WARTAGARUT.COM – Bupati Garut, Abdusy Syakur Amin, menegaskan Gebyar Pesona Budaya Garut (GPBG) 2026 tidak boleh berhenti sebagai tontonan tahunan, tetapi harus menjadi katalis nyata perputaran ekonomi masyarakat, terutama bagi pedagang kecil, UMKM, dan pelaku seni lokal di Kabupaten Garut.
Pesan itu mengemuka di tengah kemeriahan Helaran Karnaval GPBG, di Jalan Ahmad Yani, Kecamatan Garut Kota, Sabtu (25/4/2026).
Helaran Karnaval GPBG sebagai rangkaian puncak peringatan Hari Ulang Tahun Garut yang semula dijadwalkan Februari namun bergeser karena Ramadan.
Mengusung tema “Garut Gumiwang Tanjeur Dangiang”, GPBG tahun ini menampilkan wajah Garut yang ingin bersinar, tumbuh kokoh, sekaligus menegaskan identitas budaya yang tetap luhur.
Fragmen sejarah perpindahan ibu kota dari Limbangan ke Garut Kota, penampilan Raja Dogar, Surak Ibra, hingga iring-iringan komunitas budaya dari lima provinsi menjadi magnet ribuan warga yang memadati pusat kota.
Syakur menyebut kesuksesan agenda tersebut merupakan hasil kerja kolektif antara pemerintah daerah, pemerintah provinsi, kementerian, panitia pelaksana, dan para pelaku budaya.
Namun lebih dari itu, ia ingin festival sebesar GPBG memberi efek ekonomi yang dapat dirasakan masyarakat bawah.
“Yang kita harapkan bukan hanya acaranya meriah, tetapi ada manfaat ekonomi yang hidup di masyarakat. Event seperti ini harus menjadi ruang bergeraknya pedagang, UMKM, dan seluruh pelaku ekonomi kecil,” ujar Syakur Amin.
Harapan serupa ditegaskan Putri Karlina yang mengawal langsung persiapan GPBG hingga koordinasi dengan kementerian.
Menurut Putri, kehadiran ribuan pengunjung harus dibaca sebagai peluang belanja rakyat yang mampu menciptakan perputaran uang dalam jumlah besar di tingkat pedagang kaki lima, gerobakan, hingga pelaku usaha mikro.
Ia menggambarkan, jika puluhan ribu pengunjung membelanjakan nominal kecil saja, maka dampaknya sudah sangat terasa bagi ekonomi lokal.
“Kalau pengunjung datang dan berbelanja, pedagang kecil ikut tersenyum. Itu yang kami kejar, supaya event budaya ini punya dampak nyata, bukan hanya panggung hiburan,” kata Putri.
Di sisi lain, capaian paling bergengsi tahun ini adalah masuknya GPBG ke dalam 125 Karisma Event Nusantara 2026.
Sekretaris Deputi Bidang Pemasaran Kementerian Pariwisata RI, Nova Arisne, menyebut Garut layak berbangga karena memiliki dua event yang lolos kurasi nasional.
Menurut Nova, terpilihnya GPBG membuktikan Garut memiliki kekuatan budaya, kreativitas, dan kearifan lokal yang sangat kompetitif untuk menarik wisatawan.
Ia menambahkan, KEN bukan hanya panggung promosi wisata, tetapi instrumen untuk membuka lapangan kerja, menggerakkan ekonomi lokal, dan menjaga warisan budaya tetap hidup.
“Kami berharap GPBG terus ditingkatkan dari sisi kurasi program, tata kelola, dan pengukuran dampaknya agar berkembang menjadi festival budaya berkelas dunia,” tutur Nova.
Rangkaian GPBG kemudian berlanjut hingga malam hari dengan suguhan Tari Dangiang Garut, fashion show produk kulit Dekranasda, musik etnik, hingga pertunjukan Wayang Goreng Bobodoran, menandai bahwa helaran budaya ini kini bukan sekadar pesta seni, tetapi sedang diarahkan menjadi panggung besar kebangkitan ekonomi kreatif Garut.***
Penulis : Soni Tarsoni

















