WARTAGARUT.COM – Saham BRI atau PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) mengalami tekanan tajam pada perdagangan Jumat, 29 Mei 2026.
Emiten perbankan terbesar di Indonesia tersebut ditutup melemah 3,91 persen ke posisi Rp2.950 per saham, sekaligus menjadi level terendah yang dicapai BBRI dalam lima tahun terakhir.
Penurunan saham BBRI terjadi di tengah aksi jual besar-besaran investor asing yang melakukan penyesuaian portofolio seiring rebalancing indeks MSCI yang efektif pada penutupan perdagangan Jumat.
Dikutip dari investor.id, Data perdagangan menunjukkan sebanyak 1,07 miliar saham BBRI berpindah tangan dengan frekuensi transaksi mencapai 67.818 kali. Nilai transaksi tercatat mencapai Rp3,19 triliun.
Investor asing tercatat melakukan penjualan bersih (net sell) senilai Rp738,04 miliar pada saham berkode BBRI.
Namun menariknya, tekanan jual tersebut justru dimanfaatkan investor domestik untuk mengoleksi saham Bank Rakyat Indonesia dalam jumlah besar.
Berdasarkan data Stockbit Sekuritas, investor domestik membukukan pembelian bersih (net buy) sekitar Rp738 miliar, hampir setara dengan nilai aksi jual investor asing.
Valuasi BBRI Dinilai Sangat Murah
Di tengah pelemahan harga saham, valuasi BBRI kini berada pada level yang tergolong sangat rendah dibandingkan historis perdagangannya.
Rasio Price to Book Value (PBV) BBRI saat ini berada di level 1,32 kali.
Angka tersebut berada jauh di bawah rata-rata historis dan bahkan menyentuh area yang sangat jarang terjadi dalam satu dekade terakhir.
Sementara itu, Price Earnings Ratio (PER) BBRI tercatat sebesar 7,64 kali.
Posisi tersebut juga berada di bawah standar rata-rata historis 10 tahun terakhir yang berada di kisaran 9,92 kali.
Kondisi tersebut membuat sebagian pelaku pasar mulai melihat saham BBRI sebagai salah satu emiten perbankan dengan valuasi yang relatif murah di tengah tekanan pasar.
Laba BRI Tetap Tumbuh Meski Saham Tertekan
Di sisi fundamental, kinerja Bank Rakyat Indonesia masih menunjukkan pertumbuhan positif.
Menurut ulasan Stockbit Sekuritas, laba bersih bank only BRI pada April 2026 mencapai Rp4 triliun.
Angka tersebut tumbuh 3 persen secara tahunan (YoY), meskipun turun 2 persen dibanding bulan sebelumnya (MoM).
Secara kumulatif selama Januari hingga April 2026 atau 4M26, laba bersih bank only BRI mencapai Rp15,9 triliun atau meningkat 6 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.
Pertumbuhan laba ditopang oleh kenaikan Net Interest Income (NII) sebesar 7 persen YoY yang didukung penurunan beban bunga hingga 16 persen YoY.
Di sisi penyaluran kredit, BRI masih mencatat pertumbuhan kredit sebesar 11 persen YoY.
Angka tersebut melampaui target pertumbuhan kredit konsolidasi yang sebelumnya dipatok manajemen pada kisaran 7 hingga 9 persen YoY sepanjang 2026.
Sementara itu, biaya provisi hanya meningkat 2 persen YoY sehingga Cost of Credit (CoC) turun menjadi 3,2 persen pada 4M26 dibandingkan 3,5 persen pada periode yang sama tahun lalu.
Target Harga Masih Rp4.100
Mandiri Sekuritas menilai kinerja BRI masih cukup solid dengan pertumbuhan laba bersih bank only sebesar 6 persen YoY selama empat bulan pertama 2026.
Lembaga tersebut mencatat Return on Equity (ROE) BRI mencapai 15,9 persen.
Meski terdapat tantangan berupa inflasi yang meningkat dan potensi risiko kredit yang lebih tinggi, penguatan dana murah (CASA), standar penjaminan kredit, serta manajemen risiko dinilai mampu menjaga ketahanan profitabilitas perusahaan sepanjang tahun ini.
Atas dasar itu, Mandiri Sekuritas masih mempertahankan rekomendasi buy untuk saham BBRI dengan target harga Rp4.100 per saham.
Penulis : Soni Tarsoni


















Komentar