WARTAGARUT.COM – Institut Pendidikan Indonesia (IPI) Garut menerima 921 mahasiswa baru pada Tahun Akademik 2026/2027.
Jika peserta Program Pendidikan Profesi Guru (PPG) Guru Tertentu turut dihitung, jumlah mahasiswa yang diterima tahun ini mencapai sekitar 1.450 orang.
Informasi tersebut disampaikan Rektor IPI Garut, Prof. Dr. H. Nizar Alam Hamdani, M.M., M.T., M.Si., M.Kom., dalam Sidang Terbuka Senat IPI Garut dalam rangka Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) Tahun Akademik 2026/2027 di Graha Intan Balarea, Kecamatan Tarogong Kaler, Kabupaten Garut, Kamis, 8 Oktober 2026.
Menurut Prof. Nizar, 921 mahasiswa baru tersebut tersebar dalam sejumlah program pendidikan yang tersedia di IPI Garut. Sementara itu, jumlah sekitar 1.450 orang mencakup peserta PPG Guru Tertentu.
Isi Artikel
Rektor: Kuliah Bukan Sekadar Mengejar Gelar
Di hadapan mahasiswa baru, Prof. Nizar mengingatkan bahwa perguruan tinggi bukan hanya tempat untuk mendapatkan pengetahuan dan keterampilan.
Menurutnya, proses pendidikan juga harus membentuk karakter, integritas moral dan rasa tanggung jawab.
Karena itu, mahasiswa diminta memanfaatkan masa kuliah sebagai proses untuk mengembangkan kemampuan sekaligus mempersiapkan diri menghadapi kehidupan setelah lulus.
“IPI Garut merupakan rumah tempat untuk mencari pengetahuan, rumah untuk mencari pengabdian dan IPI Garut merupakan rumah untuk adik-adik sekalian belajar,” ujar Prof. Nizar.
Ia mengaitkan pesan tersebut dengan pemikiran Ki Hajar Dewantara mengenai pendidikan sebagai proses menuntun manusia agar mampu mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya.
Bagi Prof. Nizar, pendidikan tidak berhenti pada proses mengetahui sesuatu.
Mahasiswa juga perlu memiliki keberanian untuk menerapkan pengetahuan tersebut dalam kehidupan.
Mahasiswa Diminta Terus Belajar
Prof. Nizar juga mengingatkan mahasiswa baru bahwa perubahan informasi dan pengetahuan berlangsung sangat cepat.
Kondisi tersebut membuat mahasiswa tidak cukup hanya mengandalkan pengetahuan yang diperoleh selama perkuliahan.
Mereka perlu memiliki kebiasaan untuk terus belajar, memperbarui pengetahuan dan menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman.
“Informasi, data, pengetahuan itu sangat cepat sekali berubah. Kita harus menjadi yang namanya insan pembelajaran yang kreatif dan inovatif,” katanya.
Pesan tersebut menjadi penting karena dunia kerja dan kehidupan sosial terus mengalami perubahan seiring perkembangan teknologi.
IPI Garut Dorong Kampus Berdampak
Selain membangun kompetensi mahasiswa, Prof. Nizar mendorong IPI Garut untuk menjalankan konsep kampus berdampak.
Menurutnya, perguruan tinggi tidak semestinya hanya berkutat pada persoalan akademik, seperti menyelesaikan tugas atau soal yang diberikan dosen.
Kampus juga harus mampu melihat persoalan yang dihadapi masyarakat.
“Kampus berdampak ini memiliki makna bahwa sebuah kampus jangan hanya saja memecahkan masalah-masalah yang berkaitan dengan tugas-tugas ataupun soal-soal ketika diberikan oleh Bapak dan Ibu,” ujarnya.
Karena itu, mahasiswa baru didorong untuk mengembangkan kreativitas dan inovasi agar ilmu yang diperoleh selama kuliah dapat diterapkan untuk memberikan manfaat bagi lingkungan sekitar.
Konsep tersebut sekaligus menempatkan mahasiswa bukan hanya sebagai penerima pengetahuan, tetapi sebagai bagian dari masyarakat yang diharapkan mampu memberikan kontribusi.
Hadapi Era AI, Mahasiswa Perlu Pegang Etika
Perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) juga menjadi perhatian Prof. Nizar dalam sambutannya.
Ia menyebut mahasiswa saat ini memasuki era yang ditandai dengan perkembangan AI, Internet of Things, robotika dan otomasi.
Namun, menurutnya, kemampuan menggunakan teknologi harus berjalan beriringan dengan etika.
“Mesin hanya bisa menghitung, mesin tidak bisa menilai,” kata prof. Nizar.
Ia menjelaskan bahwa mesin dapat menyajikan data dan informasi, tetapi manusia tetap memiliki peran penting dalam menentukan bagaimana informasi tersebut digunakan.
Karena itu, mahasiswa tidak hanya dituntut memiliki kemampuan teknis, tetapi juga kemampuan mempertimbangkan nilai, etika dan dampak dari penggunaan teknologi.
IPI Garut Perkuat Akreditasi dan Eksistensi Kampus
Dalam kesempatan tersebut, Prof. Nizar juga menyampaikan sejumlah perkembangan IPI Garut.
Ia mengatakan IPI Garut saat ini telah memperoleh status akreditasi unggul. Selain itu, menurut Prof. Nizar, sebanyak 12 program studi di IPI Garut juga telah memperoleh akreditasi unggul.
Sementara dua program studi lainnya, yakni Pendidikan Fisika dan Sistem Informasi, disebut sedang dipersiapkan untuk mencapai status akreditasi unggul.
Prof. Nizar juga menyampaikan bahwa IPI Garut pada 2026 masuk dalam sejumlah pemeringkatan perguruan tinggi, termasuk UI GreenMetric dan Webometrics.
Ia berharap berbagai capaian tersebut dapat memperkuat posisi IPI Garut sehingga tidak hanya dikenal di tingkat nasional, tetapi juga memiliki eksistensi di tingkat internasional.
“Harapan kita bukan hanya perguruan tinggi yang dikenal secara nasional, tapi perguruan tinggi yang memiliki eksistensi di tingkat internasional,” ujarnya.
Total Mahasiswa yang Diterima Capai Sekitar 1.450 Orang
Dari 921 mahasiswa baru yang diumumkan dalam kegiatan PKKMB, jumlah tersebut belum mencakup peserta PPG Guru Tertentu.
Menurut Prof. Nizar, apabila peserta program tersebut turut dimasukkan, total mahasiswa yang diterima IPI Garut pada tahun akademik 2026/2027 mencapai sekitar 1.450 orang.
Program PPG Guru Tertentu ditujukan bagi guru yang mengikuti pendidikan profesi untuk mendukung pengembangan kompetensi dan sertifikasi pendidik.
Keberadaan program tersebut menjadi bagian dari fokus IPI Garut di bidang pendidikan, terutama dalam menyiapkan tenaga pendidik yang memiliki kompetensi profesional.
Awal Perjalanan, Bukan Akhir Pembelajaran
Prof. Nizar berharap mahasiswa baru tidak memandang kuliah hanya sebagai jalan untuk memperoleh ijazah.
Masa pendidikan tinggi, menurutnya, harus menjadi ruang untuk membangun pengetahuan, keterampilan, karakter dan kemampuan beradaptasi.
Mahasiswa juga diharapkan mampu berkomunikasi, berinovasi dan berkontribusi ketika nantinya kembali ke tengah masyarakat.
Dengan demikian, PKKMB tidak hanya menjadi kegiatan penyambutan mahasiswa baru, tetapi juga menjadi awal bagi mahasiswa IPI Garut untuk memahami tanggung jawabnya sebagai bagian dari lingkungan akademik dan masyarakat.
Penulis : Soni Tarsoni
Editor : Soni Tarsoni

















Komentar