WARTAGARUT.COM -Menjelang pelaksanaan Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriah, pembahasan mengenai amalan sunnah kembali menguat di tengah umat Islam, termasuk praktik mandi Idul Adha yang dianjurkan sebelum berangkat menunaikan sholat Id.
Tradisi ini menjadi perhatian karena berkaitan dengan adab penyempurna ibadah yang telah lama dibahas dalam literatur fikih klasik maupun pendapat ulama kontemporer.
Dalam khazanah keilmuan Islam, mandi sebelum sholat Idul Adha dipandang sebagai bagian dari sunnah yang dianjurkan, meskipun tidak terdapat satu hadits shahih yang secara eksplisit memerintahkannya.
Namun, para ulama tetap menjadikannya sebagai amalan yang memiliki dasar kuat dari praktik para sahabat dan atsar.
Pendapat ini salah satunya mengacu pada penjelasan Sayyid Sabiq dalam kitab Fiqh as-Sunnah.
Ia menyebut bahwa terdapat sejumlah riwayat dari sahabat yang menunjukkan kebiasaan mandi pada hari raya, sehingga hal tersebut dapat dijadikan landasan hukum dalam konteks sunnah.
Sementara itu, ulama hadits Al-Albani dalam Irwa’ al-Ghalil juga menyinggung riwayat yang dinilai paling kuat terkait anjuran mandi pada hari raya, dikutip dari detik.com.
Riwayat tersebut berasal dari Ali bin Abi Thalib RA yang menjelaskan bahwa mandi disunnahkan pada hari Jumat, hari Arafah, Idul Fitri, dan Idul Adha.
Dalam riwayat tersebut, Ali RA menjawab pertanyaan seorang laki-laki tentang mandi sunnah dengan penegasan bahwa mandi pada hari-hari tersebut merupakan bagian dari anjuran ibadah yang telah dikenal dalam praktik keagamaan umat Islam sejak generasi awal.
Seiring perkembangan kajian fikih, mandi Idul Adha kemudian masuk dalam pembahasan adab sebelum sholat Id. Tata caranya disamakan dengan mandi wajib pada umumnya, namun dibedakan pada niat yang diucapkan sebelum memulai.
Niat Mandi Idul Adha
نَوَيْتُ الْغُسْلَ لِعِيْدِ الْأَضْحَى سُنَّةً لِلّٰهِ تَعَالَى
*Nawaitul ghusla li’iidil adha sunnatan lillaahi ta’aalaa*
Artinya: “Aku niat mandi sunnah Idul Adha karena Allah Ta’ala.”
Atau versi ringkas:
نَوَيْتُ سُنَّةَ الْغُسْلِ لِعِيْدِ الْأَضْحَى
*Nawaitu sunnatal ghusli li ‘Idil Adlha*
Artinya: “Saya niat sunnah mandi Idul Adha.”
Dalam praktiknya, mandi ini tidak berbeda dengan mandi besar (junub), hanya saja ditambahkan niat khusus sebagai pembeda ibadah sunnah Idul Adha.
Tata Cara Mandi Idul Adha
Dalam sejumlah kitab fikih dan panduan ibadah, tata cara mandi Idul Adha dijelaskan secara runtut dan sistematis. Di antaranya:
* Membasuh tangan sebanyak tiga kali
* Membersihkan najis yang menempel di tubuh
* Berwudhu secara sempurna
* Mengguyur kepala tiga kali sambil berniat
* Mengguyur tubuh bagian kanan lalu kiri masing-masing tiga kali
* Menggosok seluruh tubuh dari atas hingga bawah
* Menyela rambut dan jenggot bagi yang memiliki
* Memastikan air sampai ke lipatan kulit dan pangkal rambut
Secara prinsip, mandi ini menekankan kesempurnaan kebersihan fisik sebagai bagian dari kesiapan spiritual sebelum menghadap sholat Id.
Waktu Pelaksanaan Mandi Idul Adha
Para ulama menjelaskan bahwa mandi Idul Adha dapat dilakukan sejak malam hari hingga menjelang pelaksanaan sholat Id.
Namun, waktu yang paling utama adalah setelah terbit fajar pada hari raya.
Pandangan ini diperkuat dalam riwayat dari Ibnu Abbas RA yang menyebut Rasulullah SAW terbiasa mandi pada Hari Raya Fitri dan Idul Adha.
Selain itu, Abdullah bin Umar RA juga dikenal melakukan mandi sebelum berangkat ke tempat sholat Id.
Waktu Sholat Idul Adha
Secara umum, waktu pelaksanaan sholat Id dimulai setelah matahari terbit hingga menjelang waktu zawal (tergelincirnya matahari).
Namun, dianjurkan untuk melaksanakannya lebih awal sebagai bagian dari penyempurnaan rangkaian ibadah kurban.
Di beberapa daerah besar, pelaksanaan sholat Idul Adha 2026 diperkirakan berlangsung sekitar pukul 07.00 WIB, termasuk di sejumlah masjid besar di Indonesia yang menyesuaikan dengan ketentuan setempat.
Dengan demikian, rangkaian ibadah Idul Adha tidak hanya berfokus pada penyembelihan hewan kurban, tetapi juga dimulai dari adab kecil seperti mandi sunnah yang menjadi simbol kebersihan lahir dan kesiapan batin umat Islam dalam menyambut hari raya besar tersebut.
Penulis : Soni Tarsoni

















