WARTAGARUT.COM – Kejuaraan Daerah (Kejurda) Tapak Suci Kabupaten Garut Tahun 2026 kembali digelar setelah sekitar 16 tahun tidak terselenggara. Ajang yang menjadi bagian dari rangkaian Milad Muhammadiyah ke-114 ini diikuti 208 atlet dari berbagai sekolah dan madrasah tingkat SD/MI, SMP/MTs, hingga SMA/SMK/MA se-Kabupaten Garut.
Kejurda Tapak Suci Garut 2026 dibuka pada Jumat (30/10/2026) di Aula Gedung Dakwah Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Garut, Jalan Pembangunan Nomor 155, Kecamatan Tarogong Kidul.

Ketua Pelaksana Kejurda Tapak Suci Garut 2026, Rai Bhakti Juniar, S.Pd.,K.Ma., mengatakan jumlah peserta mencapai 208 atlet yang berasal dari berbagai jenjang pendidikan.
“Alhamdulillah, tahun ini Kejurda diikuti 208 atlet se-Kabupaten Garut. Rinciannya, 51 atlet tingkat SD, 65 atlet tingkat SMP, dan 92 atlet tingkat SMA,” ujar Rai.
Dari sisi keterwakilan lembaga pendidikan, peserta berasal dari 14 SD/MI, 15 SMP/MTs, serta 27 SMA/SMK/MA.
Pertandingan dijadwalkan berlangsung selama tiga hari. Setelah pembukaan pada Jumat, kompetisi dilanjutkan pada Sabtu dan ditutup dengan partai final pada Minggu.
Isi Artikel
Kejurda Tapak Suci Jadi Momentum Kebangkitan Kader
Kembalinya penyelenggaraan Kejurda menjadi momentum tersendiri bagi perkembangan Tapak Suci di Kabupaten Garut.
Ketua Pimpinan Daerah Tapak Suci Garut, Risris Iwan Risdianan, S.Pd., P.Ma, mengungkapkan rasa bangganya karena Garut telah memiliki 50 kader yang mencapai tingkat sabuk biru.
Menurutnya, capaian tersebut menjadi salah satu perkembangan penting setelah sekitar 16 tahun tidak diselenggarakannya kejuaraan daerah maupun pengkaderan melalui momentum kompetisi seperti ini.
“Kami sangat bangga karena saat ini Kabupaten Garut sudah mencetak 50 kader Tapak Suci yang telah menyandang sabuk biru. Setelah 16 tahun, sejak 2010 belum ada Kejurda, Alhamdulillah tahun ini kegiatan ini bisa kembali dilaksanakan,” ungkapnya.
Ia mengingatkan para atlet bahwa kejuaraan bukan semata-mata tentang meraih kemenangan, tetapi juga membentuk karakter dan mental kesatria.
Menurut Risris, seorang atlet harus siap menerima kemenangan maupun kekalahan dengan sikap yang baik. Kemenangan tidak boleh membuat seseorang sombong, sementara kekalahan harus diterima sebagai bahan evaluasi untuk meningkatkan kemampuan.
“Kejuaraan itu bukan hanya untuk menjadi juara. Seorang atlet juga harus siap menjadi orang yang kalah. Yang paling berat adalah menerima kekalahan. Seorang kesatria harus mampu mengakui kekalahan dan menerima kemenangan tanpa kesombongan,” pesannya kepada para peserta.
Ia juga mengingatkan para kader agar senantiasa memegang teguh prinsip dasar Tapak Suci, yakni iman dan akhlak sebagai landasan kekuatan seorang pendekar.
“Jadikan pertandingan sebagai tempat mendapatkan ilmu dan pengalaman. Apa yang diperoleh selama bertanding harus menjadi bahan koreksi dan perbendaharaan untuk menghadapi pertandingan berikutnya,” tambahnya.
PDM Garut Tekankan Pembentukan Karakter dan Dakwah
Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Garut, Dr. Agus Rahmat Nugraha, M.Ag., menyebut Kejurda Tapak Suci menjadi kegiatan pembuka dari total 20 agenda yang disiapkan dalam rangka Milad Muhammadiyah ke-114 tingkat Kabupaten Garut.

Ia berharap para kader Tapak Suci tidak hanya memiliki kemampuan bela diri dan kekuatan fisik, tetapi juga tumbuh menjadi pribadi yang berkarakter, memiliki keimanan, serta ketakwaan yang kuat.
“Kami berharap kader Tapak Suci tidak hanya kuat secara fisik dan jasmani, tetapi juga mampu memperkuat karakter, keimanan, dan ketakwaan. Mereka harus memiliki mentalitas yang siap menghadapi masa depan dengan penuh optimisme,” kata Dr. Agus Rahmat Nugraha.
Dr. Agus juga mendorong Tapak Suci menjadi bagian dari gerakan dakwah amar makruf nahi mungkar di lingkungan Muhammadiyah.
Menurutnya, proses kaderisasi harus berjalan secara terstruktur dan terorganisasi agar regenerasi kepemimpinan di tubuh Tapak Suci terus berlanjut.
Ia berharap kegiatan kejuaraan seperti ini dapat terus ditingkatkan sehingga pembinaan atlet dan kader di Kabupaten Garut semakin berkembang.
20 Agenda Milad Muhammadiyah ke-114 Libatkan Berbagai Kalangan
Selain Kejurda Tapak Suci, PDM Garut telah menyiapkan berbagai kegiatan untuk memeriahkan Milad Muhammadiyah ke-114.
Dr. Agus menjelaskan, agenda tersebut mencakup perlombaan ISMUBA (Al-Islam, Kemuhammadiyahan, dan Bahasa Arab), kompetisi akademik dan nonakademik untuk siswa maupun guru, serta berbagai kegiatan olahraga.
Rangkaian kegiatan juga melibatkan delapan dapur yang berada di lingkungan Muhammadiyah Garut beserta sekretariatannya.
Beberapa perlombaan yang disiapkan di antaranya mini soccer, Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) tingkat dapur, serta lomba memasak.
Kegiatan Muhammadiyah ke-114 tingkat Garut dirancang untuk melibatkan berbagai unsur pendidikan dan organisasi Muhammadiyah, mulai dari TK/PAUD hingga perguruan tinggi.
Filosofi Daun Kelor dalam Milad Muhammadiyah ke-114
Dr. Agus Rahmat Nugraha turut menjelaskan filosofi tema dan simbol Milad Muhammadiyah ke-114 yang menggunakan daun atau pohon kelor.
Menurutnya, daun kelor memiliki tiga makna penting, yakni pertumbuhan, ketahanan pangan, dan kemanfaatan.
Makna pertama adalah pertumbuhan. Muhammadiyah diharapkan terus tumbuh dan berkarya di mana pun berada.
Kedua, daun kelor mencerminkan ketahanan pangan. Filosofi ini menggambarkan harapan agar Muhammadiyah mampu bertahan dalam berbagai situasi sekaligus hadir sebagai solusi bagi persoalan kebangsaan, keumatan, dan kemasyarakatan.
Ketiga, filosofi tersebut berkaitan dengan misi risalah Muhammadiyah untuk memberikan kemanfaatan bagi kehidupan, sejalan dengan nilai-nilai agama yang berorientasi pada kemaslahatan dunia dan akhirat.
Agus menjelaskan, pelaksanaan kegiatan Milad Muhammadiyah tingkat Kabupaten Garut kali ini lebih banyak dikreasikan dan dikoordinasikan oleh pimpinan daerah serta pimpinan cabang.
Ia juga menyinggung persiapan Muktamar Muhammadiyah 2027 di Sumatera Utara yang membutuhkan perhatian dan energi besar, terutama dalam merumuskan gagasan serta arah gerakan organisasi untuk masa depan.
Menurutnya, Muktamar bukan hanya menyangkut kesiapan infrastruktur penyelenggaraan, tetapi juga pembahasan konsep yang akan menjadi pijakan Muhammadiyah dalam menjalankan perannya pada masa mendatang.
Kejurda Jadi Persiapan Menuju Kejurwil Tapak Suci Jawa Barat 2027
Bagi panitia, Kejurda Tapak Suci Garut 2026 bukan sekadar ajang kompetisi, tetapi juga menjadi tahap awal pembinaan atlet untuk menghadapi kejuaraan tingkat yang lebih tinggi.
Rai Bhakti Juniar berharap kegiatan tersebut dapat terus dikembangkan dan dilestarikan, terutama karena pada 2027 para atlet Tapak Suci Garut akan menghadapi agenda Kejuaraan Wilayah (Kejurwil) Tapak Suci Jawa Barat.
“Kegiatan ini menjadi spirit dan permulaan bagi kita ke depan. Kejuaraan Daerah Tapak Suci harus terus dikembangkan dan dilestarikan, karena pada 2027 sudah menanti Kejurwil Tapak Suci Jawa Barat,” ujarnya.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada orang tua, guru, pelatih, pembina, dan seluruh pihak yang telah mendukung terselenggaranya kejuaraan tersebut.
Dengan keterlibatan 208 atlet dan kembalinya kompetisi daerah setelah jeda panjang, Kejurda Tapak Suci Garut 2026 diharapkan menjadi momentum penguatan prestasi, pembinaan karakter, serta regenerasi kader Tapak Suci di Kabupaten Garut.
Sebagaimana semboyan Tapak Suci yang terus ditanamkan kepada para kader, “Dengan iman dan akhlak saya menjadi kuat, tanpa iman dan akhlak saya menjadi lemah.”
Penulis : Soni Tarsoni
Editor : soni Tarsoni

















Komentar