WARTAGARUT.COM – Setiap 7 November, Indonesia memperingati Hari Wayang Nasional, sebuah momen penting untuk menghargai wayang sebagai warisan budaya bangsa yang sarat makna dan filosofi kehidupan.
Anggota Komisi V DPRD Jawa Barat, H. Aceng Malki, menegaskan bahwa wayang bukan sekadar hiburan, tetapi juga media pendidikan moral dan simbol identitas nasional yang harus terus dijaga keberadaannya.
“Wayang adalah cerminan kehidupan manusia. Di dalamnya ada nilai kejujuran, kesetiaan, kebijaksanaan, dan perjuangan antara kebaikan melawan kejahatan. Nilai-nilai itu sangat relevan untuk membangun karakter bangsa,” ujar Aceng Malki kepada WartaGarut.com, Jum’at (7/11/2025).
Penetapan Hari Wayang Nasional berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 30 Tahun 2018 oleh Presiden Joko Widodo.
Tanggal 7 November dipilih karena pada tahun 2003, UNESCO menetapkan wayang sebagai Warisan Dunia Takbenda (Masterpiece of the Oral and Intangible Heritage of Humanity).
Lima tahun kemudian, tepatnya 2008, UNESCO kembali memasukkan wayang dalam daftar warisan budaya dunia.
Menurut Aceng Malki, pengakuan itu bukan hanya penghargaan, tetapi juga tanggung jawab moral bangsa Indonesia untuk melestarikan seni wayang di tengah gempuran budaya modern.
“Wayang bukan masa lalu, tapi jati diri bangsa. Kita harus memperkenalkannya kembali kepada generasi muda lewat pendekatan kreatif dan digital,” ujarnya.
Secara etimologis, kata “wayang” berasal dari bahasa Jawa, wewayanganing ngaurip, yang berarti bayangan kehidupan.
Wayang menggambarkan perjalanan manusia penuh perjuangan antara dharma (kebaikan) dan adharma (kejahatan).
Tokoh-tokoh seperti Arjuna, Semar, dan Srikandi melambangkan kejujuran, keberanian, kesetiaan, dan kebijaksanaan nilai luhur yang sejalan dengan karakter bangsa Indonesia.
Aceng Malki menilai bahwa tantangan pelestarian wayang di era digital sangat besar.
Namun, di sisi lain, teknologi juga dapat menjadi jembatan baru untuk menjaga eksistensi budaya.
“Kita bisa menghidupkan wayang melalui konten edukatif, festival budaya, hingga pertunjukan daring. Yang penting generasi muda merasa dekat dengan warisan nenek moyangnya,” katanya.
Hari Wayang Nasional, lanjutnya, harus menjadi momentum untuk menumbuhkan kecintaan generasi muda terhadap seni tradisional Indonesia.
Ia berharap dukungan pemerintah dan masyarakat terus mengalir agar wayang tetap hidup dan relevan bagi masa depan bangsa.***
Penulis : Soni Tarsoni











