WARTAGARUT.COM – Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) resmi merilis hasil Tes Kemampuan Akademik (TKA) 2026 untuk jenjang SD dan SMP.
Data ini menjadi sorotan karena nilai TKA dapat digunakan sebagai salah satu pertimbangan dalam Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) 2026 jalur prestasi.
Di tengah publikasi hasil TKA tersebut, mata pelajaran Matematika kembali menjadi perhatian. Rata-rata nilai nasional pada jenjang SD maupun SMP masih berada di kisaran angka 40-an, menunjukkan bahwa kemampuan numerasi peserta didik Indonesia masih menjadi tantangan besar yang harus segera ditangani.
Data yang dirilis Kemendikdasmen memperlihatkan adanya perbedaan capaian nilai antardaerah. Meski bukan daftar peringkat resmi karena penyusunannya mengikuti kode provinsi dalam sistem pendataan TKA, angka-angka tersebut memberikan gambaran mengenai kondisi kemampuan matematika siswa di berbagai wilayah Indonesia.
DIY Catat Nilai TKA Matematika Tertinggi
Dari data yang diumumkan, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menjadi daerah dengan rerata nilai Matematika tertinggi baik pada jenjang SD maupun SMP.
Untuk jenjang SD, rerata nilai Matematika DIY mencapai 61,64, jauh di atas sebagian besar provinsi lainnya. Sementara pada jenjang SMP, DIY mencatat angka 51,65, menjadi satu-satunya daerah yang berhasil menembus rata-rata di atas 50 poin.
Posisi berikutnya ditempati DKI Jakarta dengan rerata nilai 51,38 untuk SD dan 45,31 untuk SMP. Sementara Kepulauan Riau mencatat hasil cukup kompetitif dengan nilai SD 48,78 dan SMP 43,44.
Capaian tersebut menunjukkan adanya kesenjangan kemampuan numerasi antarwilayah yang dapat menjadi bahan evaluasi dalam penyusunan kebijakan pendidikan nasional.
Jawa Barat dan Jawa Timur Masih di Bawah 50 Poin
Jawa Barat dan Jawa Timur Masih di Bawah 50 Poin
Sebagai dua provinsi dengan jumlah siswa terbesar di Indonesia, capaian Jawa Barat dan Jawa Timur turut menjadi perhatian publik.
Jawa Barat mencatat rerata nilai Matematika TKA sebesar 43,47 untuk SD dan 39,87 untuk SMP.
Sementara Jawa Timur memperoleh nilai rata-rata 46,77 pada jenjang SD dan 41,36 pada jenjang SMP.
Hasil tersebut menunjukkan bahwa kedua provinsi besar tersebut masih menghadapi tantangan dalam meningkatkan kemampuan numerasi siswa, khususnya pada tingkat SMP yang belum mampu menembus rata-rata 45 poin.
Kondisi ini juga menegaskan perlunya evaluasi sistem pembelajaran, peningkatan kualitas guru, serta pemerataan akses pendidikan yang lebih optimal agar capaian akademik siswa dapat meningkat secara signifikan.
Numerasi Jadi PR Besar Pendidikan Nasional
Rata-rata nilai Matematika yang masih berada pada kisaran 30 hingga 40 poin di banyak daerah menjadi sinyal bahwa penguatan numerasi harus menjadi fokus utama dunia pendidikan.
Kemampuan numerasi tidak hanya berkaitan dengan pelajaran matematika di sekolah, tetapi juga berhubungan dengan kemampuan berpikir logis, pemecahan masalah, analisis data, hingga kesiapan menghadapi perkembangan teknologi dan dunia kerja di masa depan.
Data TKA 2026 ini diperkirakan akan menjadi salah satu bahan evaluasi penting bagi pemerintah dalam merumuskan strategi peningkatan kualitas pembelajaran matematika di seluruh Indonesia.
Selain digunakan sebagai instrumen pemetaan kemampuan akademik, nilai TKA juga memiliki peran strategis karena dapat dimanfaatkan peserta didik untuk mengikuti seleksi SPMB 2026 jalur prestasi.
Daftar Nilai TKA Matematika SD dan SMP Sejumlah Provinsi
Beberapa daerah dengan capaian tertinggi:
- DIY: SD 61,64 | SMP 51,65
- DKI Jakarta: SD 51,38 | SMP 45,31
- Kepulauan Riau: SD 48,78 | SMP 43,44
- Jawa Tengah: SD 47,05 | SMP 42,65
- Jawa Timur: SD 46,77 | SMP 41,36
Sementara sejumlah daerah dengan rerata nilai terendah pada jenjang SMP antara lain:
- Papua Pegunungan: 34,46
- Papua Selatan: 35,44
- Maluku Utara: 36,15
- Nusa Tenggara Timur: 36,17
- Papua Barat: 36,32
Perbedaan capaian tersebut memperlihatkan tantangan pemerataan kualitas pendidikan yang masih perlu mendapat perhatian serius.
Dengan hasil TKA Matematika 2026 yang telah diumumkan, pemerintah kini menghadapi tantangan untuk memperkuat literasi numerasi agar kualitas pendidikan nasional semakin merata dan kompetitif di masa mendatang.
Penulis : Soni Tarsoni

















