WARTAGARUT.COM – Teknologi kecerdasan buatan (AI) kini mulai mengambil alih pekerjaan yang selama ini identik dengan penagih utang atau debt collector.
Di Amerika Serikat, sejumlah perusahaan penagihan telah menggunakan agen AI untuk menghubungi debitur yang menunggak pembayaran, menandai perubahan besar dalam industri penagihan utang.
Perkembangan ini terjadi di tengah lonjakan utang masyarakat Amerika Serikat yang mencapai rekor tertinggi.
Tingginya inflasi dan kondisi pasar kerja yang semakin kompetitif membuat jumlah keterlambatan pembayaran pinjaman maupun tagihan kredit terus meningkat.
Meningkatnya jumlah debitur bermasalah mendorong perusahaan pembiayaan dan penagihan mencari cara yang lebih efisien untuk mengejar pembayaran.
Salah satu solusi yang kini banyak digunakan adalah agen AI berbasis suara yang mampu melakukan ribuan panggilan secara otomatis setiap hari.
Agen AI Mulai Tangani Jutaan Panggilan Penagihan
Dikutip dari cnbcindonesia.com, Laporan terbaru dari Futurism mengungkap penggunaan AI dalam industri penagihan utang semakin meluas.
Salah satu kasus yang menjadi sorotan dialami Ben, warga Seattle, yang menerima panggilan dari agen suara AI bernama Eve.
AI tersebut dioperasikan oleh perusahaan penagihan ProCollect untuk menagih sengketa utang senilai US$226 atau sekitar Rp4 juta yang dikaitkan dengan tempat tinggal Ben sebelumnya.
Masalahnya, utang tersebut sebenarnya telah diselesaikan.
Namun sistem AI tetap berulang kali meminta pembayaran tanpa mampu memahami penjelasan yang diberikan.
Dalam percakapan itu, Eve terus mengulang pertanyaan terkait metode pembayaran dan tidak langsung menghubungkan Ben dengan petugas manusia meskipun telah dijelaskan bahwa kewajiban tersebut sudah lunas.
Setelah berbagai upaya dilakukan untuk keluar dari sistem otomatis, Ben akhirnya berhasil berbicara dengan staf manusia.
Hasil verifikasi menunjukkan bahwa penagihan tersebut memang merupakan kesalahan administrasi karena utang telah dibayarkan sebelumnya.
Industri Penagihan Utang Jadi Pengadopsi AI Tercepat
Pedro Fernández, pendiri perusahaan layanan panggilan AI Altur, menyebut sektor penagihan utang termasuk industri yang paling cepat mengadopsi kecerdasan buatan.
Menurutnya, perusahaan yang dipimpinnya kini menangani lebih dari 2,5 juta panggilan penagihan setiap bulan menggunakan agen AI.
Teknologi ini menawarkan efisiensi tinggi karena mampu bekerja tanpa henti dan menghubungi lebih banyak debitur dibandingkan tenaga manusia.
Namun di balik keunggulan tersebut, terdapat tantangan besar yang belum sepenuhnya terselesaikan.
Risiko Salah Tagih Masih Jadi Sorotan
Salah satu kelemahan utama sistem AI dalam penagihan utang berasal dari kualitas data yang digunakan.
Dalam praktiknya, data utang sering berpindah dari kreditur awal ke perusahaan pembeli utang lainnya.
Proses perpindahan tersebut kerap menghasilkan catatan yang tidak lengkap atau tidak diperbarui dengan baik.
Kondisi ini membuat sistem AI berpotensi melakukan kesalahan, mulai dari menagih utang yang sudah lunas hingga menghubungi orang yang sebenarnya tidak memiliki kewajiban pembayaran.
Berbeda dengan AI yang bekerja berdasarkan data dan pola tertentu, petugas penagihan manusia memiliki kemampuan untuk memahami konteks, mendengarkan penjelasan, serta bernegosiasi ketika terjadi sengketa atau ketidaksesuaian informasi.
Efisiensi Tinggi, Tapi Belum Sepenuhnya Dipercaya
Pemanfaatan AI dalam penagihan utang diperkirakan akan terus berkembang seiring kemajuan teknologi dan kebutuhan perusahaan untuk menekan biaya operasional.
Meski demikian, isu akurasi data, perlindungan konsumen, dan keadilan dalam proses penagihan masih menjadi tantangan utama.
Banyak pihak menilai teknologi ini belum dapat sepenuhnya menggantikan peran manusia, terutama dalam menangani kasus yang membutuhkan pertimbangan dan verifikasi lebih mendalam.
Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa masa depan industri penagihan utang kemungkinan akan mengarah pada kombinasi antara kecerdasan buatan dan tenaga manusia, bukan penggantian total dalam waktu dekat.***
Penulis : Soni Tarsoni


















Komentar