WARTAGARUT.COM – Kecamatan Tarogong Kidul meluncurkan program perdana Silaturahmi dan Sosialisasi Lomba Kinerja RW Forkopimcam Tingkat Kelurahan Tahun 2026 di UPT Balai Diklat Kependudukan dan Keluarga Berencana Garut, Jalan RSU dr. Slamet No.06, Kecamatan Tarogong Kidul, Kabupaten Garut, Rabu (30/4/2026).
Program ini digagas untuk mendorong peningkatan motivasi, pelayanan, serta kedekatan pemerintahan tingkat RW dengan masyarakat.
Wakil Bupati Garut, Putri Karlina, mengatakan lomba antar RW tersebut menjadi salah satu cara untuk memacu semangat kerja para ketua RW agar lebih aktif menjalankan fungsi pelayanan publik di wilayahnya masing-masing.
“Jadi ini lomba antar RW untuk peningkatan motivasi kinerja RW se-Kecamatan Tarogong Kidul. Semoga ini menjadi salah satu cara supaya para RW ini lebih semangat bekerja,” ujar Putri Karlina.
Menurutnya, kegiatan tersebut merupakan inisiasi langsung dari Pemerintah Kecamatan Tarogong Kidul dan belum menjadi program resmi tingkat kabupaten.
Karena masih tahap uji coba, evaluasi pelaksanaan tahun ini akan menjadi bahan pertimbangan untuk pengembangan ke depan.
Ia menilai, masyarakat saat ini membutuhkan kedekatan dengan pemerintah dari level yang paling bawah.
Dengan demikian, setiap masukan dan persoalan warga dapat lebih cepat direspons meski tidak semuanya bisa selesai dalam waktu singkat.
“Inginnya sekarang masyarakat itu lebih dekat dengan pemerintahan yang paling dekat. Sehingga masyarakat merasa bahwa pemerintah itu hadir bahkan dari level yang paling bawah,” katanya.
Sementara itu, Camat Tarogong Kidul, Ahmad Mawardi, menjelaskan gagasan lomba kinerja RW sebenarnya berawal dari uji coba yang dilakukan sepanjang Oktober hingga Desember 2025 tanpa dukungan anggaran.
Dalam uji coba tersebut, kata Ahmad Mawardi, pihak kecamatan mengimplementasikan tiga indikator utama, yakni aktivasi sistem keamanan lingkungan, monitoring jam malam anak sekolah, dan pengelolaan sampah.
Namun, dari total 163 RW yang ada di Kecamatan Tarogong Kidul, hanya sekitar 50 RW yang berpartisipasi aktif.
“Nah, di situ juga kami belajar. Karena memang tidak ada anggarannya, tidak ada targetnya, walaupun kita iming-imingi hadiah total Rp10 juta pada saat itu, tetap saja partisipasinya kurang,” ujarnya.
Belajar dari kondisi itu, pada tahun 2026 pihak kecamatan mulai mengalokasikan anggaran sekitar Rp30 juta untuk mendukung sosialisasi, penguatan teknologi informasi, hingga fasilitasi pelaksanaan program di lapangan.
Ahmad Mawardi menuturkan, lomba ini tidak sekadar mencari pemenang, tetapi menjadi instrumen untuk membenahi kelembagaan RW, mengukur aktivitas pengurus, memperkuat sinergi dengan kader posyandu, tokoh masyarakat, tokoh agama, hingga menggali potensi lokal yang ada di lingkungan masing-masing.
Ia menambahkan, ke depan RW juga didorong mampu memetakan kondisi riil masyarakat, mulai dari warga miskin, anak yatim, warga sakit, pendatang baru, hingga persoalan sosial yang selama ini sering baru diketahui setelah viral di media sosial.
“Kita tidak berencana mencari juara, kita ingin bahwa semuanya bergerak dengan kondisi yang ada, bergerak dari mulai penataan kelembagaan sampai penggalian potensi masyarakat termasuk menangani masalah-masalah di masyarakat,” pungkasnya.***
Penulis : Soni Tarsoni

















