WARTAGARUT.COM – Sosok polisi ikonik yang dikenal tegas namun humoris, Ambarita, kembali menyita perhatian publik lewat pernyataannya yang menohok di kanal YouTube Deddy Corbuzier.
Dalam perbincangan santai bersama Praz Teguh, perwira yang kini berpangkat Inspektur Dua (Ipda) ini blak-blakan membahas mentalitas anggota kepolisian, perjalanan kariernya sejak era reformasi 1998, hingga pandangannya soal gaji kecil yang kerap dijadikan alasan kinerja buruk.
Ambarita menegaskan bahwa menjadi polisi adalah jalan pengabdian, bukan ladang mencari kekayaan, sembari membagikan kisah transformasinya dari lapangan keras menuju dunia kehumasan digital.
Mentalitas Pengabdian: “Gaji Kecil? Jangan Jadi Polisi”
Dalam podcast yang dipandu Praz Teguh tersebut, Ambarita menyoroti fenomena oknum polisi yang menjadikan gaji kecil sebagai pembenaran atas kinerja yang tidak maksimal.
Dengan nada tegas khasnya, ia mempertanyakan motivasi mereka yang mengeluh.
“Misalnya polisinya tidak bekerja maksimal, terus pembenarannya ‘polisi kan gajinya dikit’. Pertanyaannya, ngapain lu jadi polisi? Kalau mau kaya, jangan jadi polisi, jadi pengusaha atau bawa acara,”
Pernyataan ini bukan tanpa dasar. Bagi Ambarita, profesi kepolisian adalah tentang hati dan pelayanan.
Ia menekankan bahwa risiko dicaci maki adalah bagian dari paket pekerjaan tersebut.
“Polisi itu dicaci tidak tumbang, dipuji tidak terbang,” ujarnya, menyiratkan filosofi ketahanan mental yang harus dimiliki setiap bhayangkara.
Lulusan Terbaik dan Pangkat Baru
Momen istimewa terungkap dalam percakapan tersebut ketika Ambarita mengonfirmasi status barunya.
Setelah menjalani pendidikan alih golongan, sosok yang populer dengan seragam Sabhara ini kini resmi menyandang pangkat perwira pertama, yakni Inspektur Polisi Dua (Ipda).
Prestasi ini semakin mentereng dengan fakta bahwa ia lulus sebagai peringkat satu dari 1.780 peserta di angkatannya.
Profil Singkat Ipda Ambarita
Pangkat Baru: Inspektur Polisi Dua (Ipda)
Jabatan: Komandan Peleton (Danton) Perintis Presisi
Prestasi Pendidikan: Lulusan Terbaik (Ranking 1) Resimen Eka Satya Prawira
Tahun Masuk: Pendidikan 1998, Dinas 1999
Ambarita menjelaskan bahwa kini ia memegang peran sebagai First Line Supervisor.
Tanggung jawabnya bukan lagi sekadar pelaksana, melainkan pengendali taktis di lapangan yang tertuang resmi dalam struktur organisasi.
Flashback 1998: Tameng Rotan dan Kompi Justisi
Karier panjang Ambarita dimulai di masa-masa genting transisi reformasi.
Masuk pendidikan pada tahun 1998, tugas pertamanya adalah bergabung dalam Kompi Justisi, sebuah unit gabungan TNI-Polri (saat itu masih ABRI) yang ditugaskan menangani unjuk rasa besar-besaran.
“Dulu tamengnya masih rotan, belum seperti sekarang. Kalau dilempar bukan cuma sakit, tapi perjuangannya luar biasa,” kenangnya. Pengalaman di garis depan menghadapi massa inilah yang menempa insting dan mentalitasnya dalam menghadapi situasi kritis di jalanan Jakarta bertahun-tahun kemudian.
Etika Penindakan dan Perkab 01/2009
Meski dikenal garang saat menindak kriminal jalanan, Ambarita menekankan pentingnya prosedur.
Ia merujuk pada Peraturan Kapolri (Perkab) Nomor 1 Tahun 2009 tentang Penggunaan Kekuatan dalam Tindakan Kepolisian.
Menurutnya, tindakan tegas wajib dilakukan, namun tetap terukur.
“Ketemu begal nggak mungkin kita bilang ‘berhenti dong, jangan mencuri lagi’. Itu nggak mungkin. Kalau keras itu wajib, tapi polisi juga harus punya hati,” jelasnya.
Ia menegaskan bahwa batas antara polisi dan penjahat itu tipis, dan yang membedakan adalah kewenangan hukum serta hati nurani dalam penggunaannya.
Transformasi di Humas: Dari Jalanan ke Digital
Sempat dimutasi ke Bidang Humas Polda Metro Jaya beberapa waktu lalu, Ambarita tidak menganggapnya sebagai hukuman, melainkan kesempatan belajar.
Di sana, ia justru mengembangkan kemampuan multimedia secara otodidak.
Hasilnya nyata. Ia menginisiasi program “Podcast Ngojek Sabar” dan berhasil mendongkrak pengikut Instagram resmi dari 2.400 menjadi lebih dari 160.000 followers.
“Kita menaiki kapal, harus patuh pada nakhoda. Di Humas saya belajar hal baru, dan itu membuktikan bahwa polisi bisa beradaptasi di mana saja,” pungkasnya dengan bangga.***

















