WARTAGARUT.COM — Kementerian Agama Republik Indonesia melalui Direktorat Jenderal Pendidikan Islam bekerja sama dengan Yayasan Gemilang Sehat Indonesia (YGSI) menggelar uji publik terhadap Modul Pendidikan Kesehatan Reproduksi (PKR) berperspektif Islam.
Kegiatan berlangsung di Hotel Santika, Kabupaten Garut, pada Rabu, 23 April 2025, bertepatan dengan upaya mendukung pembentukan karakter generasi muda yang sehat secara jasmani dan rohani menuju Indonesia Emas 2045.
Sekretaris Dirjen Pendidikan Islam Kemenag RI, Prof. Dr. M. Arskal Salim, GP., M.Ag., menuturkan bahwa Program ini merupakan implementasi konkret dari Permenag No. 73 Tahun 2022 tentang Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual (PPKS) di lingkungan pendidikan.
Ia mengungkapkan bahwa salah satu terobosannya adalah pengembangan Modul SETARA (Semangat Dunia Remaja), yang tidak hanya berisi informasi faktual tentang kesehatan reproduksi, tetapi juga mengintegrasikan nilai-nilai keislaman seperti iffah (menjaga kehormatan), keadilan, kasih sayang, dan akhlakul karimah.
“Modul ini dirancang untuk membentuk karakter mulia peserta didik. Kami ingin anak muda memahami bahwa tubuh mereka adalah amanah dari Tuhan yang wajib dijaga,” ujar Dr. M. Arskal Salim.
Ia menekankan pentingnya modul ini sebagai respons atas tantangan zaman, terutama maraknya kekerasan seksual yang bahkan terjadi di lingkungan pendidikan agama.
Dr. M. Arskal Salim juga menambahkan bahwa Garut dipilih karena ekosistem pendidikannya yang terbuka dan progresif, serta dukungan kuat dari masyarakat terhadap pendekatan edukatif berbasis nilai.
“Kami targetkan guru PAI, guru biologi, bahkan guru TK bisa menggunakan modul ini sebagai materi pembelajaran yang kontekstual dan bermakna,” ujarnya dikutip dari teraskandaga.com.
Kepala Kantor Kemenag Kabupaten Garut, Dr. H. Saepulloh, S.Ag., M.Pd.I., menyambut baik kegiatan ini. Ia menilai, kehadiran modul ini sangat tepat karena Garut memiliki banyak pesantren dan lembaga pendidikan Islam yang potensial menjadi pionir dalam transformasi pendidikan karakter.
“Ini saatnya Garut berkontribusi nyata untuk mencetak generasi emas 2045. Kami sangat siap,” tegas Saepulloh.
Sementara itu, Direktur YGSI, Ely Sawitri, menyampaikan bahwa modul ini awalnya dikembangkan untuk pendidikan umum. Namun, melihat tingginya angka kekerasan seksual di berbagai satuan pendidikan, termasuk yang berbasis agama, YGSI merasa perlu menyempurnakan modul agar selaras dengan ajaran Islam.
“Kami fokus pada siswa usia SMP, karena ini masa yang krusial bagi perkembangan fisik dan emosional mereka,” jelas Ely.
Kegiatan ini juga menjadi ajang menghimpun masukan dari para guru dan pemangku kepentingan pendidikan di Garut, yang akan digunakan sebagai dasar penyempurnaan modul sebelum diterapkan secara nasional di madrasah dan pesantren.***
Penulis : Soni Tarsoni

















