WARTAGARUT.COM – Anggota Komisi V DPRD Provinsi Jawa Barat dari Fraksi PKB, H. Aceng Malki atau yang akrab disapa Ceng Malki, memberikan tanggapan atas kunjungan kerja strategis delegasi IPB University dan Australia-Indonesia Centre (AIC) ke Pemerintah Kabupaten Garut yang membahas pengembangan industri kulit agar mampu menembus pasar global, Kamis (5/3/2026).
Menurut Ceng Malki, kolaborasi antara pemerintah daerah, perguruan tinggi, dan lembaga internasional merupakan langkah positif dalam mendorong transformasi industri unggulan daerah, khususnya sektor kulit yang selama ini menjadi identitas Garut.
“Kami pada prinsipnya sangat mendukung. Ini peluang besar bagi Garut untuk naik kelas ke pasar global. Namun, tentu harus dibarengi kesiapan teknis di lapangan,” ujar Ceng Malki.
Ia menilai, penguatan sektor industri kulit tidak cukup hanya pada konsep kerja sama, tetapi harus menyentuh aspek mendasar seperti peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM), standardisasi produk, hingga kesiapan rantai pasok.
Ceng Malki menegaskan, para pelaku industri lokal, khususnya UMKM, harus menjadi aktor utama dalam proses transformasi tersebut.
Ia mengingatkan agar kolaborasi ini tidak hanya berhenti pada tataran wacana atau proyek jangka pendek.
“Yang paling penting adalah bagaimana pelaku usaha lokal bisa dilibatkan secara aktif, diberikan pendampingan, dan difasilitasi agar mampu memenuhi standar global,” katanya.
Sebelumnya, Bupati Garut Abdusy Syakur Amin menerima kunjungan delegasi IPB University dan AIC di Ruang Pamengkang, Kecamatan Garut Kota.
Pertemuan tersebut membahas konsep “Integrated Industrial Development” dengan fokus pada pengembangan industri kulit.
Bupati menyatakan optimisme bahwa kerja sama ini dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui penguatan sektor industri lokal.
Sementara itu, pihak IPB dan AIC berencana melakukan identifikasi masalah serta menyusun strategi implementasi melalui workshop bersama berbagai pemangku kepentingan.
Menanggapi hal tersebut, Ceng Malki mendorong agar pemerintah daerah memastikan keberlanjutan program, termasuk dalam hal regulasi, pembiayaan, serta akses pasar bagi produk industri kulit Garut.
Ia juga menyoroti pentingnya penguatan branding dan pemasaran agar produk kulit Garut memiliki daya saing di tingkat internasional.
“Kalau ingin masuk pasar global, bukan hanya kualitas produk yang harus ditingkatkan, tetapi juga branding, packaging, dan strategi pemasaran. Ini harus jadi perhatian bersama,” tegasnya.
Lebih lanjut, ia berharap kolaborasi ini mampu menjadi momentum kebangkitan industri kulit Garut yang selama ini dikenal memiliki kualitas tinggi, namun belum sepenuhnya terintegrasi dalam sistem industri modern.
“Peluangnya sangat besar, tinggal bagaimana kita menyiapkan semuanya secara matang agar manfaatnya benar-benar dirasakan masyarakat,” pungkasnya.***
Penulis : Soni Tarsoni

















