WARTAGARUT.COM – Program Studi D3 Kebidanan STIKes Karsa Husada Garut melaksanakan kegiatan pengabdian masyarakat bertajuk “Penguatan Literasi Gender Anak Usia Dini melalui Media Edukasi Visual: Kolaborasi PAUD dan Masyarakat”.
Kegiatan ini merupakan bagian dari Skema Pemberdayaan Berbasis Masyarakat dengan ruang lingkup pemberdayaan kemitraan bersama PAUD As-Syamsi dan PAUD Muslim Cendikia di Kelurahan Cimuncang, Kecamatan Garut Kota.
Ketua Tim Pengabdian, Esa Risi Suazini, S.Keb., MKM., mengatakan kegiatan ini dilaksanakan selama enam bulan, mulai Juni hingga Desember 2025.
Menurutnya, tahap awal berupa sosialisasi dan koordinasi telah dilakukan bersama yayasan, kepala sekolah, serta guru mitra sasar.
“Alhamdulillah kegiatan sosialisasi kepada kepala sekolah dan koordinasi bersama mitra sasar sudah terlaksana,”ujar Esa, Kamis (2/10/2025).
“Selanjutnya, akan dilaksanakan pelatihan literasi gender bagi guru, orang tua, dan kader kesehatan, kemudian uji coba media, pendampingan, hingga evaluasi serta diseminasi hasil,” tambahnya
Esa mengungkapkan bahwa rangkaian kegiatan meliputi persiapan dan sosialisasi pada Juni–Agustus 2025, koordinasi pada 29 September 2025, pelatihan literasi gender pada 29 Oktober 2025, uji coba media pada Oktober–November 2025, pendampingan pada 20 November 2025, serta evaluasi pada 20 Desember 2025.
Hasil dari kegiatan ini, kata Ia, di antaranya berupa modul pembelajaran, buku cerita bergambar, flash card, poster, lembar kerja anak, dan video edukasi singkat.
Selain itu, Pihaknya menargetkan melalui program ini, terbentuknya pembelajaran di PAUD yang ramah anak dan peka gender serta lahirnya komunitas orang tua peka gender.
Tim pengabdian ini terdiri dari dosen dan mahasiswa, yaitu Esa Risi Suazini sebagai ketua, Bilqis Ar-Rohman, MTr.Keb., dan Fitri Hanriyani, M.Keb., M.Pd. sebagai anggota dosen, serta dua mahasiswa, Azfasani Cindika dan Neng Alma.
Sementara mitra sasar terdiri atas sembilan guru, sembilan perwakilan orang tua, dan tiga kader kesehatan.
Esa menambahkan, penguatan literasi gender sejak dini menjadi kunci dalam membentuk kesadaran anak.
“Kesetaraan bukan berarti sama, melainkan seimbang. Anak-anak harus belajar menghargai perbedaan peran agar tumbuh tanpa diskriminasi, tanpa beban ganda, dan bisa saling bekerja sama,” jelasnya.
Kegiatan ini mendapat dukungan pendanaan dari Direktorat Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat, Ditjen Riset dan Pengembangan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi tahun 2025.
Dengan adanya program Penguatan Literasi Gender Anak Usia Dini, diharapkan sekolah, keluarga, dan masyarakat dapat memahami makna gender dalam kehidupan sehari-hari sehingga tercipta lingkungan yang lebih sehat, nyaman, dan mendukung pembangunan kesehatan masyarakat.***
Penulis : Soni Tarsoni
















