WARTAGARUT.COM – Ketua Pembina Yayasan Dharma Husada Insani Garut (YDHIG), Dr. H. Hadiat, menegaskan bahwa angka stunting di Kabupaten Garut yang mencapai 24,1 persen pada tahun 2025 merupakan ancaman serius bagi masa depan daerah.
Karena itu, YDHIG bersama Institut Kesehatan Karsa Husada Garut (IKKHG) meluncurkan Program Studi S1 Gizi dan SDGs Center dalam Seminar Nasional di Kampus 2 IKKHG, Selasa, 19 Mei 2026.
Seminar nasional bertema “Pembangunan Kesehatan Nasional melalui Peningkatan Ketahanan Gizi Masyarakat” tersebut digelar YDHIG dan IKKHG sebagai bentuk kontribusi akademik dalam menjawab persoalan kesehatan masyarakat, terutama stunting.
Menurut Dr. Hadiat, angka stunting Garut masih berada di atas rata-rata nasional yang sekitar 19,3 persen.
Artinya, dari setiap 100 anak di Garut, sekitar 24 anak berpotensi mengalami hambatan tumbuh kembang yang dapat memengaruhi tinggi badan, kecerdasan, dan produktivitas saat dewasa.
“Ini bukan hanya soal angka. Ini adalah masa depan Garut yang sedang dipertaruhkan,” ujarnya.
Ia mengingatkan, jika penanganan stunting tidak dilakukan sejak sekarang, dalam dua dekade mendatang Garut berisiko kekurangan tenaga kerja berkualitas, beban kesehatan meningkat, dan laju pembangunan melambat.
Sebagai yayasan yang mengelola IKKHG, YDHIG merasa terpanggil untuk menjadi bagian dari solusi.
Menurutnya, yayasan dan perguruan tinggi tidak boleh hanya berperan sebagai pengelola institusi, tetapi harus hadir memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat.
Untuk mendukung langkah tersebut, IKKHG menyiapkan Program Studi S1 Gizi, laboratorium gizi yang modern, dosen profesional, serta jejaring kerja sama dengan berbagai institusi kesehatan di tingkat kabupaten, provinsi, dan nasional.
Dr. Hadiat menjelaskan transformasi dari STIKes menjadi institut bukan sekadar perubahan nama, melainkan simbol perubahan cara berpikir, cara bergerak, dan cara mempersiapkan tenaga kesehatan masa depan.
Ia menilai bidang gizi akan menjadi salah satu sektor paling strategis karena memiliki peran penting dalam melahirkan generasi unggul, meningkatkan kualitas kesehatan, dan mendorong produktivitas bangsa.
Pada kesempatan yang sama, IKKHG juga meluncurkan SDGs Center untuk memperkuat kontribusi institusi dalam menurunkan stunting, menekan angka kematian ibu, dan mengembangkan inovasi berbasis prinsip “no one left behind”.
Dr. Hadiat mengibaratkan Program Studi S1 Gizi sebagai mesin yang menghasilkan tenaga ahli gizi untuk turun langsung ke desa-desa dan posyandu, sedangkan SDGs Center menjadi kompas yang mengarahkan seluruh upaya agar selaras dengan kebutuhan pembangunan.
“Prodi Gizi adalah mesinnya, SDGs Center adalah kompasnya. Dua program, satu napas, satu sinergi untuk tujuan yang berdampak,” katanya.
Ia optimistis sinergi tersebut akan membawa IKKHG naik kelas, bukan hanya dikenal di Garut, tetapi juga menjadi rujukan program kesehatan masyarakat di Jawa Barat bahkan nasional.
“Ini bukan sekadar kegiatan seremonial, tetapi titik awal lahirnya ide, kolaborasi, inovasi, dan gerakan nyata untuk membangun masyarakat yang lebih sehat, lebih cerdas, dan lebih berkualitas,” pungkasnya.***
Penulis : Soni Tarsoni

















