WARTAGARUT.COM – Pesan tentang pentingnya terus belajar setelah lulus menjadi sorotan dalam pelepasan siswa kelas IX MTs Nurul Huda Angkatan ke-32 di Kecamatan Cisurupan, Kabupaten Garut, Sabtu, (13/6/2026).
Pendiri Pondok Pesantren Nurul Huda Cibojong, KH Muhammad Nuh Addawami, mengingatkan para lulusan agar tidak menganggap ijazah sebagai akhir perjalanan pendidikan, melainkan langkah awal untuk menapaki jenjang ilmu yang lebih tinggi.
Di hadapan para siswa, orang tua, dan tenaga pendidik, KH Muhammad Nuh Addawami juga menekankan bahwa keberhasilan seseorang tidak hanya diukur dari gelar atau profesi yang diraih.
Menurutnya, ilmu yang dipelajari harus mampu membentuk akhlak, memberi manfaat bagi sesama, serta menjadi bekal menghadapi kehidupan di masa depan.
“Ijazah yang diterima hari ini hanyalah penanda bahwa seseorang telah menyelesaikan satu tahapan belajar, bukan tanda bahwa proses belajar telah berakhir,” ujar KH Muhammad Nuh Addawami.
Pendidikan Berlangsung Seumur Hidup
Menurut KH Muhammad Nuh Addawami, ajaran Islam mengajarkan bahwa proses menuntut ilmu dimulai sejak manusia lahir hingga akhir hayat.
Karena itu, para lulusan diharapkan tidak merasa cukup dengan ilmu yang telah diperoleh selama menempuh pendidikan di madrasah.
Ia mengajak para siswa untuk terus belajar, memperluas wawasan, dan memperdalam ilmu agama maupun ilmu pengetahuan lainnya demi menghadapi kehidupan di masa depan.
Dalam kesempatan tersebut, ia juga mengingatkan bahwa ilmu pada hakikatnya merupakan milik Allah SWT.
Guru hanya menjadi perantara yang menyampaikan ilmu kepada para penuntut ilmu.
Karena itu, menghormati guru dinilai sebagai bagian penting dalam menghormati ilmu sekaligus bentuk rasa syukur atas nikmat yang diberikan Allah SWT.
Ilmu Harus Membentuk Akhlak dan Manfaat
KH Muhammad Nuh Addawami menjelaskan bahwa Pondok Pesantren dan Madrasah Nurul Huda selama ini berupaya menjadi sarana penyebaran ajaran Islam Ahlussunnah wal Jamaah yang bersumber dari Al-Qur’an, Sunnah Rasulullah SAW, serta warisan para ulama.
Menurutnya, ukuran keberhasilan pendidikan bukan terletak pada lamanya seseorang belajar, melainkan sejauh mana ilmu tersebut mampu meresap ke dalam hati dan membentuk akhlak yang baik.
“Pondok Pesantren dan Madrasah Nurul Huda hanyalah sebuah saluran tempat mengalirnya ajaran Islam Ahlussunnah wal Jamaah. Yang terpenting bukan berapa lama seseorang belajar di dalamnya, tetapi seberapa jauh ilmu itu meresap ke dalam hati dan membentuk akhlak,” katanya.
Ia juga berpesan agar para lulusan tidak berhenti mengaji setelah menerima ijazah. Menurutnya, para ulama besar justru semakin giat menuntut ilmu ketika kedudukan dan keilmuan mereka semakin tinggi.
Jangan Takut Rezeki Saat Menuntut Ilmu
Dalam amanahnya, KH Muhammad Nuh Addawami turut mengingatkan para siswa agar tidak menjadikan persoalan rezeki sebagai alasan untuk berhenti belajar.
Ia menjelaskan bahwa rezeki tidak hanya berbentuk harta, tetapi juga kesehatan, keberkahan hidup, keluarga yang baik, ketenangan hati, serta kesempatan untuk memberikan manfaat kepada sesama.
Pandangan tersebut sejalan dengan pemikiran Imam Al-Ghazali yang menyebut ilmu sejati bukan sekadar banyaknya pengetahuan yang dihafal, melainkan ilmu yang membawa manfaat, memperbaiki akhlak, mendekatkan diri kepada Allah SWT, dan menghadirkan kemaslahatan bagi kehidupan.
Menurutnya, ilmu yang paling mendasar adalah ilmu tentang Allah SWT. Dari pemahaman tersebut, berbagai bidang ilmu seperti pendidikan, ekonomi, kesehatan, teknologi, hingga pertanian akan memiliki arah yang benar dan bernilai manfaat.
Cita-cita Tinggi dan Menjadi Manfaat bagi Sesama
Kepada para lulusan MTs Nurul Huda, KH Muhammad Nuh Addawami mendorong agar memiliki cita-cita tinggi dan tidak menjadi pribadi yang hanya memanfaatkan ilmu untuk kepentingan diri sendiri.
Ia mengangkat filosofi Sunda yang mengajarkan agar seseorang tidak hanya menjadi “ilmu sakuringeun” atau bermanfaat bagi dirinya sendiri, tetapi juga menjadi “ilmu sakurungeun” bagi keluarga serta “ilmu sakurilingeun” bagi masyarakat luas.
Menurutnya, seluruh profesi memiliki kemuliaan selama dijalani dengan niat ibadah dan memberikan manfaat bagi orang lain.
Menutup amanahnya, KH Muhammad Nuh Addawami berharap seluruh ilmu yang diperoleh para lulusan MTs Nurul Huda dapat menjadi ilmu yang bermanfaat, melahirkan amal saleh, membawa keberkahan hidup, serta menjadi bekal kebaikan di dunia dan akhirat.
Ia juga mengingatkan bahwa ukuran keberhasilan seseorang bukan hanya kecerdasan atau kesuksesan duniawi, melainkan seberapa besar manfaat yang dapat diberikan kepada sesama manusia.***
Penulis : Soni Tarsoni


















Komentar