WARTAGARUT.COM – Sekretaris Komisi IV DPRD Provinsi Jawa Barat yang juga Ketua Lembaga Pengembangan Cabang Ranting dan Pengembangan Masjid (LPCRPM) Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Garut, H. Ahab Sihabudin, S.H.I, menyerukan pentingnya peran generasi muda Muhammadiyah untuk kembali menjadi produsen pemimpin nasional.
Pesan itu disampaikannya dalam kegiatan Konferensi Pimpinan Daerah (Konpida) Pra Musyawarah Daerah (Musyda) XXII Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) Kabupaten Garut, yang digelar di Gedung Dakwah Muhammadiyah Garut, Sabtu (11/10/2025).
Menurutnya, Konpida justru memiliki nilai strategis lebih tinggi dibanding Musyda, karena di sinilah arah dan karakter kepemimpinan kader muda IPM ditempa dan diproyeksikan untuk masa depan bangsa.
“Konpida ini lebih utama sebetulnya dibandingkan dengan Musyda, karena dari sinilah lahir arah dan gagasan besar kader pelajar Muhammadiyah,” ujar Ahab di hadapan peserta forum.
H. Ahab menegaskan, Muhammadiyah memiliki “DNA kepemimpinan nasional” yang terbukti sejak masa perjuangan kemerdekaan Indonesia.
Ia menyinggung fakta sejarah bahwa banyak tokoh besar bangsa merupakan kader Muhammadiyah.
“Kalau tanpa Muhammadiyah, mungkin kemerdekaan ini prematur. Karena sebagian besar pemimpinnya berasal dari Muhammadiyah,” ucapnya.
Ia mengingatkan, di masa lalu Muhammadiyah dikenal sebagai pabrik lahirnya tokoh bangsa, terutama lewat lembaga pendidikan guru dan sekolah-sekolah kadernya.
Namun kini, menurutnya, jumlah pemimpin nasional dari Muhammadiyah mulai berkurang.
“Saya ingin Muhammadiyah kembali menjadi produsen para pemimpin besar nasional. Kader IPM hari ini harus disiapkan untuk itu,” tegasnya.
Dalam refleksi sejarah, Ahab memaparkan bahwa saat Indonesia merdeka, 70 persen pemimpin bangsa berusia di bawah 45 tahun.
“Soekarno 44 tahun, Hatta 42 tahun, Yamin 41 tahun, Sudirman 27 tahun, Natsir 27 tahun. Sekarang terbalik, 70 persen di atas 45 tahun,” ujarnya.
Padahal, kata Ahab, saat itu kondisi pendidikan dan infrastruktur masih terbatas — 92 persen penduduk Indonesia buta huruf, komunikasi dan transportasi minim.
Namun semangat dan kecerdasan para pemuda kala itu melahirkan pemimpin besar.
“Sekarang pendidikan sudah sangat maju, tapi semangat kepemimpinan muda mulai redup. Inilah yang harus dikembalikan oleh Muhammadiyah melalui IPM,” ujarnya.
H. Ahab berharap, Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) dapat menjadi kawah candradimuka bagi calon pemimpin masa depan, bukan hanya di lingkungan internal organisasi, tetapi juga di tingkat nasional.
“Walaupun Muhammadiyah bukan organisasi politik, tapi Muhammadiyah harus menyiapkan SDM unggul untuk mengisi posisi-posisi penting bangsa ke depan,” tutupnya.
Kehadiran Ahab dalam Konpida IPM Garut memberi warna tersendiri, menjadi refleksi penting bahwa pembinaan kader pelajar harus diarahkan pada visi kepemimpinan nasional yang muda, berintegritas, dan berdaya saing tinggi.***
Penulis : Soni Tarsoni












