WARTAGARUT.COM – Dr. H. Saepulloh, S.Ag., M.Pd.I., menyampaikan pesan kepada jajaran Kementerian Agama Kabupaten Garut menjelang perpindahan tugasnya sebagai Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Kuningan.
Pesan tersebut disampaikan Dr. Saepulloh dalam acara Paturay Tineung atau perpisahan yang digelar di Aula Kantor Kementerian Agama Kabupaten Garut, Jum’at, (21/8/2026).

Selama memimpin Kemenag Garut, Dr. Saepulloh menyebut banyak hal yang berkesan. Namun, di antara berbagai pengalaman tersebut, ia menempatkan harmonisasi dan hubungan kekeluargaan sebagai hal yang paling membanggakan.
“Yang paling membanggakan capaiannya adalah kalau soal pekerjaan semuanya tuntas, tapi yang paling membanggakan terwujudnya harmonisasi dengan bingkai kekeluargaan dan persaudaraan itu,” ujar Dr. Saepulloh.
Menurutnya, capaian pekerjaan dalam sebuah birokrasi bersifat relatif dan dapat terus berubah. Sementara itu, hubungan antarmanusia yang dibangun melalui persaudaraan menjadi nilai yang lebih bermakna.
Isi Artikel
Dr. H. Saepulloh Soroti Prestasi Kemenag Garut
Dr. Saepulloh mengatakan selama menjalankan tugas di Kemenag Garut terdapat sejumlah capaian yang membanggakan, termasuk di bidang madrasah dan Bimbingan Masyarakat.
Ia juga menyebut Kemenag Garut pernah berada di peringkat kelima secara nasional dalam penyerapan anggaran.
“Banyak prestasi kita di Kementerian Agama Kabupaten Garut, contoh misalnya dengan prestasi di Madrasah, prestasi di Bimas menjadi ranking 5 secara nasional dalam penyerapan anggaran dan pembangunan-pembangunan lainaya,” katanya.
Meski demikian, Dr. Saepulloh kembali menegaskan bahwa capaian yang paling ia nilai penting bukan hanya berkaitan dengan indikator pekerjaan.
Harmonisasi yang terbangun di lingkungan Kemenag Garut, menurutnya, menjadi pengalaman yang paling membekas selama menjalankan amanah di daerah tersebut.
Dinamika Garut Jadi Tantangan
Ketika ditanya mengenai tantangan terbesar selama memimpin Kemenag Garut, H. Saepulloh menyebut dinamika masyarakat Garut yang heterogen.
Menurutnya, keberagaman pandangan dan karakter masyarakat menjadi tantangan sekaligus energi bagi jajaran Kemenag untuk terus responsif terhadap berbagai keadaan.
“Tantangan terbesar di Garut ini dinamikanya, heterogennya, pendapatnya luar biasa. Pendapatnya itu menjadikan spirit untuk kami dan itu menjadikan sebuah tantangan bahwa kita harus senantiasa responsif terhadap berbagai keadaan di Kabupaten Garut dengan 2,7 juta jiwa,” ujarnya.
Ia memandang kondisi tersebut menuntut birokrasi untuk tidak berhenti membangun komunikasi dan memahami karakter masyarakat yang dilayaninya.
Titip Tiga Pesan untuk Kemenag Garut
Menjelang meninggalkan Garut, Dr. Saepulloh meminta jajaran Kemenag Garut terus memperkuat komunikasi, koordinasi, dan persaudaraan.
Ia menyebut tiga prinsip yang menurutnya penting dalam membangun hubungan di lingkungan birokrasi, yakni ta’aruf, tafahum, dan ta’awun.
Ta’aruf dimaknai sebagai proses saling mengenal, tafahum sebagai upaya saling memahami, sedangkan ta’awun merupakan sikap saling menolong.
“Rapatkan barisan terus, bangun komunikasi, bangun koordinasi, dan yang terpentingnya adalah bangun persaudaraan,” kata Dr. Saepulloh.
Menurutnya, pemahaman terhadap karakter masing-masing individu menjadi salah satu kunci dalam mengelola organisasi dan birokrasi.
“Dengan satu sama lain mengenal tentang karakteristiknya. Atau yang disebut dengan ta’aruf. Kemudian tafahum, saling memahami, saling mengerti di antara satu sama lainnya dan tentunya saling tolong-menolong atau ta’awun. Itu kunci sukses dalam mengelola sebuah birokrasi,” lanjutnya.
Berharap Kemenag Garut Terus Berkibar
Dr. H. Saepulloh berharap Kementerian Agama Kabupaten Garut dapat terus berkembang dan memperkuat kerja sama di antara seluruh unsur di dalamnya.
“Harapan Kemenag Garut, terus berkibar. Bangun kerja sama sehingga menjadi Kementerian Agama yang menjadi pilot project di Jawa Barat,” ujarnya.
Kepada pejabat yang akan menggantikannya, Dr. Saepulloh menyampaikan penghormatan dan keyakinannya bahwa sosok tersebut mampu melanjutkan tugas di Kemenag Garut.
Ia menyebut pejabat pengganti tersebut sebagai seorang kiai dan ulama yang menurutnya sudah memahami apa yang harus dilakukan.
“Beliau adalah kiai, beliau adalah ulama, dan beliau saya yakin sudah tahu apa yang harus dilakukan, beliau adalah senior saya. Insya Allah beliau adalah orang baik,” katanya.
Dr. Saepulloh Ungkap yang Dirindukan dari Garut
Setelah berpindah tugas ke Kuningan,Dr. Saepulloh mengaku akan merindukan suasana kekeluargaan bersama ASN di lingkungan Kemenag Garut.
“Yang dirindukan tentunya dengan keistikomahan para ASN yang ada di lingkungan Kementerian Agama Kabupaten Garut. Pasti kami rindu itu, dengan smile-nya, tersenyumnya, dengan ramahnya, pasti kami rindu itu,” tuturnya.
Selain suasana kerja dan hubungan dengan jajaran Kemenag Garut, Dr. Saepulloh juga menyebut kuliner sebagai salah satu hal yang membuat Garut memiliki kesan tersendiri baginya.
“Kalau soal kuliner dan sebagainya itu tidak perlu ditanya karena memang khas Garut ini luar biasa,” ujarnya.
Di akhir pesannya kepada masyarakat Garut, Dr. Saepulloh mengajak masyarakat untuk tidak berhenti berusaha.
“Bagi masyarakat Garut, jangan berdiam diri. Lanjutkan berikhtiar. Jangan pernah berhenti untuk berikhtiar,” katanya.
Ia menutup pesannya dengan menekankan bahwa keberhasilan berkaitan dengan kegigihan seseorang dalam terus berusaha.
Penulis : Soni Warta Garut
Editor : Soni Tarsoni

















Komentar