WARTAGARUT.COM – Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kabupaten Garut, Dr. Agus Rahmat Nugraha, M.Ag., M.Pd, menyampaikan pesan mendalam tentang urgensi karakter negarawan di kalangan pemuda.
Hal itu disampaikan dalam Refleksi Milad ke-93 Pemuda Muhammadiyah tentang momentum penting untuk menegaskan kembali peran strategis pemuda dalam membangun negeri.
Mengusung tema “Pemuda Negarawan, Totalitas untuk Indonesia Raya”, kegiatan ini menjadi ruang reflektif bagi kader muda untuk memahami bahwa menjadi pemimpin bukan sekadar perkara jabatan.
“Pemuda negarawan itu bukan hanya soal posisi, tapi tentang karakter. Dia harus punya jiwa besar, visi jauh ke depan, dan komitmen penuh untuk negeri,” ujar , Dr. Agus Rahmat Nugraha dalam Dalam acara Rabu Ngaji Islam Kemajuan yang digelar di Gedung Dakwah Muhammadiyah Garut, Rabu (7/5/2025),
Ia menekankan bahwa totalitas dalam mengabdi kepada Indonesia harus tercermin dari upaya nyata para pemuda dalam menghadapi tantangan zaman.
Menurutnya, ada tiga tantangan utama yang sedang dihadapi generasi saat ini: krisis moral, tekanan ekonomi, dan hilangnya kepemimpinan yang melayani.
“Masalah moral dan etika hari ini sudah menjadi persoalan global. Banyak orang mencari kembali nilai-nilai agama. Ini sinyal bahwa kita butuh pemimpin dengan akhlak,” tuturnya.
Tak hanya itu, tantangan ekonomi yang semakin berat juga menjadi sorotan. Anak muda, menurutnya, harus mampu membaca peluang di tengah tekanan zaman yang semakin kompleks.
Sementara soal kepemimpinan, Dr. Agus menyayangkan munculnya fenomena pemimpin yang lebih senang dilayani ketimbang melayani.
Padahal, kata dia, kepemimpinan sejati adalah tentang empati, keteladanan, dan keberanian untuk turun langsung menyentuh persoalan masyarakat.
“Di Muhammadiyah, kaderisasi itu kunci. Di situlah pembentukan mental, intelektual, spiritual, dan skill yang akan jadi bekal seumur hidup,” tegasnya.
Ia pun berpesan kepada seluruh pemuda Muhammadiyah agar tidak menyia-nyiakan peluang berkiprah sejak muda. Tantangan yang ada hari ini, jika dicermati dengan bijak, justru bisa jadi pendorong untuk tumbuh lebih kuat.
“Ini peluang sekaligus ujian. Tapi kalau bisa dimaknai dengan benar, justru jadi titik tolak peningkatan kualitas diri,” pungkasnya.***
Penulis : Soni Tarsoni










