WARTAGARUT.COM – Di tengah derasnya arus modernisasi, Khitanan Massal yang digelar oleh Syarikat Islam (SI) Cabang Garut tetap menjadi bukti nyata kekuatan gotong royong dan persatuan umat Islam.
Tradisi ini telah berlangsung sejak tahun 1927 dan akan memasuki pelaksanaan ke-98 pada tahun 2025.
Wakil Ketua III Pimpinan Cabang SI Kabupaten Garut, Ustadz Ao Nu’man Fachruroji, menuturkan bahwa kegiatan ini bermula dari semangat persatuan lintas ormas Islam di Garut yaitu Syarikat Islam, Muhammadiyah, dan Nahdlatul Ulama.
Ketiga ormas tersebut bermusyawarah untuk merawat kebersamaan umat lewat tiga bentuk kegiatan:
Muhammadiyah sebagai koordinator penyembelihan hewan kurban,
Syarikat Islam sebagai koordinator Khitanan Massal,
Nahdlatul Ulama sebagai koordinator pengumpulan dana dan logistik sosial.
“Meski Indonesia dilanda perubahan besar pada tahun 1945 sebagai puncak perjuangan kemerdekaan, kerja sama lintas ormas ini sempat terhenti. Akan tetapi, Khitanan Massal tetap berjalan,” ujar Ustadz Ao Nu’man.
Ustadz Ao Nu’man Menerangkan bahwa almarhum Rd. H. Abdullah Jayaplawira, yang kelak menjadi anggota DPRD Garut hasil Pemilu 1999 dari Partai Syarikat Islam Indonesia (PSII-10), merupakan Salah seorang peserta Khitanan Massal tahun 1945.
Hal tersebut berdasarkan pengakuan Rd. H. Abdullah Jayaplawira kepada dirinya.
“Bukti sejarahnya pun jelas. Banyak tokoh masyarakat yang menjadi peserta program ini sejak kecil,”tegasnya.
Bahkan, kata Pembina Pondok Pesantren Syarikat Islam Garut, kesetiaan pada kerja sama lintas ormas Islam tetap dijaga oleh tokoh-tokoh perempuan seperti almarhumah Ibu Hj. Rukmini Sanusi (Pengurus Perintis Kemerdekaan RI) dari Ciledug.
“Setiap Idul Adha, beliau selalu menyiapkan dua domba: satu untuk kurban di Masjid Muhammadiyah Lio, satu lagi untuk mendukung Khitanan Massal SI di Dayeuhandap,” lanjut Ao.
Kini, Khitanan Massal bukan hanya simbol amal, tapi juga simbol persatuan lintas generasi dan bukti bahwa semangat Syarikat Islam tidak pernah luntur.***
Penulis : Soni Tarsoni

















