WARTAGARUT.COM – Kementerian Agama Kabupaten Garut memperkuat kapasitas penyuluh agama menghadapi perubahan pola penerimaan informasi keagamaan masyarakat yang semakin dipengaruhi media sosial.
Hal tersebut disampaikan Kepala Seksi Bimbingan Masyarakat Islam (Kasi Bimas Islam) Kantor Kementerian Agama Kabupaten Garut, H. Muhtarom, M.Ag., dalam kegiatan Ngopi Pagi atau Ngobrol Peradaban Islam Bersama Penyuluh Agama di Aula Atas Kankemenag Garut, Kamis, 10 September 2026.

Menurut Muhtarom, Ngopi Pagi menjadi ruang silaturahmi sekaligus forum untuk menyampaikan program, informasi terbaru, evaluasi kegiatan, serta rencana kerja para penyuluh agama di Kabupaten Garut.
“Pertama sebagai wadah silaturahmi para penyuluh agama seluruh Kabupaten Garut. Yang kedua, menyampaikan rencana-rencana program kegiatan penyuluh agama Kementerian Agama Kabupaten Garut,” kata Muhtarom.
Forum tersebut juga digunakan Seksi Bimas Islam untuk menyampaikan program lanjutan dari tingkat pusat maupun wilayah agar dapat dipahami secara lebih spesifik dan teknis oleh para penyuluh.
Penyuluh Agama Hadapi Tantangan Media Sosial
Muhtarom menilai tantangan penyuluh agama semakin berat di era digital. Masyarakat kini dapat memperoleh berbagai informasi dan pemahaman keagamaan melalui media sosial dalam waktu singkat.
Menurut dia, kondisi tersebut membuat penyuluh tidak cukup hanya mengandalkan metode dakwah konvensional. Penyuluh juga perlu memahami karakter komunikasi di media sosial agar pesan keagamaan dapat disampaikan secara efektif.
“Secanggih apapun ceramah atau kajian keagamaan, kalau hari ini sudah orang bisa mengakses berbagai informasi, situs, atau pemahaman di tangan masyarakat masing-masing,” ujarnya.
Karena itu, Kemenag Garut mendorong penyuluh agama meningkatkan kemampuan dalam memanfaatkan media sosial sebagai sarana dakwah dan komunikasi dengan masyarakat.
Muhtarom mengatakan para penyuluh dilatih membuat konten dakwah dengan memperhatikan durasi dan penyajian agar sesuai dengan karakter konsumsi informasi di media sosial.
“Mereka harus punya kapasitas yang mumpuni dalam memanfaatkan media sosial sebagai alat dakwahnya mereka,” katanya.
Kompetensi Penyuluh Terus Ditingkatkan
Selain kemampuan digital, peningkatan kompetensi keilmuan dan intelektualitas penyuluh menjadi perhatian dalam pembinaan yang dilakukan Bimas Islam.
Peningkatan tersebut dilakukan melalui diskusi reguler, organisasi penyuluh, serta kajian keagamaan yang juga menjadi bagian dari kegiatan Ngopi Pagi.
Muhtarom menjelaskan, forum tersebut tidak hanya digunakan untuk mengevaluasi kegiatan organisasi dan menyampaikan informasi terbaru, tetapi juga menjadi ruang untuk memperdalam pemahaman keagamaan.
Di tingkat lapangan, penyuluh juga didorong menunjukkan karya nyata melalui kegiatan pembinaan masyarakat di desa-desa.
“Karya nyata mereka itu selalu saya tanyakan. Mana karya nyata Anda dalam bidang keagamaan di desa Anda yang dibina,” ujar Muhtarom.
Menurut dia, keberadaan kegiatan keagamaan yang dirintis maupun diperkuat oleh penyuluh dapat menjadi bagian dari bentuk karya nyata dalam menjalankan tugas pembinaan masyarakat.
Penyuluh Berperan hingga Tingkat Desa
Peran penyuluh agama, lanjut Muhtarom, tidak terbatas pada kegiatan ceramah atau pengajian. Penyuluh juga menjalankan fungsi edukasi, advokasi keagamaan, pemberian pemahaman kepada masyarakat, serta penyelesaian persoalan dengan pendekatan berbasis keagamaan.
Basis kegiatan penyuluh telah menjangkau tingkat desa. Karena itu, penyuluh dituntut mampu melihat kebutuhan masyarakat di wilayah binaannya dan menghasilkan kegiatan yang relevan.
Dalam menghadapi informasi keagamaan yang keliru atau berpotensi menyesatkan, penanganannya menurut Muhtarom perlu melihat substansi persoalan terlebih dahulu.
Jika menyangkut persoalan yang bersifat asasi dalam pemahaman keagamaan, penanganannya perlu dilakukan secara hati-hati dan dapat melibatkan pihak terkait, termasuk Majelis Ulama Indonesia (MUI), organisasi kemasyarakatan, maupun aparat apabila persoalan tersebut berkaitan dengan tindakan yang mengarah pada kriminalitas.
Sementara persoalan yang bersifat cabang atau furuiyah dalam fikih dapat dikaji melalui pendalaman pemahaman keagamaan.
Ngopi Pagi Jadi Forum Evaluasi Penyuluh
Muhtarom mengatakan kegiatan Ngopi Pagi telah berjalan rutin sejak 2024 dan dilaksanakan dua kali dalam satu bulan.
Forum tersebut diharapkan tidak berhenti pada diskusi, tetapi menghasilkan tindak lanjut baik dari sisi program organisasi penyuluh maupun pelaksanaan tugas pokok dan fungsi penyuluh agama.
“Harapan kami bahwa Ngopi Pagi ini menjadi barometer mengukur sebuah laku penyuluh agama itu aktivitasnya sejauh mana, apakah sesuai dengan tupoksinya atau tidak,” kata Muhtarom.
Selain mengukur aktivitas penyuluh, kegiatan tersebut diharapkan meningkatkan kapasitas penyuluh dalam pemahaman keagamaan, khususnya dalam menjalankan taklim dan dakwah di tengah masyarakat.
Muhtarom juga berharap Ngopi Pagi menjadi ruang silaturahmi dan sinergi antarp penyuluh sekaligus forum untuk membahas persoalan internal maupun berbagai kebutuhan pembinaan masyarakat.
Dengan demikian, forum tersebut diarahkan tidak hanya menjadi tempat bertukar informasi, tetapi juga menjadi bagian dari evaluasi dan penguatan kapasitas penyuluh agama di Kabupaten Garut.
Penulis : Soni Warta Garut
Editor : Soni Tarsoni

















Komentar