PASIRWANGI, GARUT – Tumpukan sampah yang selama ini menjadi pemandangan biasa di pinggir jalan Kampung Mulyasari, kini perlahan mulai sirna.
Di balik perubahan itu, ada sekelompok ibu rumah tangga dari Desa Padaawas dan Barusari yang berani memulai langkah baru.
Mereka adalah peserta program pengabdian masyarakat Fakultas Ekonomi (Fekon) Universitas Garut (Uniga) yang telah berjalan selama sebulan penuh, dari 23 Juli hingga 26 Agustus 2025.
Dipimpin oleh Dr. Wati Susilawati. S.E., M.Si., program bertema “Manajemen Sampah Rumah Tangga: Strategi Hemat dan Sehat Melalui Kebun Tanaman Obat Keluarga” ini bukan hanya sekadar pelatihan, melainkan sebuah gerakan hati.
Tim dosen dan mahasiswa Fekon Uniga menyentuh langsung permasalahan yang selama ini seolah tak berujung, yaitu kurangnya kesadaran akan kebersihan lingkungan.
Selama sebulan penuh, mereka hadir, mendampingi, dan membimbing para ibu, mengubah kebiasaan lama menjadi praktik baru yang penuh harapan.
Pada hari pertama, Rabu, 23 Juli 2025, Risma Muhamad Ramdani, S.E., M.Si., dosen Fekon Uniga, memberikan materi.
Ia tidak hanya bicara tentang cara memilah sampah, tetapi juga menyentuh hati para ibu dengan pesan penting: kebersihan adalah warisan terbaik untuk anak cucu.
“Mendidik anak-anak kita peduli kebersihan adalah investasi untuk masa depan mereka,” katanya, menanamkan benih kesadaran yang lebih dalam.
Merajut Kemandirian dengan Teknologi Sederhana
Harapan itu semakin nyata ketika dua mahasiswa, Mohammat Fajar dan Nana Supriatna, memperkenalkan teknologi komposer tumpuk.
Teknologi sederhana ini langsung menyentuh hati para peserta.
Mereka diajarkan cara mengubah sampah organik yang tadinya tidak berguna menjadi pupuk kompos yang berharga.
Sebuah keajaiban kecil yang bisa dilakukan sendiri di rumah.
Bagian menarik lainnya adalah materi yang disampaikan oleh Deri Alan, S.E., M.M., dosen Fekon Uniga, tentang manfaat tanaman obat keluarga.
Ia menjelaskan berbagai khasiat dari tanaman herbal yang mudah ditanam di pekarangan. Sebagai dukungan, tim membagikan 250 bibit tanaman obat kepada warga.
Beberapa di antaranya adalah Kumis Kucing (Orthosiphon stamineus) yang bermanfaat untuk kesehatan ginjal, Sambiloto (Andrographis paniculata) yang dikenal sebagai antibakteri, dan Pegagan Air (Centella asiatica) yang baik untuk daya ingat.
Selain itu, sebagai pelengkap semangat baru ini, tim juga menyerahkan seperangkat alat kebersihan esensial, seperti sapu, pengki, dan tempat sampah agar warga dapat segera memulai aksi nyata di lingkungan mereka.
Ini adalah langkah kecil yang besar, simbol dari komitmen tim untuk mendukung setiap langkah warga menuju kebersihan.
Setelah pembagian alat-alat ini, warga berkomitmen untuk mengadakan kerja bakti Jumat bersih setiap minggu, sebuah inisiatif baru yang disambut baik oleh seluruh warga.
Puncak Kebahagiaan dan Spirit Gotong Royong
Puncak dari perjuangan satu bulan ini adalah perayaan Hari Kemerdekaan pada 17 Agustus 2025.
Warga Kampung Mulyasari menunjukkan semangat luar biasa dengan antusias berpartisipasi dalam lomba kebersihan lingkungan dan pekarangan.
Tawa riang dan semangat gotong royong membanjiri kampung, membuktikan bahwa perubahan sudah terjadi dari dalam.
Rangkaian acara ditutup dengan sebuah momen sakral: penyerahan 55 buku Al-Qur’an kepada DKM Masjid Baiturrahman.
Sebuah simbol bahwa perubahan sejati tidak hanya terjadi pada lingkungan fisik, tetapi juga pada batin setiap individu.
Pengabdian ini menjadi bukti nyata bahwa kepedulian yang tulus dapat menumbuhkan harapan, mengubah kebiasaan, dan merajut kembali tali persaudaraan.
Penulis:
Risma Muhamad Ramdani, S.E., M.Si;
Dr. Wati Susilawati, S.E., M.Si;
Deri Alan Kurniawan, S.E., M.M.
(Dosen Fakultas Ekonomi Uni
versita Garut)
















