WARTAGARUT.COM – Sosok Kang Murad dalam serial Preman Pensiun dikenal sebagai figur dengan kekuatan fisik dominan, loyalitas tinggi, serta karakter pendiam yang tegas, menjadikannya salah satu tokoh paling ikonik di layar kaca Indonesia.
Diperankan oleh Deny Firdaus, Murad tampil sebagai tangan kanan yang diandalkan dalam masa kepemimpinan Kang Bahar hingga era Kang Mus.
Di dunia jalanan dan terminal, ia dikenal sebagai sosok yang ditakuti karena pendekatannya yang langsung dan tanpa kompromi.
Murad digambarkan sebagai pribadi yang minim bicara. Ia tidak banyak berdebat atau berdiskusi, melainkan menyelesaikan persoalan dengan tindakan nyata.
Karakter ini mencerminkan loyalitas tanpa batas, di mana perintah atasan menjadi prinsip yang dijalankan tanpa banyak pertanyaan.
Di balik ketegasannya, Murad memiliki sisi kemanusiaan yang kuat. Ia memegang kode etik yang jelas, tidak menyerang orang yang tidak bersalah, namun bersikap tegas terhadap siapa pun yang mengganggu wilayah atau orang-orang terdekatnya.
Salah satu dinamika paling menonjol dalam cerita adalah kemitraannya dengan Kang Pipit.
Perbedaan karakter antara Murad yang kaku dan Pipit yang humoris menciptakan keseimbangan unik, sekaligus menjadi elemen komedi yang melekat di hati penonton.
Perubahan besar terjadi ketika Murad memutuskan meninggalkan dunia premanisme dan mencoba menjalani kehidupan yang lebih formal.
Ia beralih profesi menjadi tenaga pengamanan, memanfaatkan kekuatan fisiknya dalam jalur yang lebih positif.
Meski demikian, aura ketegasan dan masa lalunya tetap membuat orang segan.
Fase emosional terdalam karakter ini muncul setelah wafatnya pemeran Kang Pipit, Firmansyah Pitra, yang juga diangkat dalam alur cerita.
Kehilangan tersebut memberikan dampak signifikan terhadap perkembangan karakter Murad.
Ia digambarkan menjadi lebih pendiam dan reflektif, namun menyimpan emosi yang lebih dalam.
Kesedihan yang dialami justru memperlihatkan sisi rapuh dari sosok yang sebelumnya dikenal hanya mengandalkan kekuatan fisik.
Perjalanan karakter Murad menunjukkan bahwa figur yang awalnya tampak sederhana dapat berkembang menjadi tokoh dengan dimensi emosional yang kompleks.
Transformasi ini menjadikan Murad bukan sekadar karakter kuat, tetapi juga simbol loyalitas, kehilangan, dan proses perubahan dalam kehidupan.***
Penulis : Soni Tarsoni

















