Wamendikdasmen: Deep Learning Bukan Hafalan, Tapi Cara Membentuk Anak Cerdas

Sabtu, 6 Juni 2026 - 16:36 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah RI, Fajar Riza Ul Haq, menyampaikan materi Studium Generale tentang Deep Learning dan Transformasi Pendidikan di Gedung Dakwah Muhammadiyah Garut, Sabtu (6/6/2026)

Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah RI, Fajar Riza Ul Haq, menyampaikan materi Studium Generale tentang Deep Learning dan Transformasi Pendidikan di Gedung Dakwah Muhammadiyah Garut, Sabtu (6/6/2026)

WARTAGARUT.COM – Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia, Dr. Fajar Riza Ul Haq, M.A., menegaskan bahwa konsep Deep Learning yang saat ini didorong pemerintah bukan sekadar metode belajar baru, melainkan upaya mengubah budaya pendidikan agar siswa mampu berpikir kritis, memecahkan masalah, dan mengaplikasikan ilmu dalam kehidupan nyata.

Hal itu disampaikan Fajar Riza Ul Haq saat menjadi pembicara dalam Studium Generale bertajuk “Deep Learning dan Transformasi Pendidikan untuk Perguruan Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah Garut yang Berkemajuan” di Gedung Dakwah Muhammadiyah Garut, Sabtu (6/6/2026).

Menurutnya, teori pembelajaran mendalam atau deep learning sebenarnya telah berkembang sejak era 1970-an dan diterapkan di berbagai negara maju seperti Eropa dan Australia. Namun, pendekatan tersebut selama ini belum mendapatkan porsi yang cukup dalam kebijakan pendidikan nasional.

“Deep learning bukan hal baru. Yang menjadi penting adalah bagaimana proses pembelajaran melatih kemampuan berpikir kritis siswa, mengasah kemampuan mencari solusi, dan membangun kemampuan memahami informasi yang diterima dari guru,” kata Fajar.

Deep Learning Dimulai dari Memahami, Bukan Menghafal

Fajar menjelaskan, inti utama deep learning adalah memastikan peserta didik benar-benar memahami materi yang dipelajari, bukan sekadar menghafal atau mengulang informasi.

Ia mengibaratkan proses belajar seperti makanan yang harus dikunyah hingga halus agar mudah diproses tubuh.

Begitu pula ilmu pengetahuan yang harus dipahami secara mendalam agar dapat tersimpan dan digunakan kembali ketika dibutuhkan.

“Anak harus memahami dulu, kemudian melaksanakan, lalu merefleksikan. Kalau siswa hanya menerima informasi tanpa memahami, maka dia seperti hard disk kosong. Ilmu itu tidak akan membekas,” ujarnya.

Menurutnya, ilmu yang benar-benar dipahami akan tersimpan dalam memori jangka panjang dan dapat dipanggil kembali bertahun-tahun kemudian.

Baca Juga :  SMK Muhammadiyah Garut Dorong Pelajar Berdampak di Milad IPM ke-65

“Itulah ilmu yang berkah. Ilmu yang mengendap dalam hati dan memori sehingga suatu saat bisa muncul kembali ketika diperlukan,” katanya.

Guru Harus Menjadi Arsitek Pembelajaran

Dalam paparannya, Fajar menekankan bahwa guru tidak boleh hanya berperan sebagai operator pembelajaran yang sekadar menyampaikan materi sesuai buku teks.

Sebaliknya, guru harus menjadi arsitek pembelajaran yang kreatif, inovatif, dan mampu menghadirkan pengalaman belajar yang bermakna bagi siswa.

“Bapak dan Ibu guru harus menjadi arsitek pembelajaran, bukan operator pembelajaran. Operator hanya mengulang dan mengulang. Tetapi arsitek menciptakan inovasi agar siswa benar-benar terlibat dalam proses belajar,” jelasnya.

Ia juga mengingatkan bahwa buku ajar hanyalah panduan, bukan sesuatu yang harus diterapkan secara kaku.

“Yang penting tujuan pembelajarannya tercapai. Buku itu bukan kitab suci. Guru harus mampu mengontekstualisasikan materi sesuai lingkungan siswa,” ujarnya.

Garut Punya Modal Besar untuk Pembelajaran Kontekstual

Fajar menilai Kabupaten Garut memiliki kekayaan sejarah, budaya, dan wisata yang dapat dimanfaatkan sebagai media pembelajaran kontekstual.

Ia mencontohkan berbagai situs bersejarah dan destinasi wisata yang bisa menjadi sumber belajar langsung bagi siswa.

“Garut memiliki banyak modal pembelajaran. Ada Candi Cangkuang, Situ Bagendit, sejarah yang kaya, dan berbagai potensi lainnya. Anak-anak Garut harus mengenal daerahnya sendiri sebagai bagian dari proses belajar,” katanya.

Menurutnya, pembelajaran tidak harus selalu berlangsung di dalam kelas. Guru didorong membawa siswa berinteraksi langsung dengan lingkungan sekitar agar pengalaman belajar menjadi lebih berkesan.

Tantangan Pendidikan Era Media Sosial

Fajar juga mengungkapkan bahwa tantangan terbesar pendidikan saat ini bukan hanya soal kurikulum, tetapi bagaimana menjaga fokus dan perhatian siswa.

Menurutnya, media sosial, permainan digital, dan penggunaan gawai yang berlebihan telah menjadi tantangan baru bagi dunia pendidikan.

Baca Juga :  27 Santri Mendadak Sakit Diduga Keracunan MBG, Ini Temuan Sementara

“Yang paling mahal hari ini dalam pembelajaran adalah perhatian atau fokus. Anak-anak sekarang konsentrasinya sering dibajak media sosial dan game. Maka tugas guru adalah membangun motivasi belajar sekaligus menjaga perhatian siswa,” ungkapnya.

Karena itu, proses pembelajaran harus dirancang lebih menarik, interaktif, dan melibatkan siswa secara aktif agar mereka tidak menjadi peserta didik yang pasif.

Budaya Bertanya Harus Diperkuat

Salah satu poin penting yang disampaikan Fajar adalah perlunya membangun budaya bertanya di lingkungan sekolah.

Ia menilai siswa yang berani bertanya menunjukkan adanya rasa ingin tahu, kemampuan berpikir, dan kepercayaan diri yang baik.

“Anak-anak harus dibiasakan bertanya. Dalam teori pendidikan, bertanya justru lebih penting karena menunjukkan proses berpikir sedang berjalan,” ujarnya.

Ia mengingatkan guru agar tidak menyalahkan atau meremehkan jawaban siswa karena hal itu dapat mematikan kreativitas dan rasa ingin tahu mereka.

“Sekali guru membunuh keberanian anak untuk bertanya atau menjawab, maka yang terbunuh bukan hanya jawabannya, tetapi kreativitas dan rasa penasarannya,” tegasnya.

Literasi dan Numerasi Garut Harus Terus Ditingkatkan

Di akhir pemaparannya, Fajar menyoroti capaian literasi dan numerasi yang masih menjadi tantangan pendidikan nasional.

Ia menyebut hasil Tes Kemampuan Akademik (TKA) Jawa Barat masih berada sedikit di bawah rata-rata yang diharapkan, sehingga diperlukan kerja bersama untuk meningkatkan kualitas pendidikan.

Jika konsep deep learning diterapkan secara konsisten, menurutnya siswa akan memiliki kemampuan literasi dan numerasi yang lebih baik.

“Kalau budaya belajar ini dibangun secara konsisten, saya optimistis anak-anak Garut akan memiliki kemampuan literasi dan numerasi yang unggul. Itulah fondasi pendidikan masa depan,” pungkasnya.***


Penulis : Soni Tarsoni

Follow WhatsApp Channel wartagarut.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Era AI Butuh Ahli Teknologi Pendidikan, IPI Garut Buka PMB S-2
IPI Garut Buka PMB S-2, Siapkan Ahli Teknologi Pendidikan Era Digital
IPI Garut Buka PMB S-2 Teknologi Pendidikan Akreditasi Unggul
SMK Muhammadiyah Garut Dorong Pelajar Berdampak di Milad IPM ke-65
Anggota DPD RI Agita Nurfianti Motivasi Peserta MPLS Khaira Ummah Cirebon, Tekankan Karakter dan Disiplin
Agita Nurfianti Dorong Siswa SMK Muhammadiyah Garut Jadi Generasi Unggul dan Berkarakter
Keren! Mahasiswa PPG IPI Garut Juara 1 Essay Competition Internasional
Mahasiswa IPI Garut Ukir Prestasi, Juara Best Ideasi WiraHebat 2026
Berita ini 98 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊

Berita Terkait

Sabtu, 18 Juli 2026 - 19:20 WIB

Era AI Butuh Ahli Teknologi Pendidikan, IPI Garut Buka PMB S-2

Sabtu, 18 Juli 2026 - 18:15 WIB

IPI Garut Buka PMB S-2, Siapkan Ahli Teknologi Pendidikan Era Digital

Sabtu, 18 Juli 2026 - 16:28 WIB

IPI Garut Buka PMB S-2 Teknologi Pendidikan Akreditasi Unggul

Sabtu, 18 Juli 2026 - 15:10 WIB

SMK Muhammadiyah Garut Dorong Pelajar Berdampak di Milad IPM ke-65

Jumat, 17 Juli 2026 - 13:21 WIB

Anggota DPD RI Agita Nurfianti Motivasi Peserta MPLS Khaira Ummah Cirebon, Tekankan Karakter dan Disiplin

Berita Terbaru

Ilustrasi selebrasi Mateus Fernandes setelah mencetak gol kemenangan Tottenham Hotspur.

SEPUTAR OLAHRAGA

Tottenham vs MK Dons Berakhir Tipis, Ada Sinyal Besar untuk Musim Baru

Kamis, 23 Jul 2026 - 19:16 WIB

Ilustrasi duel sengit Persib Bandung dan Arema FC pada laga pembuka Piala Presiden 2026.

SEPUTAR OLAHRAGA

Persib vs Arema Jam Berapa? Cek Jadwal Lengkap Piala Presiden 2026

Kamis, 23 Jul 2026 - 18:00 WIB