WARTAGARUT.COM – Bupati Garut Abdusy Syakur Amin mengapresiasi langkah Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah RI dalam merevitalisasi satuan pendidikan di Kabupaten Garut, yang diresmikan langsung oleh Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah RI Prof. Dr. Abdul Mu’ti, M.Ed. di Lapangan SD Muhammadiyah 4 Garut, Kamis (8/1/2026).
Program tersebut dinilai menjadi solusi konkret atas tantangan layanan pendidikan di daerah dengan wilayah terluas dan jumlah penduduk besar seperti Garut.
Dalam sambutannya, Abdusy Syakur Amin menyampaikan bahwa perhatian pemerintah pusat terhadap Garut sangat signifikan, terutama dalam pembangunan infrastruktur pendidikan.
“Saya mengapresiasi Mendikdasmen RI yang menunjukkan komitmen kuat terhadap pembangunan pendidikan di Kabupaten Garut. Total anggaran revitalisasi dari kementerian mencapai sekitar Rp 134 miliar, sementara kemampuan APBD Garut sendiri hanya sekitar Rp78 miliar,” ujar Abdusy.
Ia menjelaskan, Kabupaten Garut merupakan wilayah terluas ketiga di Jawa Barat dengan luas sekitar 3.100 kilometer persegi, jauh lebih luas dibandingkan Kota Bandung.
Kondisi geografis dan demografis tersebut membuat pelayanan dasar, termasuk pendidikan, kesehatan, dan ekonomi, menghadapi tantangan yang tidak ringan.
“Daerah yang luas dan penduduknya banyak pasti memiliki kendala pelayanan dasar. Termasuk pendidikan. Rata-rata lama sekolah kita masih jauh di bawah harapan, tapi itu justru menjadi pemicu semangat kami untuk terus bergerak,” katanya.
Abdusy menegaskan, kehadiran langsung Mendikdasmen RI di Garut memberikan dorongan moral dan energi baru bagi pemerintah daerah untuk terus memperbaiki kualitas pendidikan.
Ia juga menyampaikan terima kasih kepada Persyarikatan Muhammadiyah yang selama ini berperan besar dalam menyediakan akses pendidikan, bahkan di wilayah-wilayah terpencil.
“Saya berterima kasih kepada Muhammadiyah yang sudah mendirikan sekolah-sekolah di daerah-daerah jauh dan terpencil. Ketika pemerintah belum hadir, Muhammadiyah sudah lebih dulu hadir. Saya tidak bisa membayangkan kalau sekolah-sekolah itu tidak ada, anak-anak kita mau sekolah ke mana,” ujarnya.
Menurut Bupati Syakur Amin, pendidikan merupakan kunci utama dalam memutus mata rantai berbagai persoalan sosial. Ia menyoroti tingginya angka putus sekolah yang masih menjadi pekerjaan rumah di Garut.
“Di Garut, SD masih relatif aman. Tapi saat masuk SMP, angka putus sekolah turun sekitar 20 persen, dan di SMA turun lagi sampai 40 persen. Ini yang menjadi sumber banyak masalah,” kata dia.
Ia mencontohkan dampak sosial yang muncul ketika anak, terutama perempuan, tidak melanjutkan sekolah.
“Kalau anak perempuan SMP tidak sekolah, sering dianggap beban, lalu dinikahkan muda. Akibatnya muncul masalah lain seperti stunting, kurang gizi, angka kematian ibu dan anak, bahkan meningkatnya jumlah janda. Karena menikah muda sering kali hanya memindahkan beban ke orang lain yang belum tentu lebih siap,” tuturnya.
Untuk mengatasi persoalan tersebut, Abdusy mengaku telah mengerahkan seluruh unsur pemerintahan hingga tingkat kecamatan dan desa.
“Saya pernah kumpulkan kapolsek, danramil, dan camat. Saya minta kejar anak-anak itu supaya sekolah. Kalau tidak sekolah, cari alasannya. Kalau tidak punya biaya, carikan PIP. Kalau tidak punya baju, belikan. Pokoknya anak harus sekolah,” tegasnya.
Ia bahkan mengaku terinspirasi dari strategi penanganan vaksinasi saat pandemi Covid-19.
“Waktu Covid, kita kesulitan mendata warga untuk vaksin. Tapi setelah melibatkan TNI dan Polri, bisa jalan. Pola itu kami terapkan juga untuk pendidikan, minimal anak-anak harus sekolah sampai SMP,” ujarnya.
Selain akses, Abdusy menekankan pentingnya peningkatan kualitas pendidikan secara berkelanjutan. Ia mengakui bahwa mutu pendidikan di Garut masih membutuhkan perhatian serius.
“Kualitas pendidikan kita masih belum sesuai harapan. Karena itu, kami dorong berbagai program kompetisi seperti cerdas cermat antar SD dan SMP, baik negeri maupun swasta,” katanya.
Menurutnya, kompetisi tersebut bukan sekadar lomba, melainkan sarana membangun budaya belajar, sains, literasi, dan numerasi.
“Ada dua fokus. Cerdas cermat untuk sains dan literasi, serta cepat-cepat untuk melatih kemampuan numerasi dan kalkulasi. Kami siapkan hadiah besar agar anak-anak termotivasi dan sekolah ikut bergerak,” ucap Abdusy.
Ia juga mendorong penguatan life skill melalui kegiatan kepramukaan.
“Saya titip Pramuka untuk diperbanyak kegiatannya. Anak-anak jangan hanya pintar pencet tombol. Mereka harus belajar tali-temali, P3K, memasak, dan keterampilan hidup lainnya. Itu cocoknya lewat Pramuka,” katanya.
Abdusy menambahkan, pemerintah daerah berkomitmen meningkatkan dukungan anggaran untuk kegiatan Pramuka, termasuk memperbanyak Jambore minimal dua kali dalam setahun.
“Anak-anak harus dibiasakan bersaing secara sehat. Tidak melihat asal-usul mereka dari mana. Ayo maju. Saya justru sering lihat anak-anak dari daerah itu daya saingnya kuat, tidak manja, tidak cengeng,” ujarnya.
Selain peserta didik, kualitas guru juga menjadi perhatian utama. Abdusy mengakui bahwa penghargaan terhadap profesi guru masih belum ideal.
“Dulu sampai sekarang, penghargaan terhadap guru masih kurang. Akibatnya tidak banyak orang yang benar-benar tertarik. Karena itu, kami melakukan standarisasi dan uji kompetensi guru,” kata dia.
Ia menyebutkan, Pemkab Garut telah memfasilitasi uji kompetensi bahasa bagi sekitar 1.700 guru bekerja sama dengan Balai Bahasa melalui Uji Kemahiran Berbahasa Indonesia (UKBI).
“Kalau mau akselerasi pendidikan, gurunya harus di-upgrade. Ini bagian dari membangun ekosistem pendidikan yang mendorong anak-anak punya fighting spirit dan daya saing,” tegasnya.
Menutup sambutannya, Abdusy kembali menyampaikan apresiasi kepada Mendikdasmen RI dan Persyarikatan Muhammadiyah atas kontribusi nyata dalam pembangunan pendidikan di Garut.
“Kalau tidak ada Pak Menteri, saya bisa bingung. Sekolah rusak, MCK rusak, daya kami terbatas. Alhamdulillah Pak Menteri sudah menunjukkan kecintaannya pada Garut. Terima kasih juga kepada Muhammadiyah yang terus berkolaborasi. Kita sudah buktikan banyak alumni Muhammadiyah mampu bersaing,” pungkasnya.
Penulis : Soni Tarsoni








