa meng-upgrade diri,” katanya.
Ia menilai pengalaman memang penting dalam dunia pendidikan.
Namun, pengalaman tidak seharusnya membuat guru berhenti melihat perubahan.
Guru perlu mengambil pelajaran dari pengalaman sekaligus mampu membaca kebutuhan masa depan.
Dengan cara tersebut, guru ISMUBA diharapkan dapat mengambil langkah lebih maju dalam mengembangkan pendidikan Muhammadiyah.
Fahrurroji juga menekankan pentingnya keteladanan.
Menurutnya, guru tidak cukup hanya menyampaikan nasihat atau materi pembelajaran. Sikap, karakter, dan perilaku guru justru menjadi bagian penting yang diamati peserta didik.
“Teladan itu adalah orang lain bisa mengambil kebaikan tanpa mesti kita ucapkan,” ujarnya.
Karena itu, ia meminta guru ISMUBA memperkuat landasan spiritual sekaligus menunjukkan karakter yang dapat menjadi contoh bagi guru dan peserta didik lainnya.
Pembelajaran ISMUBA Didorong Lebih Kreatif
Semangat berkemajuan juga diarahkan pada metode pembelajaran.
Dr. Fahrurroji menyampaikan adanya gagasan untuk memvisualisasikan materi Al-Islam dan Kemuhammadiyahan melalui pendekatan kreatif.
Salah satunya melalui teater yang mengangkat sejarah Muhammadiyah.
Menurutnya, pembelajaran sejarah tidak harus selalu disampaikan melalui cerita atau penjelasan verbal.
Materi dapat dikembangkan dalam bentuk proyek atau portofolio sehingga peserta didik memperoleh pengalaman belajar yang lebih beragam.
Gagasan tersebut juga akan dibawa dalam kegiatan Aksu ISMUBA dan Dikdasmen yang direncanakan berlangsung pada November 2026.
Dr. Fahrurroji menyebut salah satu mata lomba baru akan diarahkan pada visualisasi pembelajaran Al-Islam dan Kemuhammadiyahan melalui teater.
Langkah tersebut diharapkan menjadi salah satu bentuk inovasi agar pembelajaran ISMUBA lebih menarik sekaligus tetap mempertahankan substansi materi.
MGMP Diharapkan Memperkuat Kolaborasi Guru
Dr. Fahrurroji mengatakan guru ISMUBA juga perlu berkolaborasi dengan forum guru Muhammadiyah untuk meningkatkan kualitas pendidikan.
Pembentukan MGMP diharapkan dapat menjadi wadah untuk saling bertukar pengalaman, mengembangkan metode pembelajaran, dan memperkuat kualitas Al-Islam dan Kemuhammadiyahan di sekolah-sekolah Muhammadiyah Kabupaten Garut.
Dengan adanya forum tersebut, pengembangan pendidikan tidak hanya bergantung pada kemampuan masing-masing guru, tetapi dapat dilakukan secara bersama-sama.
Majelis Dikdasmen Singgung Hak Profesional Guru
Dalam arahannya, Dr. Fahrurroji juga menyinggung persoalan profesionalisme dan hak guru.
Ia mengakui tugas guru ISMUBA memiliki tanggung jawab yang besar, termasuk dalam proses pengabdian di lingkungan pendidikan Muhammadiyah.
Menurutnya, Majelis Dikdasmen dan PNF tidak hanya memiliki tugas memastikan kesejahteraan guru, tetapi juga perlu melakukan advokasi agar guru memperoleh hak profesional sesuai perannya.
“Bapak Ibu semuanya adalah guru-guru yang profesional dan layak mendapatkan hak profesinya masing-masing di sekolahnya,” kata Dr. Fahrurroji.
Persoalan tersebut, lanjutnya, akan menjadi salah satu pekerjaan rumah bagi Majelis Dikdasmen dan PNF.
Sekolah Muhammadiyah Juga Menjadi Ruang Kaderisasi
Selain penguatan pembelajaran, Dr. Fahrurroji menilai sekolah Muhammadiyah memiliki fungsi penting dalam proses kaderisasi.
Guru ISMUBA tidak hanya bertugas membantu peserta didik mencapai tujuan pendidikan secara akademik, tetapi juga ikut menanamkan nilai dan membentuk karakter yang menjadi bagian dari kaderisasi Muhammadiyah.
Ia berharap penguatan guru ISMUBA dan pembentukan MGMP dapat menjadi momentum untuk memperkuat kembali peran tersebut.
“Bentuk kumandang azan Al-Islam dan Muhammadiyah itu adalah Al-ISMUBA,” ujar Dr. Fahrurroji menutup arahannya.***
Penulis : Soni Tarsoni
Editor : Soni Tarsoni

















Komentar