WARTAGARUT.COM — Kepala Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Garut, Dr. H. Saepulloh, S.Ag., M.Pd.I., menegaskan pentingnya memahami hakikat perbedaan sebagai kunci utama terciptanya kondusivitas umat beragama.
Hal ini ia sampaikan dalam dialog strategis Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kabupaten Garut yang mengusung tema “Peran Generasi Muda dan Masyarakat dalam Mewujudkan Kehidupan Umat Beragama yang Kondusif di Kabupaten Garut”, di Aula Kemenag Garut, pada Selasa, 26Agustu 2025.
“Perbedaan itu adalah sunnatullah. Kondusifitas hanya bisa terwujud jika kita memahami secara utuh dan komprehensif makna kerukunan,” ujar Dr. Saepulloh.
Ia menegaskan bahwa rasa cinta dan semangat damai membangun kerukunan, menciptakan suasana adem ayem, selaras, dan jauh dari konflik.
Ia juga menjelaskan filosofi kerukunan yang terdiri dari dua komponen: kesediaan untuk diatur dan kepatuhan pada aturan.
“Yang harus diatur itu ada empat poin. Pertama, hati kita. Kedua, pikiran kita. Ketiga, ucapan kita. Dan keempat, perbuatan kita,” tegasnya.
Dr. Saepulloh berharap pesan ini dapat menjadi jembatan evaluasi bagi masyarakat Garut dalam mengukur sejauh mana tingkat kerukunan umat beragama telah terwujud.
Berbagai tokoh lintas agama, guru agama, hingga perwakilan organisasi kepemudaan menghadiri acara yang digelar FKUB.
Mereka berharap dialog interaktif ini menjadi ruang lahirnya pemahaman bersama dan komitmen kolektif untuk menjaga Garut tetap damai dan harmonis di tengah keberagaman.
Penulis : Soni Tarsoni













