WARTAGARUT.COM – Pelaksanaan Musyawarah Cabang (Muscab) X Dewan Pimpinan Cabang Partai Persatuan Pembangunan Kabupaten Garut yang digelar di Pondok Pesantren Zawiyah, Kecamatan Samarang, Minggu (26/4/2026), berlangsung panas setelah puluhan Pengurus Anak Cabang (PAC) membangkang dengan tidak menghadiri forum.
Meski demikian, Muscab tetap dinyatakan selesai pada hari itu juga setelah diambil alih oleh DPW PPP Jawa Barat.
Plt Ketua DPC PPP Garut yang juga Ketua Panitia Muscab, Asep De Maman, menjelaskan absennya puluhan PAC membuat agenda Muscab tidak dapat dilanjutkan secara normal.
Dari total 42 PAC, hanya 13 PAC yang hadir mengikuti forum.
Menurut Asep, kondisi tersebut membuat DPW PPP Jawa Barat langsung mengambil alih jalannya persidangan dan menggelar rapat DPW di lokasi yang sama untuk menghasilkan keputusan strategis.
“Pada saat itu juga DPW PPP Jawa Barat langsung menyelenggarakan rapat dan menghasilkan keputusan membentuk formatur yang akan bertugas menyusun kepengurusan DPC PPP Garut periode 2026-2031,” ujar Asep De Maman.
Ia menyebutkan, tim formatur yang dibentuk berjumlah tujuh orang, terdiri dari empat unsur perwakilan PAC, satu unsur DPC, satu unsur DPW, dan satu unsur DPP.
Asep menuturkan, dirinya mendapat mandat sebagai unsur DPC, sementara empat utusan PAC yakni Wahyudin, Asep Rahmat, Endang S.D., dan Ayi Suryana. Dua nama lainnya berasal dari unsur DPW dan DPP PPP.
Menurutnya, hasil Muscab tersebut merupakan atensi langsung dari Ketua Umum DPP PPP, H. Mardiono, agar Muscab PPP Garut wajib dituntaskan pada hari yang sama.
“Pelaksanaan Muscab PPP Garut yang sempat memanas dan ada gejala sabotase dari pihak tertentu sudah terasa sejak awal. Maka Garut mendapat atensi langsung dari Pak Ketum. Tadi Pak Ketua minta Muscab DPC PPP Garut harus selesai hari ini,” katanya.
Asep menilai, meskipun forum diambil alih DPW, justru proses pengambilan keputusan berjalan lebih cepat dan hasilnya segera dilaporkan ke DPP dalam waktu dekat.
Sebelumnya, situasi Muscab sempat memantik kemarahan Ketua DPW PPP Jawa Barat, Uu Ruzhanul Ulum, yang hadir langsung bersama perwakilan DPP.
Dalam pidato pembukaan, Uu secara terbuka mengecam sikap PAC yang menolak hadir dan menilai tindakan tersebut sebagai bentuk pembangkangan terhadap konstitusi partai.
“Sebagai sikap politik para PAC yang membangkang perintah konstitusi partai ini, saya menghargai. Namun segala sikap pasti akan ada konsekuensinya. Tunggu saja, kita pasti akan berikan sanksi kepada mereka,” tegas Uu.
Menurut Uu, Muscab bukan agenda pribadi DPP, DPW, maupun DPC, melainkan mandat organisasi yang wajib dipatuhi seluruh struktur partai.
Ia juga menyinggung alasan penggunaan Pondok Pesantren Zawiyah yang disebut-sebut menjadi pemicu penolakan pihak tertentu.
Menurutnya, pemilihan lokasi pesantren justru merupakan instruksi langsung dari Ketua Umum DPP PPP agar aktivitas partai kembali dekat dengan basis ulama.
“Kami ingin kegiatan partai berkolaborasi dengan pesantren sebagai jalan PPP kembali ke pangkuan para ulama, karena ulama adalah rahim yang melahirkan PPP sebagai alat perjuangan nilai-nilai Islam,” pungkasnya.***
Penulis : Soni Tarsoni

















