WARTAGARUT.COM – Kepala Kantor Kementerian Agama (Kankemenag) Kabupaten Garut, Dr. H. Saepulloh, M.Pd.I, mengungkap arah baru pendidikan madrasah melalui penguatan Kurikulum Berbasis Cinta dalam kegiatan sosialisasi sebagai upaya membangun generasi berilmu, berakhlak, dan berkarakter unggul.
Kegiatan dilaksankan di Yayasan Bani Musthofa Purbasana, Kabupaten Garut, Selasa, 27 Januari 2026.
Dalam kegiatan tersebut, Dr. H. Saepulloh hadir bersama Kepala Seksi Pendidikan Madrasah (Kasi Penmad) Kemenag Garut, Dr. H. Surya Mulyana, M.Ag. Keduanya memberikan pembinaan langsung kepada para kepala madrasah, guru, dan pengelola yayasan.
Kepala Kankemenag Garut menegaskan bahwa pendidikan madrasah saat ini tidak cukup hanya berorientasi pada capaian akademik. Menurutnya, pendidikan harus mampu membentuk karakter, moral, dan kepribadian peserta didik.
“Pendidikan itu tidak hanya soal ilmu pengetahuan. Yang lebih penting adalah bagaimana kita membangun akhlakul karimah. Inilah ruh dari Kurikulum Berbasis Cinta,” ujar Saepulloh dalam sambutannya.
Ia menjelaskan, Kurikulum Berbasis Cinta merupakan pendekatan pendidikan yang menekankan nilai kasih sayang, empati, tanggung jawab, serta keteladanan dalam proses belajar mengajar.
Saepulloh menilai, pendekatan tersebut relevan dengan tantangan zaman yang semakin kompleks, terutama di tengah derasnya arus teknologi dan informasi.
“Berbicara pendidikan tidak akan pernah selesai. Tidak ada titik, apalagi tanda seru. Yang ada adalah koma, terus berlanjut. Karena pendidikan menyentuh kehidupan, kebijaksanaan, sains, teknologi, dan moral,” katanya.
Ia menambahkan, guru, kepala madrasah, dan pengelola yayasan memiliki tanggung jawab besar dalam membentuk ekosistem pendidikan yang sehat dan berkelanjutan.
“Kita semua bertanggung jawab mengelola pendidikan agar melahirkan generasi yang berkualitas, cerdas, dan berakhlak,” tegasnya.
Melalui program ini, Pihaknya berharap madrasah mampu menjadi pusat pembentukan karakter bangsa yang adaptif terhadap perubahan zaman, tanpa kehilangan nilai-nilai keislaman dan kebudayaan.
Sementara itu, Kasi Penmad Kemenag Garut, Dr. H. Surya Mulyana, M.Ag, menyampaikan bahwa Kurikulum Berbasis Cinta sejalan dengan program penguatan moderasi beragama dan pendidikan karakter yang dicanangkan Kementerian Agama.
Menurutnya, madrasah memiliki posisi strategis dalam membangun keseimbangan antara kompetensi akademik dan nilai spiritual.
“Madrasah harus menjadi ruang tumbuh bagi peserta didik, baik secara intelektual, emosional, maupun spiritual,” ujarnya.
Ia juga mendorong seluruh satuan pendidikan madrasah di Garut untuk mengimplementasikan kurikulum tersebut secara konsisten, bukan hanya dalam dokumen, tetapi dalam praktik sehari-hari.
Kemenag Garut juga berkomitmen untuk terus melakukan pendampingan, evaluasi, dan penguatan kapasitas guru agar Kurikulum Berbasis Cinta dapat berjalan secara berkelanjutan.***
Penulis : Soni Tarsoni

















