WARTAGARUT.COM – Institut Kesehatan Karsa Husada Garut (IKKHG) menjadi salah satu lokasi peninjauan implementasi program Digitally Enabled District (DED) 2.0 yang melibatkan Gates Foundation, Kementerian Kesehatan, Summit Institute for Development (SUMMIT), dan sejumlah mitra.
Kunjungan ini bertujuan mengevaluasi penerapan teknologi digital dalam layanan kesehatan primer sekaligus mengidentifikasi praktik baik yang berpotensi dikembangkan di tingkat nasional.
Kegiatan tersebut berlangsung di Kampus 3 IKKHG, Kabupaten Garut, Selasa (3/11/2026).
Peninjauan juga mencakup Posyandu, Puskesmas, serta diskusi bersama Dinas Kesehatan Kabupaten Garut.
Chief Operating Officer Summit Institute for Development, Lia Rosida, M.Dev.St., menjelaskan bahwa kunjungan tersebut merupakan bagian dari upaya menilai penerapan praktik baik transformasi digital kesehatan di lapangan.
Menurut Lia, tim yang melibatkan Kementerian Kesehatan dan Gates Foundation bersama sejumlah lembaga mitra ingin melihat bagaimana ekosistem DED diterapkan, khususnya dalam pelayanan kesehatan primer.
“Mereka datang ke sini sebenarnya ingin melihat implementasi best practice dari Digitally Enabled District, khususnya terkait dengan transformasi digital di kesehatan primer,” ujar Lia.
Ia menjelaskan, peninjauan tidak hanya berfokus pada penggunaan teknologi di fasilitas kesehatan, tetapi juga pada kolaborasi dengan Dinas Kesehatan, Puskesmas, Posyandu, dan kalangan akademisi.
Keterlibatan perguruan tinggi menjadi salah satu aspek yang turut diperhatikan.
Menurut Lia, penguatan sumber daya lokal diperlukan agar penerapan digitalisasi kesehatan dapat berlanjut melalui peran mahasiswa dan tenaga akademik.
“Best practice di kalangan akademisi juga perlu dilihat,” katanya.
Lia menyebut peninjauan dilakukan di tiga lokasi, yakni Garut di Jawa Barat, Purbalingga di Jawa Tengah, serta Maros di Sulawesi Selatan.
Hasil penilaian dari sejumlah lokasi tersebut akan menjadi bahan untuk melihat praktik mana yang layak dikembangkan lebih luas.
Ia menegaskan, proses tersebut masih berupa asesmen untuk menentukan model yang sesuai.
Dengan demikian, kemungkinan penerapan secara nasional bergantung pada hasil penilaian dan pertimbangan pihak terkait.
DED 2.0 Perkuat Ekosistem Kesehatan Digital
Program DED merupakan kolaborasi Summit Institute for Development dan Pemerintah Kabupaten Garut yang telah berjalan sejak 2023 dengan dukungan Gates Foundation.
Program ini diarahkan untuk memperkuat integrasi layanan kesehatan primer, pemanfaatan data, serta dukungan terhadap tenaga kesehatan di lapangan.
Ekosistem DED 2.0 mencakup sejumlah perangkat digital, antara lain SMART KuApps untuk pencatatan dan pelaporan di tingkat masyarakat, dashboard digital untuk pemantauan data, Dynamic Worker Support (DWS) untuk mendukung pengelolaan kegiatan lapangan, serta HealthComm untuk komunikasi dan konsultasi kesehatan.
Peninjauan dilakukan untuk melihat bagaimana perangkat tersebut digunakan dalam alur pelayanan, bagaimana data dimanfaatkan, serta tantangan dan kebutuhan dukungan yang dihadapi pengguna.
Temuan dari lapangan diharapkan dapat menjadi masukan dalam penyusunan paket pengembangan DED yang berpotensi direplikasi di wilayah lain.
IKKHG Dukung Layanan BUNDA HEBAT HealthComm
Ketua Pembina Yayasan Dharma Husada Insani Garut, Dr. H. Hadiat, MA, menyampaikan bahwa IKKHG mendapat kepercayaan menjadi bagian dari ekosistem transformasi digital kesehatan melalui perannya sebagai pusat layanan BUNDA HEBAT HealthComm.
“Program DED ini bukan sekadar program aplikasi. Ini adalah ikhtiar mulia untuk menjawab persoalan nyata di Garut,” ujar Dr. Hadiat.
Ia mencontohkan pemanfaatan SMART KuApps oleh kader Posyandu di Sukasono dan bidan desa di Sukawening, penggunaan dashboard PWS di Puskesmas Maripari, serta layanan konsultasi melalui HealthComm yang dikelola dengan dukungan dosen dan mahasiswa.
Yayasan Dharma Husada Insani, lanjut Dr. Hadiat, berkomitmen mendukung keberlanjutan program melalui penyediaan sumber daya manusia, fasilitas, serta penguatan peran kampus.
Ekosistem DED juga direncanakan terintegrasi ke dalam pembelajaran mahasiswa agar mereka memiliki pengalaman menggunakan teknologi digital dalam pelayanan kesehatan.
Sementara itu, Rektor IKKHG,Dr. Iwan Wahyudi, S.Kep., Ners., M.Kep., menilai transformasi digital kesehatan tidak cukup hanya dengan menghadirkan aplikasi.
Teknologi harus benar-benar menjawab kebutuhan masyarakat, membantu tenaga kesehatan, dan memperkuat koordinasi antarpihak.
IKKHG, kata Dr. Iwan, dapat mendukung program melalui pendidikan dan pengembangan kompetensi, penelitian terapan, pengabdian kepada masyarakat, serta kerja sama dengan pemerintah daerah dan fasilitas pelayanan kesehatan.
Ia juga menekankan pentingnya etika profesi, keamanan data, dan kerahasiaan informasi pasien dalam pemanfaatan teknologi digital.
“Teknologi harus memperkuat kompetensi dan sentuhan kemanusiaan tenaga kesehatan, bukan menggantikannya,” ujar Dr. Iwan.
Peninjauan DED 2.0 di Garut menjadi bagian dari proses pembelajaran untuk memahami praktik pelaksanaan, tantangan, dan faktor pendukung transformasi digital kesehatan.
Peluang perluasan program ke tingkat nasional masih memerlukan penilaian terhadap hasil implementasi dan kesesuaian model yang diterapkan.***
Penulis : Soni Tarsoni
Editor : Soni Tarsoni

















Komentar