WARTAGARUT.COM – Enam santri terbaik Al Mashduqi International Islamic Boarding School (IIBS) Garut resmi dilepas untuk melanjutkan pendidikan ke Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir, pada Sabtu (6/12/2025).
Pelepasan berlangsung di Auditorium Drs. H. Dede Satibi dan menjadi penanda keberhasilan sistem pendidikan Al Mashduqi dalam mencetak santri berdaya saing global melalui kurikulum resmi Al-Azhar.
Pelepasan Santri Murid Angkatan ke-3 ini bukan sekadar agenda seremonial. Momen tersebut menjadi puncak dari proses pendidikan panjang yang dijalani para santri sejak jenjang menengah, dengan standar akademik dan kedisiplinan tinggi khas Ma’had Al-Azhar.
Tahun 2025 mempertegas konsistensi Al Mashduqi IIBS Garut sebagai lembaga pendidikan Islam bertaraf internasional. Hingga kini, pesantren tersebut telah memberangkatkan tiga angkatan alumni ke Universitas Al-Azhar.
Keunggulan ini ditopang oleh penerapan kurikulum Al-Azhar secara berkesinambungan dari tingkat SMP hingga Madrasah Aliyah.
Melalui skema Ujian Akhir Ma’had Al-Azhar Cairo Mesir (Imtihan Syahadah), santri yang dinyatakan lulus memperoleh Syahadah atau ijazah resmi Al-Azhar.
Dengan dokumen tersebut, para santri berhak melanjutkan studi ke Universitas Al-Azhar tanpa harus mengikuti seleksi tambahan di lembaga lain.
Wakil Direktur I Al Mashduqi Islamic School Garut sekaligus Kepala Madrasah Aliyah, Ikmal Al Hudawi, menyampaikan rasa syukur atas kepercayaan yang diberikan Ma’had Al-Azhar Cairo Mesir kepada Al Mashduqi sebagai satu-satunya cabang resmi Al-Azhar di Jawa Barat.
“Alhamdulillah, sejak 2020 Al Mashduqi IIBS Garut dipercaya sebagai cabang resmi Ma’had Al-Azhar Cairo Mesir. Santri yang berangkat hari ini adalah mereka yang telah melalui seleksi ketat, baik secara akademik maupun pembentukan karakter. Mereka dipersiapkan untuk memikul amanah ilmu, agama, dan umat,” ujar Ikmal.
Ia menegaskan, keberangkatan enam santri tersebut merupakan hasil dari proses panjang yang menuntut konsistensi dan ketahanan diri. Selama masa pendidikan, santri dibiasakan dengan pendalaman kitab berbahasa Arab, halaqah rutin, penguatan qawaid, evaluasi akademik berjenjang, serta pembinaan kemandirian di lingkungan asrama.
Menurut Ikmal, tantangan utama santri bukan hanya pada ujian akademik, tetapi juga kemampuan beradaptasi dengan kehidupan pesantren yang disiplin.
Pola hidup teratur, bangun sebelum fajar, manajemen waktu ketat, serta keterbatasan ruang personal menjadi bagian dari proses pembentukan karakter.
“Dari situ lahir pribadi yang sabar, mandiri, dan bertanggung jawab. Nilai-nilai ini menjadi bekal penting ketika mereka belajar di pusat keilmuan Islam dunia,” katanya.
Adapun enam santri Murid Angkatan ke-3 Al Mashduqi IIBS Garut yang akan melanjutkan studi ke Universitas Al-Azhar Kairo adalah Muhammad Qolbi Adzikri Qurnia, Sandi Fauzan Ichwana, Nafisa Lailytanzila Rofieq, Muraya Mahardika Gautsa, Rangga Ariqah Utomo, dan Sultan Wahid.
Pelepasan ini menjadi awal dari tanggung jawab yang lebih besar bagi para santri, tidak hanya menuntut capaian akademik, tetapi juga menjaga amanah keilmuan di tanah para ulama, sebelum kelak kembali mengabdi untuk umat dan bangsa.***
Penulis : Soni Tarsoni








