WARTAGARUT.COM – Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Garut, Dr. Agus Rahmat Nugraha, M.Ag., mendorong guru Al-Islam, Kemuhammadiyahan dan Bahasa Arab (ISMUBA) tidak hanya berperan sebagai pengajar di kelas, tetapi menjadi penggerak nilai dan wajah Muhammadiyah dalam kehidupan peserta didik.
Pesan tersebut disampaikan Agus dalam kegiatan Pembinaan Guru ISMUBA dan Pembentukan MGMP Guru ISMUBA yang digelar Majelis Dikdasmen dan PNF Muhammadiyah Daerah Garut di Gedung Dakwah Muhammadiyah Garut, Kamis (1/10/2026).
Menurut Dr. Agus Rahmat Nugraha, pendidikan Muhammadiyah sejak awal memiliki karakter yang berupaya mengintegrasikan pendidikan agama dan pendidikan umum.
Karakter tersebut, menurutnya, menjadi salah satu pembeda yang perlu terus dikembangkan melalui ISMUBA.
“Pendidikan holistik yang tidak membedakan pendidikan agama dan pendidikan umum,” ujar Dr. Agus Rahmat Nugraha saat menjelaskan karakter pendidikan Muhammadiyah.
Ia menilai tantangan pendidikan saat ini semakin berkembang sehingga guru ISMUBA perlu memiliki wawasan yang luas.
Tidak hanya memahami materi keagamaan, guru juga dituntut mampu membaca perubahan sosial, perkembangan teknologi, budaya, serta kebutuhan peserta didik.
Dr. Agus Rahmat Nugraha juga menyinggung pengembangan bahasa asing di lingkungan sekolah Muhammadiyah.
Menurut dia, pilihan bahasa asing dapat disesuaikan dengan kebutuhan dan perkembangan masing-masing sekolah, termasuk bahasa seperti Mandarin atau Jepang.
Gagasan tersebut, kata Dr. Agus, menjadi bagian dari upaya agar pendidikan Muhammadiyah tidak berhenti pada pola yang sudah ada, tetapi terus merespons perubahan zaman.
Guru ISMUBA Diminta Menjadi Teladan
Bagi Dr. Agus, posisi guru ISMUBA memiliki tanggung jawab yang lebih luas karena masyarakat tidak hanya melihat mereka ketika berada di ruang kelas.
Guru ISMUBA, menurutnya, melekat dengan citra pendidikan Muhammadiyah sehingga perilaku, wawasan, dan cara berinteraksi dengan masyarakat ikut membawa identitas persyarikatan.
“Bapak Ibu adalah da’inya Muhammadiyah di perguruan Muhammadiyah,” katanya.
Karena itu, ia meminta guru ISMUBA menjaga peran tersebut dengan menjadi teladan sekaligus pemandu nilai bagi peserta didik.
Dr. Agus Rahmat Nugraha menilai tugas guru tidak selesai ketika jam pelajaran berakhir.
Hubungan guru dengan siswa juga perlu dibangun melalui pendampingan dan interaksi yang sehat di luar kelas.
Ia mencontohkan model pendidikan yang memberi ruang bagi guru untuk hadir di tengah siswa ketika waktu istirahat hingga menjelang kepulangan. Menurutnya, kedekatan semacam itu dapat membantu guru memahami persoalan yang dihadapi peserta didik.
“Guru yang inspiratif” menjadi salah satu gambaran yang ia tekankan.
Guru, kata Dr. Agus, bukan hanya dituntut mampu menjelaskan materi, tetapi juga dapat memberikan inspirasi kepada anak didiknya.
Wawasan Guru Harus Terus Diperluas
Dr. Agus Rahmat Nugraha juga menekankan pentingnya pengembangan kapasitas guru ISMUBA.
Ia mendorong guru untuk memperluas wawasan melalui budaya membaca, menulis, belajar, serta mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan.
Menurutnya, guru ISMUBA perlu memiliki kapasitas yang kuat agar mampu menjawab pertanyaan dan persoalan peserta didik yang terus berkembang.
“Guru Ismuba harus luas wawasannya,” tegas Dr. Agus Rahmat Nugraha.
Ia juga mendorong adanya kolaborasi antara Majelis Dikdasmen dan PNF, pengawas, serta unsur pendidik lainnya untuk membantu meningkatkan wawasan dan kompetensi guru ISMUBA.
Pembentukan MGMP Guru ISMUBA diharapkan dapat menjadi salah satu ruang untuk memperkuat proses tersebut.
Pendidikan Tidak Cukup Berhenti di Ruang Kelas
Hal lain yang menjadi perhatian Dr. Agus adalah hubungan antara pembelajaran dengan kehidupan nyata.
Ia menilai pendidikan seharusnya tidak hanya menghasilkan peserta didik yang menguasai materi, tetapi juga memiliki kesiapan mental, spiritual, keterampilan, dan kemampuan menjalani kehidupan di masyarakat.
Menurut Dr. Agus, pendidikan yang terpisah dari kehidupan nyata dapat membuat peserta didik kesulitan ketika harus menghadapi persoalan setelah menyelesaikan pendidikan.
Karena itu, ia mengingatkan pentingnya mengintegrasikan pendidikan, lingkungan keluarga, masyarakat, budaya, dan nilai-nilai keagamaan.
“Pendidikan kita itu menjadi pendidikan yang holistik,” ujarnya.
Agus berharap guru ISMUBA dapat mengambil peran dalam membangun model pendidikan tersebut. Guru tidak hanya menyampaikan materi, tetapi membantu peserta didik memahami bagaimana nilai yang dipelajari dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam kegiatan tersebut, Dr. Agus juga menyampaikan apresiasi kepada para guru ISMUBA yang selama ini menjadi bagian penting dalam pengembangan pendidikan Muhammadiyah di Garut.
Ia berharap guru ISMUBA terus memperkuat kapasitas dan keteladanan sehingga mampu menjadi wajah perguruan Muhammadiyah sekaligus memberikan manfaat lebih luas bagi peserta didik dan masyarakat.***
Penulis : Soni Tarsoni
Editor : Soni Tarsoni

















Komentar