Dolar Hari Ini Sentuh Rp18.015, Rupiah Kembali Tertekan

Kamis, 4 Juni 2026 - 08:54 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Pergerakan dolar AS menembus level Rp18.000 menjadi sorotan pasar keuangan dan memicu perhatian terhadap stabilitas rupiah

Pergerakan dolar AS menembus level Rp18.000 menjadi sorotan pasar keuangan dan memicu perhatian terhadap stabilitas rupiah

WARTAGARUT.COM – Nilai tukar dolar AS hari ini kembali menjadi perhatian setelah menembus level psikologis Rp18.000. Pada perdagangan Kamis (4/6/2026), mata uang Amerika Serikat tercatat menguat terhadap rupiah, menandai tekanan yang masih membayangi pasar keuangan domestik di tengah dinamika ekonomi global.

Data Investing menunjukkan dolar AS menguat 49,4 basis poin atau sekitar 0,28 persen hingga mencapai Rp18.015. Sepanjang perdagangan, mata uang Negeri Paman Sam bergerak dalam rentang Rp17.937 hingga Rp18.024.

Level ini menjadi salah satu posisi tertinggi dolar AS terhadap rupiah dalam beberapa waktu terakhir dan langsung menjadi sorotan pelaku pasar, dunia usaha, hingga masyarakat.

Dolar AS Sempat Bertahan di Atas Rp18.000

Selain data Investing, pergerakan dolar AS juga tercermin dalam catatan Google Finance. Mata uang AS sempat menyentuh level Rp18.010 pada pukul 23.23 UTC atau sekitar 06.23 WIB.

Meski kemudian turun ke kisaran Rp17.971 pada pukul 00.15 UTC (07.15 WIB), posisi tersebut tetap menunjukkan tekanan besar terhadap rupiah.

Sementara itu, data Bloomberg mencatat dolar AS menguat hingga 0,71 persen secara harian dan terakhir berada di level Rp17.966.

Baca Juga :  Kurash, Bela Diri Asal Uzbekistan yang Andalkan Teknik Bantingan

Rupiah Tertekan, Bank Indonesia Siaga

Melemahnya rupiah membuat Bank Indonesia (BI) terus meningkatkan kewaspadaan terhadap perkembangan pasar keuangan global maupun domestik.

Kepala Departemen Komunikasi Bank Indonesia, Ramdan Denny Prakoso, menegaskan bahwa bank sentral akan terus hadir di pasar guna menjaga stabilitas nilai tukar.

Menurutnya, BI mengoptimalkan berbagai instrumen kebijakan untuk memastikan mekanisme pasar tetap berjalan baik serta menjaga kecukupan likuiditas valuta asing.

“Bank Indonesia terus berada di pasar dengan mengoptimalkan seluruh instrumen kebijakan yang dimiliki untuk memastikan mekanisme pasar berjalan dengan baik dan menjaga kecukupan likuiditas valas guna turut mendukung stabilitas pasar keuangan,” ujar Denny dalam keterangan tertulis, Rabu (3/6/2026).

BI Perketat Aturan Pembelian Valas

Sebagai bagian dari langkah penguatan stabilitas pasar, sejak 2 Juni 2026 Bank Indonesia mulai menerapkan ketentuan baru terkait pembelian valuta asing.

Dalam aturan tersebut, threshold pembelian tunai valuta asing terhadap rupiah tanpa underlying ditetapkan maksimal sebesar US$25.000 per pelaku per bulan.

Kebijakan ini diharapkan dapat membantu menjaga keseimbangan permintaan valuta asing di tengah meningkatnya tekanan terhadap rupiah.

Baca Juga :  Kang Abik, Penulis Ayat-Ayat Cinta, Hadir di Al Mashduqi Garut, Pesan Haru Orang Tua Warnai Pelepasan Santri Murid ke Al-Azhar

Strategi Kurangi Ketergantungan Dolar AS

Selain menjaga stabilitas pasar, Bank Indonesia juga terus memperluas penggunaan mata uang lokal dalam transaksi internasional melalui skema Local Currency Transaction (LCT).

Saat ini kerja sama LCT telah dijalankan bersama sejumlah negara mitra, antara lain China, Japan, Malaysia, Thailand, South Korea, serta United Arab Emirates.

Langkah ini bertujuan mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS sekaligus meminimalkan risiko gejolak nilai tukar akibat volatilitas pasar global.

Dampak Dolar AS Tembus Rp18.000

Menguatnya dolar AS berpotensi memberikan dampak luas terhadap berbagai sektor ekonomi.

Beberapa sektor yang paling merasakan pengaruhnya antara lain:

  • Harga barang impor yang berpotensi naik.
  • Biaya perjalanan luar negeri menjadi lebih mahal.
  • Beban utang luar negeri meningkat.
  • Tekanan terhadap pelaku usaha yang bergantung pada bahan baku impor.
  • Risiko inflasi akibat kenaikan harga barang tertentu.

Di sisi lain, pelemahan rupiah dapat memberikan keuntungan bagi eksportir karena nilai penerimaan dalam dolar menjadi lebih besar saat dikonversi ke rupiah.

Penulis : Soni Tarsoni

Follow WhatsApp Channel wartagarut.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Cek Bansos BPNT 2026: Link Resmi dan Cara Cek Pakai NIK
Rudy Gunawan Apresiasi Becak Listrik: Nyaman, Mang Becak Tidak Capek
Jalan Ciangkrong Dibuka, Distribusi Kopi Petani Garut Makin Mudah
Cara Cek Bansos Oktober 2026 Pakai NIK KTP, Ini Langkahnya
IHSG Hari Ini Ditutup Turun 0,10%, Sempat Anjlok 2,6% Lalu Rebound
Harga Domba Garut Bisa Tembus Rp400 Juta, Ini Dorongan Bupati
Sewa Gedung Telkom untuk BGN Disebut di Atas Harga Pasar, Ini Penjelasannya
Panen Kentang dan Telur di Bandung, GP Ansor Jabar Siapkan Program hingga Garut

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊

Berita Terkait

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 17:38 WIB

Cek Bansos BPNT 2026: Link Resmi dan Cara Cek Pakai NIK

Sabtu, 3 Oktober 2026 - 14:56 WIB

Rudy Gunawan Apresiasi Becak Listrik: Nyaman, Mang Becak Tidak Capek

Sabtu, 3 Oktober 2026 - 09:25 WIB

Jalan Ciangkrong Dibuka, Distribusi Kopi Petani Garut Makin Mudah

Sabtu, 3 Oktober 2026 - 07:03 WIB

Cara Cek Bansos Oktober 2026 Pakai NIK KTP, Ini Langkahnya

Senin, 14 September 2026 - 21:50 WIB

IHSG Hari Ini Ditutup Turun 0,10%, Sempat Anjlok 2,6% Lalu Rebound

Berita Terbaru

UCAPAN DAN TWIBBON

Ucapan Hari Santri 2026

Rabu, 21 Okt 2026 - 18:29 WIB