WARTAGARUT.COM – Peringatan Hari Pers Nasional (HPN) yang jatuh setiap tanggal 9 Februari menjadi momen refleksi bagi insan pers di seluruh tanah air, tak terkecuali di Kabupaten Garut.
Pada momentum HPN tahun 2026 ini, ingatan publik kembali ditarik pada sosok wartawan legendaris asal Garut, Yoyo Dasriyo, atau yang lebih akrab disapa dengan nama pena Yodaz.
Melalui unggahan terbarunya bertajuk “Lewat Lini Masa”, akun Instagram sejarah dan budaya @masalewat_garut mengangkat kembali kiprah Yodaz sebagai jurnalis yang memiliki segudang karya dan kontribusi signifikan, tidak hanya di dunia jurnalistik tetapi juga dalam ranah budaya dan hiburan.
Dalam unggahan yang didedikasikan khusus untuk memperingati Hari Pers Nasional tersebut, Yoyo Dasriyo digambarkan sebagai figur wartawan yang “serba bisa”.
Berdasarkan data yang dihimpun dari materi publikasi tersebut, Yodaz merupakan pria kelahiran Garut pada tahun 1952.
Sosoknya tidak hanya dikenal kaku sebagai pencari berita, melainkan melebur dalam berbagai peran strategis lainnya.
Ia disebut sebagai wartawan, tokoh budaya, sekaligus pelaku dunia hiburan. Keluwesan perannya ini menjadikan Yodaz sebagai ikon jurnalisme Garut yang memiliki warna tersendiri dalam sejarah pers lokal maupun nasional.
Salah satu bukti otentik kiprah Yoyo Dasriyo yang ditampilkan adalah sebuah foto dokumentasi hitam putih yang bernilai sejarah tinggi.
Foto tersebut menampilkan Yoyo Dasriyo tengah berada dalam keriuhan acara Festival Film Indonesia (FFI) yang digelar di Bandung pada tahun 1985.
Keterangan foto yang tertulis, “Yoyo Dasriyo dalam acara FFI Bandung tahun 1985, koleksi Yodaz,” menegaskan posisinya yang strategis dalam meliput acara-acara besar nasional pada zamannya.
Kehadirannya di ajang bergengsi sekelas FFI menunjukkan bahwa jangkauan liputan dan pergaulan jurnalistiknya melampaui batas daerah, menempatkannya di pusaran peristiwa kebudayaan penting Indonesia.
Tanggal 9 Februari bukan sekadar tanggal merah bagi insan pers, melainkan sebuah penanda identitas.
Akun @masalewat_garut menuliskan narasi, “Hari Pers Nasional yang diperingati setiap tanggal 9 Februari selalu membawa ingatan pada kiprah wartawan Garut yang satu ini.”
Pengangkatan kembali profil Yodaz bukan tanpa alasan; ia merepresentasikan dedikasi dan konsistensi. Di tengah arus informasi digital yang serba cepat saat ini, menengok kembali pada sosok jurnalis era analog seperti Yodaz memberikan perspektif tentang ketekunan, kedalaman, dan integritas profesi wartawan di masa lalu.
Dalam *caption* unggahannya, disebutkan secara eksplisit bahwa, “Ada satu sosok wartawan asal Garut yang punya segudang karya.”
Publik diajak untuk menyimak ulasan lebih lanjut mengenai apa saja karya-karya beliau melalui segmen “Lewat Lini Masa”.
Meskipun rincian daftar karya tulis atau buku spesifiknya tidak dijabarkan secara penuh dalam satu bingkai visual yang tersedia, istilah “segudang karya” mengindikasikan produktivitas yang tinggi.
Bagi generasi muda Garut, ini adalah undangan untuk menggali lebih dalam arsip-arsip tulisan Yodaz yang mungkin tersebar di berbagai media cetak lawas, naskah drama, atau liputan budaya yang pernah ia hasilkan semasa hidupnya.
Unggahan ini memantik nostalgia di kalangan warganet yang pernah bersentuhan dengan karya-karya Yodaz. Respons hangat bermunculan di kolom komentar, memvalidasi eksistensi dan pengaruh Yoyo Dasriyo di masa jayanya.
Akun @diyana.firdiansyah mengenang, Komentar ini mengonfirmasi bahwa Yodaz adalah pilar penting di media lokal Garut.
“Dulu sering baca tulisan-tulisan beliau di koran Garut Pos.”
Sementara itu, akun @atmono69 memberikan detail yang lebih spesifik mengenai rekam jejak karier Yodaz dengan berkomentar dalam Bahasa Sunda, Ia juga menyebutkan kebiasaan Yodaz berkumpul di kawasan Pajajaran.
“Waas kang Yoyo… Wartawan Garut yang ‘kahot’ (senior/hebat) di zamannya… Kalau tidak salah pernah jadi koresponden Garut SK Berita Yudha.”
Informasi menarik lainnya datang dari akun @benybenfany yang mengungkapkan sisi lain Yodaz sebagai pelaku dunia hiburan, Doa dan kenangan ini menegaskan bahwa Yoyo Dasriyo bukan sekadar pencatat sejarah, melainkan bagian dari sejarah itu sendiri.
“Dan Almarhum kalau tidak salah ikut main di Sinetron Impian Pengantin, yang saat itu set lokasinya di Garut juga. Alfatihah Pak Yodaz.”
Penulis : Soni Tarsoni
Sumber Berita : IG: masalewat_garut

















