WARTAGARUT.COM – Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Garut, Dr. Agus Rahmat Nugraha, M.Ag., menekankan pentingnya membangun budaya dialog, menjaga kekompakan, dan memperkuat amal saleh dalam mengelola lembaga pendidikan Muhammadiyah.
Pesan tersebut disampaikan Dr. Agus Rahmat Nugraha dalam acara pelantikan Iwan Jalaludin, S.Ag., sebagai Kepala SMP Muhammadiyah Garut di Gedung Dakwah Muhammadiyah Garut, Jumat (23/10/2026).
Menurut Dr Agus, dialog yang terbuka dan bijaksana menjadi salah satu kunci bagi Muhammadiyah untuk menjaga konsistensi gerakan sekaligus menghadapi tantangan perubahan zaman.
Ia mengingatkan bahwa komunikasi yang tidak berjalan dengan baik dapat memicu kesalahpahaman, sikap saling curiga, hingga penolakan terhadap pandangan yang berbeda.
“Dalam menjalankan gerakan Muhammadiyah, kita perlu tetap kompak, kreatif, dan komunikatif. Semua pihak harus merasa diakui, nyaman, dan bisa saling mempercayai,” demikian pesan Dr. Agus Rahmat Nugraha dalam amanahnya.
Dialog sebagai Landasan Gerakan Muhammadiyah
Dr. Agus mengaitkan pentingnya dialog dengan ajaran Al-Qur’an, khususnya Surah An-Nahl ayat 125, yang memerintahkan umat untuk menyeru kepada jalan Allah dengan hikmah, pengajaran yang baik, serta berdialog dengan cara yang bijaksana.
Prinsip tersebut, menurutnya, perlu diterapkan dalam kehidupan organisasi, termasuk ketika kepala sekolah, majelis pendidikan, guru, dan pengelola perguruan Muhammadiyah menghadapi perbedaan pandangan.
Dialog bukan sekadar bertukar pendapat, melainkan upaya membangun pemahaman bersama tanpa menghilangkan penghormatan terhadap pihak lain.
Dr. Agus menilai, konsistensi Muhammadiyah dalam menjaga pola gerakan yang kompak, kreatif, dan komunikatif menjadi bagian penting dalam mempertahankan keberlangsungan organisasi hingga memasuki abad kedua.
Ia mengingatkan bahwa komunikasi merupakan bagian mendasar dari kehidupan manusia sebagai makhluk individu sekaligus makhluk sosial.
Tanpa komunikasi yang sehat, hambatan interaksi dan kesalahpahaman dapat semakin sulit diatasi.
Tiga Bahaya Ketika Dialog Terhenti
Dr. Agus juga mengingatkan sejumlah risiko ketika seseorang atau kelompok menutup diri dari dialog.
Pertama, munculnya echo chamber atau ruang gema, yakni keadaan ketika seseorang hanya menerima pandangan yang menguatkan keyakinannya sendiri.
Pendapat dari luar kelompok cenderung dianggap salah, sementara dirinya merasa sebagai pemilik kebenaran mutlak.
Kedua, otoritarianisme pemikiran. Sikap tertutup dapat membuat seseorang sulit menerima perbedaan dan cenderung membagi pihak lain berdasarkan kedekatan kelompok.
Akibatnya, penilaian terhadap suatu persoalan berisiko kehilangan objektivitas dan keadilan.
Ketiga, stereotip atau pelabelan yang keliru terhadap pihak lain.
Prasangka yang terus dipelihara dapat menumbuhkan ketidakpercayaan dan membuat seseorang menutup kesempatan untuk memahami perspektif berbeda.
Menurut Dr. Agus, ketiga persoalan tersebut dapat menghambat hubungan antarmanusia maupun kerja sama dalam organisasi pendidikan.
Karena itu, perbedaan pandangan seharusnya tidak langsung diperlakukan sebagai ancaman.
Sebaliknya, perbedaan perlu dikelola melalui komunikasi yang sehat, keterbukaan, dan kesediaan untuk saling memahami.
Amanah bagi Kepala Sekolah dan Majelis Pendidikan
Pesan tersebut secara khusus ditujukan kepada kepala sekolah, Majelis Pendidikan Dasar, Menengah, dan Pendidikan Nonformal (Dikdasmen dan PNF), serta seluruh unsur persyarikatan yang terlibat dalam pengelolaan lembaga pendidikan Muhammadiyah.
Dr. Agus Rahmat Nugraha mendorong para pengelola pendidikan untuk membuka ruang dialog dengan sepenuh hati, termasuk kepada pihak-pihak yang selama ini cenderung menutup diri dari komunikasi.
Pendekatan yang dilakukan, menurutnya, tidak cukup hanya melalui kata-kata.
Sikap terbuka harus dibuktikan melalui tindakan nyata dalam kehidupan sosial, budaya, dan keagamaan.
Ia menekankan pentingnya menghadirkan keteladanan melalui karya dan perilaku sehari-hari.
Dengan cara itu, nilai-nilai Muhammadiyah dapat dirasakan secara langsung oleh masyarakat, bukan hanya disampaikan sebagai gagasan.
Pelantikan kepala sekolah, dalam konteks tersebut, menjadi momentum untuk memperkuat tanggung jawab kepemimpinan pendidikan.
Kepala sekolah tidak hanya dituntut mengelola kegiatan belajar mengajar, tetapi juga membangun hubungan yang sehat di antara guru, peserta didik, orang tua, dan lingkungan masyarakat.
Budaya dialog yang disertai amal saleh dan karya nyata diharapkan menjadi bagian dari upaya menjaga kepercayaan serta memperkuat kontribusi pendidikan Muhammadiyah bagi masyarakat.
Penulis : Soni Tarsoni
Editor : Soni Tarsoni

















Komentar