Home / Uncategorized

Minggu, 1 Mei 2022 - 07:21 WIB

Sejarah Hari Buruh di Indonesia

WARTA GARUT – Sejarah Hari Buruh di Indonesia dimulai pada  masa Kolonial (penjajahan) Hindia Belanda pada tanggal 1 Mei 1918 yang diprakarsai oleh serikat Buruh Kung Tang Hwee.

Aksi tersebut  bermula dari tulisan  tokoh sosialis Belanda Adolf Baars.

Saat itu, Adolf Baars mengkritik harga sewa tanah milik kaum buruh yang terlalu murah untuk dijadikan perkebunan.  Juga, para  pekerja bekerja keras tanpa upah yang layak.

Pada tahun 1921, HOS Tjokroaminoto, didampingi muridnya Soekarno, berpidato mewakili serikat-serikat buruh di bawah  pengaruh  Sarekat Islam.

Dua tahun kemudian, pada tahun 1923, terjadi  peringatan Hari Buruh  terpanjang di era kolonial .

Perayaan Hari  Buruh  Nasional  Muncul  Kembali  Sejak  Kemerdekaan.

Sejarah Hari Buruh 1 Mei 1946 menyebutkan  bahwa  KabinetSjahrir  mengizinkan perayaan in bahkan  mendorongnya.

Menurut Undang-undang  Nomor No. 12 Tahun 1948 juga mengatur bahwa pekerja tidak diperbolehkan bekerja pada tanggal 1 Mei setiap tahun.

Baca juga   Pasca Porkab Garut, KONI Garut Minta Lakukan Pemusatan Latihan untuk Hadapi Porda Jabar 2022

Undang-undang tersebut juga mengatur tentang perlindungan anak dan hak-hak perempuan sebagai pekerja.

Pada tanggal 19 Mei 1948, ribuan petani  dan buruh  melakukan  pemogokan, menuntut pembayaran upah yang telah tertunda .

Aksi Tindakan ini juga memicu aksi-aksi lainnya .

Pemogokan berhenti pada 14 Juli 1948, setelah Perdana Menteri Mohammad Hatta Hatta mengadakan pertemuan dengan Sentral Organisasi Buruh Seluruh  Indonesia (SOBSI) .

Pada tahun 1950, buruh kembali menuntut haknya, yaitu Tunjangan Hari Raya (THR).

Pemerintah mengeluarkan Peraturan Kekuasaan  Militer Pusat. Nomor 1 Tahun /1951 yang  merupakan awal dari keterlibatan militer  dalam isu  perburuhan.

Dalam  sejarah Hari  Buruh di era Orde Baru, perayaan  Hari  Buruh dilarang karena identik  dengan  egiatan dan paham  komunis.

Pada tahun 1960, istilah buruh  juga diganti dengan istilah karyawan  di  masa ini. Karyawan diambil dari kata karya  (kerja) dan -wan (orang).

Baca juga   Bupati Garut Imbau Masyarakat Untuk Membayar Pajak Melalui E-Filling

Pada masa reformasi dan keterbukaan,  Hari  Buruh kembali menjadi perayaan rutin  di banyak kota,   tuntutan mulai dari kesejahteraan hingga penghapusan sistem alih daya (outsourcing).

BJ Habibie, sebagai Presiden pertama Reformasi,  meratifikasi  Konvensi  ILO Nomor  81 tentang  Kebebasan  Berserikat  Buruh.

Pada tanggal 1 Mei 2013,  sebuah peristiwa  bersejarah  penting  di  Indonesia  adalah  Hari  Buruh.

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menetapkan  Hari  Buruh sebagai hari libur nasional.

Dari tahun ke tahun, tanggal 1 Mei menjadi ajang buruh  untuk  menuntut hak- haknya, mulai dari upah yang pembayaran tertunda , jam kerja dan upah yang layak.

Selain itu , 1 Mei  telah menjadi momentum  para  buruh  untuk memperjuangkan hak cuti hamil, hak cuti haid, dan Tunjangan  Hari Raya (THR) yang bisa kita nikmati hingga saat ini.

 

Share :

Baca Juga

Uncategorized

Baznas Garut Tetapkan Zakat Fitrah Ramadan 1433 H/2022

Uncategorized

Pemkab Garut Gelar Peringatan Isra Mikraj Nabi Muhammad SAW Secara Virtual

Uncategorized

Istri meninggal & rawat 2 balita, Pak Cepi dapat Modal usaha dari Global Wakaf

Uncategorized

Inovasi Sariban Raih Penghargaan ASN Berprestasi dari Pemprov Jabar

Uncategorized

BPJS Ketenagakerjaan Garut Lakukan Sosialisasi Manfaat Kepesertaan Bagi Perangkat Desa 

Uncategorized

Bupati Garut Imbau Masyarakat Untuk Membayar Pajak Melalui E-Filling

Uncategorized

Resmikan Alun-alun Garut, Ridwan Kamil Minta Perbanyak Kegiatan Kreatif

Uncategorized

Pasca Porkab Garut, KONI Garut Minta Lakukan Pemusatan Latihan untuk Hadapi Porda Jabar 2022