Rupiah Tertekan Dekati Rp17.800 per Dolar AS, Investor Pilih Menunggu di Pekan Singkat

Selasa, 26 Mei 2026 - 19:43 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Rupiah Tertekan Dekati Rp17.800 per Dolar AS, Investor Pilih Menunggu di Pekan Singkat

Rupiah Tertekan Dekati Rp17.800 per Dolar AS, Investor Pilih Menunggu di Pekan Singkat

‎WARTAGARUT.COM – Rupiah kembali berada di bawah tekanan terhadap Dolar Amerika Serikat pada perdagangan Selasa, di tengah meningkatnya kehati-hatian pelaku pasar menjelang periode libur nasional di Indonesia.
‎Pergerakan pasangan USD/IDR tercatat naik ke kisaran Rp17.788 per dolar AS, menguat sekitar 0,41% atau 72,4 poin dengan rentang perdagangan harian berada di Rp17.724 hingga Rp17.799,6.
‎Tekanan terhadap Rupiah tidak hanya terlihat dari pasar spot, tetapi juga tercermin dalam data resmi Bank Indonesia.
‎Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) pada 25 Mei 2026 berada di level Rp17.743 per dolar AS.
‎Sementara itu, Kurs Transaksi BI menunjukkan kurs jual di Rp17.831,72 dan kurs beli di Rp17.654,28, dengan kurs tengah tetap di sekitar Rp17.743.
‎Data tersebut memperlihatkan bahwa tekanan terhadap Rupiah masih berlangsung dan belum menunjukkan tanda perbaikan signifikan.
‎Kondisi ini diperburuk oleh faktor kalender perdagangan domestik yang lebih pendek.
‎Pasar Indonesia memasuki periode libur Hari Raya Idul Adha 1447 H pada Rabu, 27 Mei 2026, dilanjutkan cuti bersama pada Kamis, 28 Mei 2026, serta libur nasional Hari Lahir Pancasila pada Senin, 1 Juni 2026.
‎Meski pasar kembali dibuka pada Jumat, likuiditas diperkirakan tetap menipis karena posisi perdagangan berada di antara dua periode libur panjang, sehingga pelaku pasar cenderung menahan posisi besar.
‎Dari dalam negeri, pemerintah mencoba meredam sentimen negatif dengan memberikan sinyal stabilisasi.
‎Menteri Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan bahwa tekanan terhadap Rupiah saat ini masih dalam batas yang lebih terkendali dibandingkan periode pelemahan sebelumnya.
‎Ia menambahkan bahwa depresiasi Rupiah berada di sekitar 5%, sementara inflasi domestik masih dapat dijaga di level 2,4%.
‎Pemerintah juga menyiapkan kebijakan penguatan pasokan devisa melalui kewajiban penempatan Devisa Hasil Ekspor Sumber Daya Alam (DHE SDA) di bank Himbara yang akan berlaku mulai 1 Juni 2026.
‎Kebijakan ini diharapkan dapat memperkuat cadangan devisa sekaligus membantu stabilisasi nilai tukar Rupiah dalam jangka menengah.
‎Namun tekanan eksternal masih menjadi faktor dominan. Analis MUFG, Lloyd Chan, menilai Rupiah masih dibayangi oleh tingginya imbal hasil obligasi Amerika Serikat tenor 2 tahun, fluktuasi harga minyak Brent, serta sensitivitas investor terhadap risiko kebijakan domestik.
‎Ia menyebut bahwa meskipun Rupiah berada dalam kondisi jenuh beli secara teknikal, risiko fiskal dan defisit transaksi berjalan masih menjadi faktor penekan utama.
‎Di pasar obligasi, selisih imbal hasil antara Surat Berharga Negara (SBN) 10 tahun dan US Treasury 10 tahun yang berada di sekitar 219 basis poin masih memberikan daya tarik bagi aset Rupiah.
‎Namun, premi tersebut dinilai belum cukup kuat untuk sepenuhnya mengimbangi risiko eksternal yang sedang meningkat.
‎Dari sisi geopolitik, pasar juga mencermati perkembangan negosiasi Amerika Serikat–Iran yang masih belum menghasilkan kepastian.
‎Laporan menyebutkan adanya perlambatan kesepakatan akibat perbedaan posisi terkait program nuklir Iran dan tekanan politik internal di Amerika Serikat.
‎Ketidakpastian ini turut mempengaruhi harga minyak global dan sentimen dolar.
‎Pada perdagangan Selasa siang, harga minyak bergerak beragam.
‎West Texas Intermediate (WTI) kontrak Juli 2026 turun 4,90% ke US$91,87 per barel, sementara Brent kontrak Juli 2026 justru naik 2,21% ke US$98,26 per barel.
‎Kenaikan Brent yang masih mendekati level US$100 menjadi risiko tambahan bagi Indonesia karena berpotensi menekan inflasi impor dan neraca perdagangan.
‎Fokus pasar kini tertuju pada rilis data ekonomi Amerika Serikat, khususnya Indeks Harga Belanja Konsumsi Pribadi (PCE) serta laporan awal Produk Domestik Bruto (PDB) yang akan dirilis pada Kamis.
‎Kedua data ini akan menjadi acuan penting bagi pasar global dalam menilai arah inflasi dan kebijakan suku bunga The Federal Reserve.***

Penulis : Soni Tarsoni

Sumber Berita: fxstreet-id.com

Follow WhatsApp Channel wartagarut.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Wisata Garut Makin Ramai, Pajak Perhotelan Tumbuh 47,17 Persen
Desil 1-10 Artinya Apa? Cek Tingkatan dan Peluang Dapat Bansos 2026
Cara Cek Desil Kesejahteraan DTSEN BPS dengan NIK
Destry Damayanti Jadi Calon Tunggal Gubernur BI, Ini Profilnya
Wakil Ketua DPRD Garut Dukung Diplomasi Parlemen Buka Pasar Global UMKM
PAD Garut Dipacu dari Pajak Wisata, Jalan Menuju Objek Akan Dibenahi
Harga Emas Hari Ini Naik Rp50.000, Buyback Melonjak Rp90.000
252.520 Warga Miskin, Bupati Garut Siapkan Solusi Khusus, Efektifkah?

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊

Berita Terkait

Jumat, 4 September 2026 - 12:58 WIB

Wisata Garut Makin Ramai, Pajak Perhotelan Tumbuh 47,17 Persen

Jumat, 14 Agustus 2026 - 07:26 WIB

Desil 1-10 Artinya Apa? Cek Tingkatan dan Peluang Dapat Bansos 2026

Rabu, 12 Agustus 2026 - 12:45 WIB

Cara Cek Desil Kesejahteraan DTSEN BPS dengan NIK

Selasa, 11 Agustus 2026 - 11:58 WIB

Destry Damayanti Jadi Calon Tunggal Gubernur BI, Ini Profilnya

Selasa, 11 Agustus 2026 - 11:37 WIB

Wakil Ketua DPRD Garut Dukung Diplomasi Parlemen Buka Pasar Global UMKM

Berita Terbaru