WARTAGARUT.COM – Nilai tukar rupiah menunjukkan ketahanan di tengah tekanan terhadap mayoritas mata uang Asia pada perdagangan Jumat (5/6/2026).
Saat sebagian besar mata uang regional melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS), rupiah justru mampu mencatat penguatan tipis meski masih berada di atas level psikologis Rp18.000 per dolar AS.
Berdasarkan data Refinitiv per pukul 09.15 WIB, rupiah menguat 0,03 persen ke level Rp18.015 per dolar AS.
Penguatan ini terjadi di tengah meningkatnya permintaan terhadap dolar AS yang kembali menjadi aset pilihan investor akibat memanasnya konflik geopolitik di kawasan Timur Tengah.
Meski bergerak positif, posisi rupiah masih menjadi perhatian pasar karena belum kembali menembus level di bawah Rp18.000 per dolar AS.
Rupiah Jadi Salah Satu Mata Uang Terkuat di Asia Pagi Ini
Dari 10 mata uang Asia yang dipantau, hanya tiga mata uang yang mampu menguat terhadap dolar AS.
Selain rupiah, yen Jepang naik 0,04 persen ke level 159,2 per dolar AS dan baht Thailand menguat 0,09 persen ke posisi 32,65 per dolar AS.
Kondisi ini membuat rupiah termasuk dalam kelompok mata uang yang relatif mampu bertahan di tengah dominasi dolar AS di pasar global.
Won Korea dan Ringgit Malaysia Tertekan
Tekanan terdalam dialami won Korea Selatan yang anjlok 0,98 persen ke level 1.546,4 per dolar AS.
Sementara itu, ringgit Malaysia menjadi mata uang dengan pelemahan terbesar kedua setelah turun 0,50 persen ke posisi 4,030 per dolar AS.
Dolar Taiwan juga terkoreksi 0,19 persen, disusul peso Filipina yang melemah 0,18 persen.
Adapun dolar Singapura turun 0,05 persen, sedangkan dong Vietnam dan yuan China masing-masing melemah 0,04 persen dan 0,01 persen terhadap dolar AS.
Konflik Timur Tengah Dorong Permintaan Dolar AS
Penguatan dolar AS kali ini dipicu meningkatnya ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah.
Pasar mencermati perkembangan terbaru setelah upaya Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk mendorong perdamaian dan menghentikan konflik di kawasan menghadapi hambatan baru.
Milisi Hizbullah yang didukung Iran dilaporkan menolak usulan gencatan senjata baru di Lebanon.
Di sisi lain, Israel menyatakan tidak akan menarik pasukannya dari wilayah tersebut.
Ketegangan yang meningkat membuat investor kembali memburu aset safe haven seperti dolar AS.
Harga Minyak Bertahan di Atas US$90
Ketidakpastian geopolitik juga mendorong harga minyak dunia tetap tinggi.
Harga minyak Brent dilaporkan bertahan di atas level US$90 per barel setelah meningkatnya ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat dalam beberapa hari terakhir.
Lonjakan harga energi dan meningkatnya risiko global membuat ruang penguatan mata uang negara berkembang menjadi lebih terbatas.
Kondisi tersebut menjadi salah satu faktor yang menyebabkan mayoritas mata uang Asia bergerak melemah terhadap dolar AS pada perdagangan hari ini.
Pergerakan Mata Uang Asia Hari Ini
* Rupiah: +0,03% ke Rp18.015/US$
* Yen Jepang: +0,04%
* Baht Thailand: +0,09%
* Won Korea Selatan: -0,98%
* Ringgit Malaysia: -0,50%
* Dolar Taiwan: -0,19%
* Peso Filipina: -0,18%
* Dolar Singapura: -0,05%
* Dong Vietnam: -0,04%
* Yuan China: -0,01%
Sementara itu, indeks dolar AS (DXY) berada di level 99,415 dan masih ditopang oleh tingginya permintaan aset aman di tengah ketidakpastian global.***
Penulis : Soni Tarsoni

















