Garut, 10 Agustus 2026 — Ketika teknologi semakin cerdas dan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) mampu memberikan jawaban dalam hitungan detik, pendidikan menghadapi pertanyaan yang lebih mendasar: apakah guru akan semakin terbantu oleh teknologi, atau justru kehilangan peran kemanusiaannya?
Pertanyaan tersebut menjadi salah satu refleksi dalam Workshop Literasi Abad ke-21 bertajuk “Memperluas Cakrawala Pedagogik Guru Bahasa Indonesia: Analisis Teks, Penulisan Kreatif, dan Publikasi Ber-ISBN” yang diselenggarakan Sekolah Pascasarjana Program Magister Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Institut Pendidikan Indonesia (IPI) Garut di Aula Yayasan Nurul Mutaqin, Cisurupan, Garut, Senin (10/8/2026).
Kegiatan mempertemukan akademisi, guru dan kepala sekolah lintas jenjang, organisasi profesi, mahasiswa, yayasan, serta komunitas seni.
Kolaborasi tersebut menunjukkan bahwa penguatan literasi tidak dapat dibebankan kepada guru seorang diri, melainkan membutuhkan ekosistem pendidikan yang saling belajar dan menguatkan.
Workshop dihadiri Dr. Agus Hamdani, M.Pd., Ketua Program Studi Magister Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia IPI Garut selaku dosen peninjau, serta Assoc. Prof. Dr. Asep Nurjamin, M.Pd., Direktur Sekolah Pascasarjana IPI Garut selaku dosen pembimbing sekaligus pemateri.
Dukungan organisasi profesi juga hadir melalui Dr. Encep Suherman, M.Pd., Ketua PGRI Kabupaten Garut, Ketua PGRI Kecamatan Cisurupan, anggota Ikatan Guru Indonesia (IGI), serta guru dan kepala sekolah dari berbagai jenjang.
Isi Artikel
Literasi di Tengah Banjir Informasi
Assoc. Prof. Dr. Asep Nurjamin, M.Pd. membahas penguatan analisis teks dan cakrawala pedagogik guru Bahasa Indonesia. Kemampuan membaca di abad ke-21 tidak cukup berhenti pada menemukan informasi, tetapi harus berkembang menjadi kemampuan menganalisis, menafsirkan, dan mengkritisi informasi.
Perspektif tersebut diperkuat Ayi Aam, S.Pd., Gr., mahasiswa Magister Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia IPI Garut sekaligus praktisi pendidikan, melalui materi “Tantangan, Strategi, dan Solusi Literasi Abad ke-21 bagi Guru Bahasa Indonesia: Perspektif Humanisasi Pendidikan.”
Menurut Ayi Aam, tantangan literasi telah mengalami perubahan.
“Dulu tantangan kita adalah mencari informasi. Hari ini tantangan kita adalah memilah informasi yang benar, bermakna, dan dapat dipertanggungjawabkan.”ujarnya.
Di tengah banjir informasi dan kemudahan menggunakan AI, peserta didik tidak cukup hanya mampu menemukan jawaban.
Mereka perlu memiliki kemampuan memverifikasi, mengevaluasi, menyusun argumentasi, mencantumkan sumber, dan bertanggung jawab terhadap informasi yang digunakan.
Karena itu, AI perlu ditempatkan sebagai alat bantu, bukan pengganti peran guru.
“Google memberikan informasi. AI memberikan jawaban. Tetapi guru memberikan kebijaksanaan.”katanya
Pesan tersebut menegaskan bahwa semakin canggih teknologi, semakin penting pendidikan menjaga karakter, empati, integritas, kreativitas, berpikir kritis, dan hati nurani.
Guru Bukan Sekadar Pengguna, tetapi Pencipta Pengetahuan
Pemateri ketiga, Aditya Anshor Alsunah, S.Pd., Gr., penulis dan owner Ceretan Pena Publishing sekaligus mahasiswa Magister Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia IPI Garut, membawakan materi “Dari Ide Menjadi Buku: Penulisan Kreatif dan Publikasi Ber-ISBN.”
Peserta memperoleh wawasan tentang pengembangan ide, penulisan, penyuntingan, proofreading, penerbitan, ISBN, hingga distribusi dan promosi karya.
Materi tersebut mengajak guru bergerak dari sekadar konsumen menjadi produsen pengetahuan.
Pengalaman guru di ruang kelas sesungguhnya merupakan sumber pengetahuan yang berharga apabila didokumentasikan, direfleksikan, dan dibagikan.
Guru yang menulis bukan hanya meninggalkan karya, tetapi meninggalkan jejak pemikiran bagi generasi berikutnya.
Kolaborasi Lintas Jenjang dan Budaya
Keterlibatan guru dan kepala sekolah dari berbagai jenjang menjadi salah satu kekuatan kegiatan.
Mereka bertukar pengalaman mengenai pembelajaran, budaya membaca dan menulis, serta pemanfaatan teknologi dan AI.
Kegiatan sekaligus menjadi ruang praktik akademik bagi mahasiswa Pascasarjana IPI Garut. Badruzia Hanafi, S.Pd., Gr., Uda Hudaya, S.Pd., Gr., dan Endah Pujianti, S.Pd. bertugas sebagai moderator, sedangkan Suhendar, S.Pd. sebagai Master of Ceremony.
Pelaksanaan kegiatan turut didukung Yayasan Nurul Mutaqin sebagai tuan rumah dan mahasiswa KKN S1 IPI Garut.
Nuansa kegiatan semakin semarak dengan penampilan Tari Sunda dari Sanggar Seni Sunda Waluya.
Kehadiran seni tradisional menjadi pengingat bahwa transformasi pendidikan dan teknologi tidak harus menjauhkan guru dan peserta didik dari akar budaya.
Menjadi Guru yang Tetap Relevan
Diskusi peserta mengangkat berbagai persoalan aktual, mulai dari penggunaan AI, verifikasi informasi, etika akademik, plagiarisme, kemampuan menulis dengan bahasa sendiri, hingga pencantuman sumber.
Persoalan tersebut menunjukkan bahwa literasi abad ke-21 pada akhirnya bukan hanya tentang kemampuan menggunakan teknologi, tetapi tentang kemampuan menggunakan teknologi secara cerdas, etis, dan manusiawi.
Guru Bahasa Indonesia memiliki posisi strategis dalam proses tersebut.
Guru tidak hanya mengajarkan membaca dan menulis, tetapi juga membantu peserta didik membaca informasi, membaca realitas, membangun argumentasi, berkomunikasi, menghargai perbedaan, dan memahami manusia.
Workshop ditutup dengan refleksi dan komitmen untuk terus meningkatkan kompetensi, memanfaatkan AI secara etis, memperkuat budaya menulis, serta membangun kolaborasi antarguru dan antarlembaga.
“Teknologi akan terus berubah. Kurikulum akan terus diperbarui. Tetapi guru yang terus belajar akan selalu relevan.”katany
Pada akhirnya, masa depan pendidikan bukan tentang siapa yang paling cepat menggunakan teknologi, tetapi siapa yang mampu memastikan teknologi tetap digunakan untuk memanusiakan manusia.
Sebab ketika mesin semakin mampu memberikan jawaban, guru justru dituntut semakin mampu mengajarkan cara bertanya, cara berpikir, cara bersikap, dan cara menjadi manusia.
PENULIS: Ayi Aam

















Komentar