WARTAGARUT.COM – Wisuda tahfidz Al-Qur’an perlu berjalan beriringan dengan penguatan budaya literasi dan pembentukan akhlak peserta didik.
Generasi madrasah tidak cukup hanya memiliki hafalan dan pengetahuan yang luas, tetapi juga harus mampu berpikir kreatif, menyampaikan gagasan dengan baik, serta menerapkan nilai-nilai agama dalam perilaku sehari-hari.
Pesan tersebut disampaikan Kepala Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Garut, H. Hamzah Rukmana, S.Ag., M.A., dalam kegiatan Wisuda Tahfidz dan Peluncuran Buku Karya Siswa MAN 5 Garut Tahun 2026 yang diselenggarakan untuk menyambut Bulan Bahasa.
H. Hamzah Rukmana mengapresiasi pelaksanaan kegiatan tersebut sebagai bagian dari inovasi pendidikan madrasah.
Menurutnya, program tahfidz tidak seharusnya berhenti pada seremoni wisuda, melainkan menjadi bagian dari upaya berkelanjutan untuk mendekatkan generasi muda dengan Al-Qur’an sekaligus mengembangkan potensi mereka.
Ia juga menyampaikan terima kasih kepada pihak-pihak yang telah berkolaborasi dengan MAN 5 Garut dalam menyelenggarakan program tersebut.
Isi Artikel
Wisuda Tahfidz MAN 5 Garut Bukan Sekadar Seremoni
H. Hamzah Rukmana menilai program tahfidz menjadi salah satu cara untuk menumbuhkan kecintaan peserta didik terhadap Al-Qur’an.
Ia berharap siswa yang memiliki kemampuan menghafal Al-Qur’an terus mendapatkan ruang untuk mengembangkan potensinya.
Menurutnya, madrasah juga perlu memberikan kesempatan kepada siswa yang memiliki bakat di bidang lain, mulai dari seni hingga olahraga. Pendidikan, kata dia, perlu mengakomodasi keberagaman kemampuan peserta didik agar setiap anak dapat tumbuh sesuai dengan potensinya.
“Ini bagian dari inovasi. Anak-anak yang memiliki talenta di bidang tahfidz perlu terus didorong agar senantiasa dekat dengan Al-Qur’an,”tuturnya daam acara tersebut di MAN 5 Garut, Jl. Raya Wanakerta – Cibatu No. 92, RT. 03 RW. 02, Desa Wanakerta, Kecamatan Cibatu, Kabupaten Garut, Rabu, (21/10/2026)
Ia berharap program-program pengembangan bakat tersebut dapat terus berlanjut dan tidak berhenti pada satu kegiatan saja.
Peluncuran Buku Siswa Perkuat Budaya Literasi
Selain wisuda tahfidz, peluncuran buku karya siswa menjadi bagian penting dalam kegiatan MAN 5 Garut menyambut Bulan Bahasa 2026.
H. Hamzah Rukmana memberikan apresiasi kepada siswa yang telah menghasilkan karya tulis.
Menurutnya, kemampuan menulis perlu terus diasah karena tidak semua orang yang mampu menyampaikan gagasan secara lisan juga terbiasa menuangkannya dalam bentuk tulisan.
Ia mengingatkan bahwa literasi tidak hanya berkaitan dengan kemampuan membaca, tetapi juga kemampuan menyampaikan pikiran secara lisan dan tertulis.
Dalam sambutannya, Hamzah menyoroti pentingnya keterampilan berbicara atau maharatul kalam serta keterampilan menulis atau maharatul kitabah dalam pembelajaran bahasa.
Kemampuan berbicara membantu seseorang menyampaikan pikiran dan pesan secara jelas.
Sementara itu, kemampuan menulis memungkinkan gagasan, pengetahuan, dan pengalaman didokumentasikan agar dapat dipelajari kembali oleh orang lain.
“Jangan alergi dengan teks. Teks ini menjadi bukti tertulis dari apa yang kita sampaikan,” demikian pesan yang ditekankan Hamzah mengenai pentingnya budaya menulis.
Ia berharap karya siswa tidak berhenti pada peluncuran buku, tetapi menjadi awal tumbuhnya kebiasaan menulis di lingkungan madrasah.
Literasi Digital Harus Diimbangi Kemampuan Berbahasa
Hamzah juga menyinggung tantangan pendidikan di tengah perkembangan media digital. Menurutnya, penguasaan teknologi perlu diimbangi kemampuan berbahasa, berpikir, dan menyampaikan informasi secara tepat.
Budaya literasi menjadi salah satu bekal penting agar peserta didik tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga mampu menghasilkan gagasan dan karya yang bermanfaat.
Ia mendorong madrasah terus memberikan ruang bagi siswa untuk membaca, menulis, berdiskusi, serta mengembangkan kreativitas.
Keterampilan tersebut dapat membantu mereka menghadapi perkembangan zaman sekaligus memperkuat kemampuan belajar.
Dalam konteks ini, kegiatan wisuda tahfidz dan peluncuran buku karya siswa menjadi dua bentuk pengembangan potensi yang saling melengkapi: penguatan nilai keagamaan melalui Al-Qur’an dan pengembangan intelektual melalui literasi.
Kecintaan terhadap Al-Qur’an Harus Melahirkan Akhlak Mulia
Bagi Hamzah, penguatan hafalan dan pengetahuan harus bermuara pada pembentukan karakter.
Ia menegaskan bahwa pendidikan madrasah tidak cukup hanya menghasilkan siswa yang cerdas, fasih berbahasa, dan kreatif, tetapi juga harus membentuk pribadi yang memiliki akhlakul karimah.
Ia mengingatkan bahwa ilmu dan keterampilan perlu diwujudkan dalam perilaku yang baik, baik dalam hubungan dengan Allah maupun dalam kehidupan bermasyarakat.
“Yang terpenting adalah bagaimana menjadi generasi yang memiliki akhlakul karimah. Intinya adalah akhlak, perilaku yang baik,” menjadi penekanan Hamzah dalam materi sambutannya.
Menurutnya, kecintaan terhadap Al-Qur’an dan budaya literasi semestinya berjalan seiring dengan pembentukan karakter.
Hafalan, pengetahuan, dan kreativitas akan memberikan manfaat lebih besar ketika digunakan dengan sikap yang santun, jujur, dan bertanggung jawab.
Melalui kegiatan Wisuda Tahfidz dan Peluncuran Buku Karya Siswa tersebut, MAN 5 Garut diharapkan terus melahirkan generasi yang tidak hanya kuat dalam hafalan Al-Qur’an dan luas pengetahuannya, tetapi juga mampu berkarya, mengembangkan pemikiran, serta menjaga akhlak dalam kehidupan sehari-hari.***
Penulis : Soni Tarsoni
Editor : soni Tarsoni















Komentar