WARTAGARUT.COM – Pendidikan tidak cukup hanya mengejar kecerdasan akademik. Penguatan karakter, nilai spiritual, kepekaan sosial, dan profesionalisme juga menjadi bagian penting dalam membangun kualitas peserta didik.
Perspektif tersebut menjadi salah satu pokok pembahasan mengenai pendidikan holistik Muhammadiyah yang disampaikan Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Garut, Dr. Agus Rahmat Nugraha, M.Ag., dalam Rapat Program Akreditasi (RPA) Tahap 2 BAN-PDM Provinsi Jawa Barat.
Kegiatan yang mengangkat tema penguatan sinergi dan kolaborasi pemangku kepentingan untuk meningkatkan kualitas, efektivitas, serta akuntabilitas pelaksanaan akreditasi itu berlangsung di Hotel Grand Tjokro Premiere Cihampelas, Bandung, Rabu (28/10/2026).
Dalam materi pendidikan holistik Muhammadiyah, Dr. Agus Rahmat Nugraha menekankan pentingnya pendekatan pendidikan yang mengintegrasikan dimensi intelektual, emosional, sosial, spiritual, dan profesional dengan landasan tauhid.
Pendekatan ini menempatkan pendidikan bukan semata-mata sebagai proses transfer pengetahuan, melainkan juga pembentukan manusia yang memiliki karakter, tanggung jawab, serta kemampuan memberikan manfaat bagi lingkungan.
Isi Artikel
Pendidikan Holistik dan Tantangan Dunia Pendidikan
Pendidikan holistik Muhammadiyah bertumpu pada prinsip iman, ilmu, dan amal.
Ketiganya menjadi landasan untuk menghubungkan pengetahuan yang diperoleh peserta didik dengan pembentukan karakter dan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari.
Dr. Agus Rahmat Nugraha juga menyoroti pentingnya hubungan antara sekolah atau madrasah, keluarga, dan lingkungan masyarakat.
Ketiga unsur tersebut merupakan basis kebudayaan yang perlu saling mendukung agar perkembangan peserta didik berlangsung secara menyeluruh.
Dalam kerangka pendidikan Muhammadiyah, peserta didik tidak hanya diarahkan untuk menguasai ilmu pengetahuan, tetapi juga menjalankan peran sebagai hamba Allah (‘Abdullah) dan khalifah di bumi (Khalifatullah fil ardhi).
Materi tersebut turut menyoroti persoalan pendidikan yang dinilai dapat muncul ketika proses belajar terlalu berorientasi pada hasil praktis dan capaian yang bersifat parsial.
Sejumlah tantangan yang diangkat meliputi berkurangnya perhatian terhadap pembentukan akal budi, penggunaan teknologi yang tidak bijak, serta kondisi ketika anak semakin adaptif terhadap perkembangan teknologi tetapi kurang memiliki kepekaan terhadap nilai dan norma kehidupan.
Fenomena viralitas, kelelahan atau burnout, memudarnya penghargaan terhadap kepakaran, hingga kecenderungan memperlakukan pendidikan sebagai proses produksi lulusan juga menjadi bagian dari persoalan yang disoroti dalam materi tersebut.
Tujuh Pilar Penjaminan Mutu Pendidikan Muhammadiyah
Untuk memperkuat kualitas pendidikan, materi yang disampaikan Dr. Agus memuat tujuh pilar penjaminan mutu pendidikan Muhammadiyah.
Pilar-pilar ini mencakup tata kelola sekolah, pengembangan sumber daya manusia, pelayanan, prestasi siswa, penguatan identitas pendidikan Muhammadiyah, kemitraan, dan evaluasi berkelanjutan.
Tujuh pilar tersebut meliputi:
- Penguatan kepemimpinan visioner, untuk mengarahkan pengembangan sekolah atau madrasah berdasarkan visi pendidikan yang jelas.
- Penguatan sumber daya manusia profesional, melalui peningkatan kapasitas dan kompetensi tenaga pendidik serta kependidikan.
- Pelayanan prima, dengan menekankan sikap, kemampuan, perhatian, penampilan, tindakan, dan akuntabilitas dalam melayani pemangku kepentingan.
- Peningkatan prestasi siswa, sebagai bagian dari upaya mengembangkan potensi peserta didik.
- Penguatan implementasi ISMUBA/AIK, yakni Al-Islam, Kemuhammadiyahan, dan Bahasa Arab untuk pendidikan dasar dan menengah Muhammadiyah, serta Al-Islam dan Kemuhammadiyahan pada konteks perguruan tinggi.
- Pengembangan kemitraan strategis, untuk memperkuat hubungan sekolah dengan keluarga, masyarakat, dan pihak lain yang mendukung pendidikan.
- Penjaminan mutu berkelanjutan, melalui evaluasi dan perbaikan kualitas pendidikan secara konsisten.
Ketujuh pilar tersebut perlu berjalan selaras dengan delapan Standar Nasional Pendidikan (SNP).
Dengan demikian, penguatan mutu tidak hanya berorientasi pada pemenuhan standar, tetapi juga pada kualitas layanan dan pengalaman belajar peserta didik.
Budaya Pelayanan dan Keteladanan Menjadi Bagian dari Mutu
Penjaminan mutu pendidikan juga berkaitan dengan cara sekolah membangun hubungan dengan orang tua dan masyarakat.
Sekolah perlu terbuka terhadap masukan yang konstruktif, memberikan pelayanan dengan sepenuh hati, serta menghargai harkat dan martabat setiap orang.
Budaya 5S—senyum, salam, sapa, sopan, dan santun—menjadi salah satu bentuk perilaku yang dapat memperkuat iklim pendidikan yang positif.
Keteladanan pimpinan dan guru juga memiliki peran penting.
Nilai-nilai pendidikan akan lebih mudah diterapkan ketika peserta didik melihat kesesuaian antara apa yang diajarkan dan perilaku yang ditunjukkan oleh orang dewasa di lingkungan mereka.
Dalam pendidikan Muhammadiyah, penguatan mutu tersebut tetap perlu berlandaskan nilai Al-Islam dan Kemuhammadiyahan agar peningkatan prestasi berjalan beriringan dengan pembentukan karakter.
Akreditasi Perlu Didukung Kolaborasi Pemangku Kepentingan
Tema Rapat Program Akreditasi Tahap 2 BAN-PDM Jawa Barat menempatkan sinergi dan kolaborasi sebagai bagian penting dalam meningkatkan kualitas, efektivitas, serta akuntabilitas pelaksanaan akreditasi.
Dalam konteks pendidikan holistik, kolaborasi diperlukan agar sekolah atau madrasah tidak bekerja sendiri.
Keluarga, masyarakat, dan pemangku kepentingan pendidikan perlu mengambil peran sesuai tanggung jawab masing-masing dalam mendukung perkembangan peserta didik.
Sementara itu, penjaminan mutu berkelanjutan menuntut lembaga pendidikan untuk terus melakukan evaluasi dan perbaikan, bukan hanya berfokus pada pemenuhan dokumen ketika menghadapi proses akreditasi.
Materi pendidikan holistik Muhammadiyah menegaskan arah pengembangan pendidikan yang menggabungkan landasan tauhid, pendidikan Al-Islam dan Kemuhammadiyahan, semangat Islam Berkemajuan, serta nilai-nilai yang terkandung dalam Al-Ma’un, Al-Ashr, dan Al-Insyirah.
Prinsip tersebut dirangkum dalam semangat pendidikan Muhammadiyah yang selalu berupaya unggul dan berkemajuan.
Tujuannya bukan sekadar meningkatkan capaian akademik, tetapi juga membentuk peserta didik yang berilmu, berkarakter, dan mampu memberikan manfaat bagi masyarakat.***
Penulis : Soni Tarsoni
Editor : Soni Tarsoni

















Komentar