Memaknai Zakat Fitrah: Menjaga Keseimbangan Ibadah kepada Allah dan Kepedulian Sosial

- Jurnalis

Senin, 16 Maret 2026 - 16:34 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Memaknai Zakat Fitrah Menjaga Keseimbangan Ibadah kepada Allah dan Kepedulian Sosial

Memaknai Zakat Fitrah Menjaga Keseimbangan Ibadah kepada Allah dan Kepedulian Sosial

Tidak terasa sekarang kita memasuki penghujung bulan Ramadhan 1447 H. Rangkaian ibadah terus dijalani. Ibadah puasa, shalat tarawih dll terus dilaksanakan.

Salah satu ibadah yang sering dilakukan di 10 hari terakhir adalah itikaf.  Setelah kumandang adzan maghrib di penghujung ramadhan kaum muslimin menunaikan membayar zakat fitrah.

Disebut Zakat Fitrah karena merupakan zakat yang wajib dibayarkan karena berbuka untuk mengakhiri puasa Ramadhan. Zakat fitrah diwajibkan pada tahun 2 Hijriyah.

Dari Abdullah bin Umar diriwayatkan, bahwa Rasulullah SAW Telah mewajibkan zakat fitrah di bulan Ramadhan atas setiap jiwa kaum muslimin, baik merdeka, hamba sahaya, laki-laki ataupun perempuan, anak kecil maupun dewasa, yaitu berupa satu sa’ kurma atau satu sa’ gandum (HR Muslim)

Penulis mencoba memaknai zakat fitrah dari dua sudut pandang. Pertama zakat fitrah menunjukan keseimbangan antara ibadah vertikal dan horizontal.

Islam sebagai agama yang sempurna. Islam mengajarkan wujud beribadah dilaksanakan secara vertikal dan horizontal.  

Terdapat berbagai ibadah secara vertikal dari mulai harian, mingguan, hingga tahunan. Ibadah harian salah satunya shalat lima waktu. Ibadah mingguan bagi kaum adam diwajibkan shalat jumat berjamaah.

Ibadah tahunan diwujudkan dengan shaum di bulan Ramadhan dan menyembelih hewan qurban bagi yang mampu pada tanggal 10-13 Dzulhijjah. 

Ibadah yang diwujudkan secara horizontal diantaranya, zakat, infaq, dan shadaqah.

Membayarkan zakat fitrah menunjukkan bahwa sebagai ketaatan kepada Allah tidak cukup dengan menjalin hubungan baik dengan Allah tetapi harus peduli dengan sesama.

Keseimbangan ini harus dijaga, jangan sampai ibadah vertikalnya dijalankan dengan baik, tetapi ibadah sosialnya tidak dilaksanakan.

Begitupun sebaliknya jangan juga kita ibadah sosialnya rajin tetapi ibadah vertikalnya kurang.

Keseimbangan ibadah vertikal dan horizontal salah satunya tertuang dalam QS Al-Baqarah : 43 yang artinya : Tegakkanlah shalat, tunaikanlah zakat, dan rukuklah bersama orang-orang yang rukuk.

Penulis akan merujuk pada Tafsir At-tanwir. Di dalam tafsir At-tanwir (2021:164) dikemukakan bahwa Allah memerintahkan agar senantiasa melaksanakan apa-apa yang telah ditentukan oleh syariat, terutama mendirikan dan menjalankan shalat, menunaikan zakat serta taat kepada perintah-perintah Allah.

Dimaksud dengan shalat ialah menghadap kepada Allah dengan hati yang khusyuk dan ikhlas serta berdzikir dan berdo’a hanya mengharapkan keridhaan Allah.

Melaksanakan setiap waktu dengan cara yang sebaik-baiknya, melengkapi syarat dan rukunnya, serta menjaga waktu-waktunya yang telah ditentukan sesuai dengan semua syariat yang dibawa oleh para Nabi.

Mereka juga diperintahkan agar menunaikan zakat, karena zakat merupakan amal perbuatan yang mencerminkan dan sebagai realisasi keimanan dan sebagai kesyukuran atas segala kenikmatan yang dianugerahkan Allah kepada manusia, sebagai media komunikasi antar manusia.

Sebagaimana diketahui manusia adalah makhluk sosial, tidak dapat hidup sendirian, mereka saling membantu, saling menolong.

Seseorang tidak dapat mengembangkan harta hingga menjadi seseorang yang kaya raya, tanpa pertolongan dari orang lain.

Karena itulah Allah mewajibkan menunaikan zakat sebagai rasa syukur kepada Allah dan menolong para fakir miskin yang telah ikut membantu mengembangkan harta si kaya.  

Kedua, islam mengajarkan kita peduli dengan sesama.  Seperti yang telah dikemukakan di atas, islam sangat memahami manusia sebagai makhluk sosial yang saling membutuhkan.

Kita diwajibkan untuk saling membantu dan saling menolong. Islam memandang bahwa kekayaan yang dimiliki seseorang tidak seluruhnya atas dirinya, tetapi ada pertolongan orang lain. 

 Idul fitri sebagai hari raya yang besar bagi seorang muslim. Penulis memaknai sebagai hari raya yang besar karena dua hal pertama idul fitri sebagai awal berbuka.

Setelah sebulan berpuasa, idul fitri menjadi awal berbuka. Sebagai hari pertama berbuka sudah selayaknya manusia berbahagia. 

Kedua idul fitri sebagai awal manusia mencapai kesucian. Kita telah ketahui bersama bahwa esensi puasa adalah mencapai ketaqwaan dan kembali ke fitrah kesucian.

Sudah selayaknya kaum muslimin yang telah berjuang sekuat tenaga untuk mencapai ketakwaan dan kesucian pada hari raya idul fitri berbahagia.

Saat ini ketimpangan ekonomi cukup tinggi. Kemiskinan terjadi di mana-mana, baik di perkotaan maupun pedesaan.

Kita acap kali menemukan orang yang tidak memiliki tempat tinggal. Selain itu pengangguran terjadi di mana-mana.

Zakat fitrah menunjukkan bahwa seluruh kaum muslimin merasakan kebahagiaan. Zakat  fitrah menjadikan para fakir-miskin turut berbahagia.

Untuk memenuhi kebutuhan makan hari raya dipenuhi oleh kaum muslim yang secara ekonomi cukup. Minimal dalam hari itu seluruh umat merasa bahagia. 

Sebagai mengingatkan harus berhati-hati dalam menunaikan zakat. Zakat berbeda dengan shadaqah. Zakat harus ditunaikan kepada kaum yang berhak. 

Terdapat  8 asnaf penerima zakat antara lain : fakir, miskin, amil, mualaf, riqab (budak), ghorim (berhutang), fisabilillah, dan ibnu sabil. 

Semoga ibadah puasa kita diterima Allah dan mencapai derajat taqwa serta berbuah kashalehan sosial. Aamiin 

Penulis: Iin Munawaroh

Penulis : Soni Tarsoni

Berita Terkait

Mukerda 2026! MUI Garut Prioritaskan Kondusivitas dan Pemberdayaan Ekonomi Umat
Haul ke-33 dan ke-20 di Ponpes Hidayatul Faizien Jadi Momentum Spiritual dan Sosial Umat
Muhammad Ridho, Santri Murid Al Mashduqi IIBS Garut Tembus Kuliah di Rusia: Intip Kisah Inspiratifnya!
Kemenag Garut Apresiasi Peresmian Aula LPTQ, Endang Sutiana: Perkuat Pembinaan Generasi Qurani
Kemenag Garut Dukung Tambahan Anggaran Pendidikan, Dr Saepulloh: Kunci Perubahan Ada di Pendidikan
Refleksi Halal Bihalal Kemenag Garut, Dr. Saepulloh Tekankan Makna Kesucian dan Perubahan ASN
Transformasi Kang Cecep di Preman Pensiun: Dari Sosok Santai Menjadi Pemimpin Bijaksana
MERIAH! Milad ke-47 MAN 1 Garut Digelar Besar-besaran, Ada Berbagai Lomba hingga Donor Darah

Berita Terkait

Senin, 13 April 2026 - 19:16 WIB

Mukerda 2026! MUI Garut Prioritaskan Kondusivitas dan Pemberdayaan Ekonomi Umat

Sabtu, 11 April 2026 - 14:24 WIB

Haul ke-33 dan ke-20 di Ponpes Hidayatul Faizien Jadi Momentum Spiritual dan Sosial Umat

Selasa, 7 April 2026 - 18:37 WIB

Muhammad Ridho, Santri Murid Al Mashduqi IIBS Garut Tembus Kuliah di Rusia: Intip Kisah Inspiratifnya!

Selasa, 7 April 2026 - 07:25 WIB

Kemenag Garut Apresiasi Peresmian Aula LPTQ, Endang Sutiana: Perkuat Pembinaan Generasi Qurani

Senin, 6 April 2026 - 19:20 WIB

Kemenag Garut Dukung Tambahan Anggaran Pendidikan, Dr Saepulloh: Kunci Perubahan Ada di Pendidikan

Berita Terbaru

error: Content is protected !!