WARTAGARUT.COM – Institut Kesehatan Karsa Husada Garut (IKKHG) melakukan studi banding ke Departemen Gizi Masyarakat IPB University.
Kegiatan yang berlangsung di Ruang Betakaroten, Fakultas Ekologi Manusia IPB, pada Senin, (11/5/2026).
Kunjungan tersebut menjadi langkah strategis untuk memperkuat mutu akademik, khususnya Program Studi S1 Gizi dan pengembangan SDGs Center di lingkungan IKKHG.
Rombongan IKKHG dipimpin langsung oleh Rektor Dr. Iwan Wahyudi, S.Kep. NS., M.Kep, dan dihadiri Ketua Pembina YDHIG, Dr. H Hadiat., MA., Ketua Umum Pengurus YDHIG H. Suryadi, M.Si., Komite Bidang Etik YDHIG Prof. Uman Suherman AS, M.Pd., para wakil rektor, Dekan Fakultas Ilmu Kesehatan, Plt Ketua Program Studi S1 Gizi, serta sejumlah pimpinan unit.
Rombongan diterima oleh Ketua Departemen Gizi Masyarakat sekaligus Ketua Program Studi S1 Gizi IPB, Prof. Dr. Katrin Roosita, SP., M.Si, bersama jajaran akademik dan tenaga kependidikan.
Dalam paparannya, Prof. Katrin menjelaskan profil lulusan, struktur kurikulum, fasilitas laboratorium, produk penelitian, pengabdian masyarakat, dan jaringan kerja sama yang dimiliki IPB.
Ia juga memaparkan bahwa bidang gizi di IPB terbagi dalam empat konsentrasi utama, yakni gizi klinik, gizi masyarakat, manajemen pelayanan makanan, serta kebijakan pangan dan gizi.
Menurutnya, IPB memiliki lima program pendidikan di bidang gizi, yaitu S1 Gizi, S2 Gizi, S3 Gizi, serta dua program profesi, yakni profesi nutrisionis dan profesi dietisien.
Prof. Katrin menjelaskan nutrisionis berfokus pada penanganan gizi bagi individu sehat yang ingin menjaga pola hidup sehat atau mengatur berat badan.
Sementara dietisien menangani intervensi gizi bagi pasien yang sedang menjalani proses penyembuhan di fasilitas kesehatan.
Rektor IKKHG Dr. Iwan Wahyudi menyampaikan bahwa kegiatan studi banding tersebut merupakan bagian penting dalam proses pembelajaran institusi untuk mengadopsi praktik terbaik yang telah dikembangkan IPB University.
“Kegiatan ini menjadi langkah strategis dalam penguatan mutu akademik dan tata kelola institusi, khususnya pada Program Studi S1 Gizi dan pengembangan SDGs Center,” ujarnya.
Menurutnya, praktik terbaik yang dipelajari meliputi pengelolaan akademik, implementasi kurikulum berbasis Outcome-Based Education (OBE), penguatan penelitian dan pengabdian masyarakat, serta integrasi Sustainable Development Goals (SDGs) dalam tridharma perguruan tinggi.
Ia menegaskan hasil benchmarking tidak berhenti pada kunjungan semata. Seluruh temuan akan ditindaklanjuti melalui program pengembangan yang konkret dan berkelanjutan di lingkungan IKKHG.
“Hasil benchmarking ini akan menjadi referensi untuk meningkatkan kualitas layanan pendidikan, memperkuat daya saing lulusan, serta mendorong kontribusi perguruan tinggi terhadap pembangunan berkelanjutan di tingkat lokal, nasional, maupun global,” katanya.
Dr. Iwan Wahyudi menambahkan IKKHG juga berkomitmen memperluas jejaring kerja sama antarperguruan tinggi guna mendukung inovasi, kolaborasi riset, dan penguatan implementasi SDGs di lingkungan akademik maupun masyarakat.
“Hasil studi banding ini tidak berhenti pada kunjungan semata, tetapi akan kami tindak lanjuti melalui berbagai program pengembangan yang konkret dan berkelanjutan,” pungkasnya.***
Penulis : Soni Tarsoni

















