WARTAGARUT.COM – Universitas Garut bersama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengembangkan enzim lokal berbasis mikroba Indonesia untuk memperkuat industri penyamakan kulit di Kabupaten Garut dan mengurangi ketergantungan terhadap produk impor.
Inovasi tersebut diperkenalkan dalam kegiatan sosialisasi dan edukasi produk inovasi kepada para pengusaha penyamak kulit di Kabupaten Garut yang digelar Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Uniga di Mini Auditorium Kampus 4 Universitas Garut, Selasa (12/5/2026).
Rektor Universitas Garut, Dr. H. Irfan Nabhani, S.E., M.T., mengatakan perguruan tinggi memiliki tanggung jawab besar untuk mentransfer ilmu pengetahuan, mengembangkan inovasi, dan menghasilkan penelitian yang memberi manfaat langsung bagi masyarakat.
“Kampus sebagai lembaga pendidikan tinggi memiliki peran untuk mentransfer, mengembangkan, dan melakukan inovasi penelitian, terutama di bidang enzim ini,” ujar Irfan Nabhani.
Ia menegaskan, Universitas Garut memiliki sumber daya manusia unggul dan gagasan inovatif yang harus diperkuat melalui kolaborasi dengan dunia industri dan lembaga riset.
Menurutnya, model kerja sama triple helix antara kampus, industri, dan BRIN menjadi kunci agar hasil penelitian tidak berhenti sebagai konsep akademik, melainkan benar-benar diterapkan di sektor usaha.
“Kami memiliki SDM unggul dan gagasan inovatif. Karena itu dibutuhkan kolaborasi triple helix antara kampus, industri, dan BRIN agar produk hasil penelitian bisa diterapkan di dunia industri dan memberi dampak nyata bagi masyarakat,” katanya.
Kepala Mikrobiologi Terapan BRIN, Dr. Ahmad Fathoni, M.Eng., menjelaskan bahwa industri penyamakan kulit di Indonesia selama ini masih sangat bergantung pada enzim impor.
Menurutnya, kondisi tersebut berisiko tinggi ketika terjadi gangguan pasokan global, karena dapat menghambat produksi, memicu penumpukan limbah kulit, meningkatkan pencemaran lingkungan, hingga mengancam lapangan pekerjaan.
“Hari ini kita mengembangkan enzim lokal yang diproduksi di Indonesia menggunakan mikroba asli Indonesia. Jika industri terlalu bergantung pada impor, ketika pasokan terganggu, industri bisa lumpuh,” ujar Ahmad Fathoni.
Ia menyebut kolaborasi BRIN, Universitas Garut, dan pelaku industri merupakan model ideal yang menunjukkan bahwa hasil riset dapat langsung dimanfaatkan dunia usaha.
“Ini bisa menjadi role model sinergi antara lembaga riset, kampus, dan industri. Hasil riset tidak berhenti di laboratorium, tetapi langsung diproduksi dan dimanfaatkan oleh pelaku usaha,” ucapnya.
Melalui inovasi ini, Garut yang dikenal sebagai salah satu sentra industri kulit nasional diharapkan tidak hanya memperkuat daya saing industrinya, tetapi juga menjadi contoh kemandirian industri berbasis riset dan teknologi dalam negeri.
“Riset kampus dan riset BRIN harus benar-benar berdampak nyata bagi masyarakat,” pungkas Ahmad Fathoni.***
Penulis : Soni Tarsoni

















