WARTAGARUT.COM – Tim Pengabdian kepada Masyarakat Institut Kesehatan Karsa Husada Garut (IKKHG) mengedukasi warga Desa Sindanggalih, Kabupaten Garut, mengenai pengelolaan sampah berbasis 3R (Reduce, Reuse, Recycle) sebagai upaya mengurangi pencemaran lingkungan sekaligus meningkatkan nilai ekonomi sampah, Sabtu (1/8/2026).
Kegiatan ini dilaksanakan bermitra dengan kader Posyandu Desa Sindanggalih sebagai mitra pemberdayaan masyarakat dalam menggerakkan edukasi dan perubahan perilaku pengelolaan sampah di tingkat keluarga.
Program yang didanai melalui Hibah Pengabdian kepada Masyarakat Tahun 2026 dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) itu dipimpin Andhika Lungguh Perceka, S.Kom., M.Si. bersama Hasbi Taobah Ramdani, S.Kep., Ns., M.Kep., Dr. Rostiena Pasciana, M.Si. dari Universitas Garut, serta didukung dua mahasiswa.
Ketua tim, Andhika Lungguh Perceka, mengatakan kegiatan tersebut berangkat dari kondisi masih rendahnya kesadaran masyarakat dalam mengelola sampah.
Sebagian warga masih membuang sampah ke sungai atau sembarangan, sementara desa belum memiliki sistem pengelolaan maupun bank sampah.
“Tujuan kegiatan ini adalah meningkatkan pengetahuan dan kesadaran masyarakat terhadap kebersihan lingkungan serta kesehatan. Kami melihat masih ada kebiasaan membuang sampah ke sungai dan belum adanya pengelolaan sampah yang baik di Desa Sindanggalih,” ujarnya.
Menurut Andhika, penerapan konsep Reduce, Reuse, Recycle (3R) tidak akan berhasil tanpa kolaborasi seluruh pihak, mulai dari pemerintah desa, pemerintah tingkat RW, kader, hingga masyarakat.
“Pengelolaan sampah berbasis 3R membutuhkan kerja sama semua pihak. Kalau berjalan bersama, kita bisa mewujudkan lingkungan yang lebih bersih, sehat, dan berkelanjutan,” katanya.
Sampah Didorong Menjadi Bernilai Ekonomi
Selain mengurangi pencemaran, program tersebut juga diharapkan mampu menekan volume sampah yang dikirim ke TPA Pasir Bajing.
Andhika menjelaskan, masyarakat didorong mengelola sampah secara mandiri sehingga sampah yang sebelumnya dibuang dapat diolah menjadi kompos maupun memiliki nilai jual melalui pengepul atau bank sampah.
“Harapan kami, sampah tidak lagi menjadi beban. Sampah bisa diolah menjadi barang yang bermanfaat atau dijual kembali sehingga manfaat ekonominya kembali kepada masyarakat,” jelasnya.
Sebagai bentuk dukungan, tim pengabdian menyediakan sarana berupa tempat sampah organik dan anorganik, drum komposter, enzim pengurai, serta peralatan pendukung lainnya yang sebagian besar berasal dari pendanaan hibah Kemdiktisaintek.
Pendampingan Berlanjut hingga Pembuatan Kompos
IKKHG menegaskan kegiatan tidak berhenti pada sosialisasi. Pendampingan akan terus dilakukan hingga masyarakat mampu mengolah sampah organik menjadi kompos secara mandiri.
Program ini juga melibatkan kolaborasi dengan Garut Zero Waste dan Bank Sampah Garut agar penerapan 3R berjalan berkelanjutan.
“Hari ini baru tahap sosialisasi. Setelah ini kami akan mendampingi masyarakat sampai mereka mampu mengolah sampah organik menjadi kompos dan memanfaatkan hasilnya,” tutur Andhika.
Ia berharap dukungan pemerintah desa maupun Pemerintah Kabupaten Garut semakin diperkuat melalui kebijakan pengelolaan sampah dan pembentukan bank sampah di tingkat desa.
“Mari kita mulai dari lingkungan sendiri. Kalau ingin lingkungan yang sehat dan bersih, perubahan harus dimulai dari cara kita mengelola sampah. Ini bukan hanya untuk hari ini, tetapi untuk masa depan anak cucu kita,” pungkasnya.***
Penulis : Soni Tarsoni


















Komentar