WARTAGARUT.COM – Sebuah novel terbitan 2010 justru menjadi buku paling diminati siswa MTsN 1 Garut sepanjang Oktober 2026.
Novel berjudul Layang-Layang Kembalilah Pulang karya Taufik Ariyanto itu menarik perhatian pembaca muda melalui kisah perjuangan anak seorang tukang becak dalam menghadapi keterbatasan hidup, mengejar cita-cita, serta memahami arti bakti kepada orang tua.
Menariknya, Perpustakaan Harun Al-Rasyid MTsN 1 Garut hanya memiliki satu eksemplar novel tersebut.
Setiap kali buku dikembalikan, siswa lain sudah menunggu kesempatan untuk meminjamnya.
Fenomena ini menjadi perhatian pengelola perpustakaan karena menunjukkan bahwa bacaan yang mengangkat persoalan kehidupan dan dekat dengan pengalaman remaja masih memiliki daya tarik kuat, meskipun siswa hidup di tengah maraknya hiburan digital.
Kepala Perpustakaan Harun Al-Rasyid MTsN 1 Garut, Hj. Rina Rosmayana, S.Pd., M.Pd., mengatakan tingginya minat siswa terhadap novel tersebut bukan semata-mata karena jalan ceritanya, tetapi juga pesan kehidupan yang disampaikan.
Menurutnya, kisah tentang keterbatasan ekonomi, perjuangan meraih impian, ketekunan, doa, dan kecintaan kepada orang tua memberikan pelajaran yang relevan bagi kehidupan siswa.
“Novel ini memberikan pesan bahwa keterbatasan ekonomi bukan alasan untuk berhenti bermimpi. Ada perjuangan, ketekunan, doa, dan bakti kepada orang tua yang menjadi kekuatan seseorang untuk terus melangkah,” ungkap Rina.
Ia melihat siswa tidak sekadar membaca untuk mengisi waktu, tetapi juga menemukan nilai yang dapat dijadikan bahan refleksi dalam kehidupan sehari-hari.
Isi Artikel
Dari Rasa Penasaran Menjadi Inspirasi bagi Siswa
Daya tarik novel tersebut juga dirasakan Mohammad Sidqi, siswa kelas IX-1 MTsN 1 Garut.
Awalnya, ia penasaran setelah mengetahui buku itu menjadi salah satu koleksi yang paling sering dipinjam di perpustakaan.
Setelah mendapatkan kesempatan membaca, Sidqi menemukan pesan yang menurutnya berkaitan erat dengan perjalanan remaja dalam menentukan masa depan.
Salah satu ungkapan dalam novel yang paling membekas baginya berbunyi:
“Mengulur benang-benang asa ketika desah angin datang, menarik jalinan rencana ketika ia menghilang.”
Bagi Sidqi, kalimat tersebut mengajarkan pentingnya membaca peluang, berani mengambil kesempatan, sekaligus mengevaluasi kembali rencana ketika keadaan belum sesuai harapan.
Pesan itu bahkan ia hubungkan dengan rencananya menentukan sekolah lanjutan setelah menyelesaikan pendidikan di MTsN 1 Garut.
“Saya harus pandai-pandai membaca peluang ketika nanti menentukan pilihan akan melanjutkan sekolah ke mana. Saya juga harus bisa berkomunikasi dengan orang tua karena mereka tentu mempunyai harapan dan impian untuk masa depan saya,” tutur Sidqi.
Ia menilai komunikasi dengan orang tua menjadi bagian penting dalam menentukan pilihan pendidikan.
Perbedaan harapan antara anak dan orang tua, menurutnya, perlu dibicarakan agar keputusan yang diambil dapat dipahami bersama.
Pengalaman tersebut memperlihatkan bagaimana sebuah bacaan dapat berkembang menjadi bahan pemikiran bagi siswa dalam menghadapi persoalan nyata, termasuk menentukan arah pendidikan dan masa depan.
Metafora Layang-Layang dan Pesan Pendidikan Karakter
Judul Layang-Layang Kembalilah Pulang menghadirkan metafora yang dapat dimaknai dekat dengan perjalanan kehidupan remaja.
Layang-layang yang terbang tinggi menggambarkan keinginan seseorang untuk meraih cita-cita dan menemukan kebebasan dalam menentukan masa depan.
Namun, perjalanan itu tetap membutuhkan arah, pegangan, dan tempat untuk kembali.
Pesan tersebut sejalan dengan pendidikan karakter di madrasah.
Siswa didorong memiliki impian besar, tetapi tetap menjaga adab, nilai agama, tanggung jawab, serta hubungan baik dengan keluarga.
Kisah perjuangan tokoh utama dalam novel juga memiliki keterkaitan dengan nilai birrul walidain atau berbakti kepada kedua orang tua.
Nilai ini menjadi salah satu ajaran penting dalam pendidikan Akidah Akhlak dan ditegaskan dalam Al-Qur’an, salah satunya melalui Surah Luqman ayat 14.
Dengan pendekatan tersebut, novel tidak hanya menjadi bacaan hiburan, tetapi juga dapat menjadi bahan refleksi untuk mempertemukan pengalaman membaca dengan nilai-nilai keislaman yang dipelajari siswa.
Novel Terbitan 2010, Masih Diminati Lebih dari Satu Dekade
Ada hal lain yang membuat fenomena ini menarik. Layang-Layang Kembalilah Pulang bukan koleksi baru di Perpustakaan Harun Al-Rasyid.
Novel karya Taufik Ariyanto tersebut diterbitkan Inti Medina pada 2010 dan telah menjadi bagian dari koleksi perpustakaan sejak sekitar 2012.
Keberadaannya bermula dari permintaan siswa pada masa perpustakaan masih dipimpin Dra. Ani Rostiani.
Petugas bagian sirkulasi Perpustakaan Harun Al-Rasyid, M. Faris Faisal, S.E., menjelaskan bahwa kekuatan cerita dan bahasa yang digunakan menjadi alasan buku tersebut tetap menarik bagi pembaca dari generasi siswa yang berbeda.
“Bahasanya menyentuh dan ceritanya sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari anak-anak madrasah. Buku ini bukan hanya memberikan hiburan melalui cerita, tetapi juga menjadi motivasi agar siswa tetap optimistis mengejar cita-cita meskipun berada dalam keterbatasan,” jelas Faris.
Ia juga menyoroti kondisi koleksi yang hanya tersedia satu eksemplar.
Keterbatasan jumlah tersebut membuat siswa harus menunggu giliran untuk mendapatkan kesempatan membaca.
Secara bibliografis, novel ini memiliki ISBN 978-979-072-046-6.
Usianya yang telah lebih dari satu dekade tidak menghalangi buku tersebut untuk kembali menarik perhatian pembaca muda.
Enam Judul Lain Juga Masuk Daftar Bacaan Favorit
Selain Layang-Layang Kembalilah Pulang, sejumlah buku lain turut menarik minat siswa selama Oktober 2026.
Beberapa di antaranya adalah Rumah karya J.S. Khairen, Dia Adalah Kakakku karya Tere Liye, Jurnal Risa karya Risa Saraswati, Pacarku Nyebelin karya Halluna Lina, serta Awaiting You karya Nadya Prayudhi.
Keragaman judul tersebut memperlihatkan minat baca siswa yang tidak terpaku pada satu genre.
Bacaan motivasi, cerita keluarga, misteri, hingga kisah remaja memiliki ruang tersendiri di kalangan pembaca madrasah.
Bagi pengelola perpustakaan, catatan peminjaman dapat menjadi bahan evaluasi untuk memahami kecenderungan bacaan siswa.
Informasi tersebut juga dapat digunakan sebagai pertimbangan dalam pengembangan koleksi dan penyusunan kegiatan literasi.
Perpustakaan Didorong Menjadi Ruang Tumbuh Siswa
Kepala Perpustakaan Harun Al-Rasyid, Hj. Rina Rosmayana, yang baru sekitar satu bulan mengemban amanah tersebut setelah lebih dari delapan tahun menjalankan tugas tambahan sebagai Wakil Kepala Bidang Kurikulum, ingin menjadikan perpustakaan lebih dari sekadar tempat meminjam buku.
Menurutnya, perpustakaan perlu menghadirkan pengalaman membaca yang menyenangkan sekaligus membantu siswa memahami nilai dan pengetahuan yang diperoleh dari buku.
Ia berharap minat siswa terhadap koleksi tertentu dapat menjadi pintu masuk untuk memperkuat budaya literasi di lingkungan madrasah.
“Kami ingin perpustakaan menjadi ruang tumbuh bagi siswa. Mereka datang bukan hanya untuk memenuhi tugas pembelajaran atau meminjam buku, melainkan juga untuk menemukan inspirasi, mengenali potensi diri, dan membangun harapan tentang masa depan,” ujarnya.
Fenomena Layang-Layang Kembalilah Pulang menunjukkan bahwa kekuatan sebuah buku tidak selalu ditentukan oleh tahun penerbitannya.
Cerita yang dekat dengan kehidupan pembaca dan menyampaikan pesan bermakna dapat terus menemukan tempat di hati generasi berikutnya.
Di Perpustakaan Harun Al-Rasyid MTsN 1 Garut, satu eksemplar novel telah mengundang rasa penasaran, membuka ruang percakapan tentang masa depan, dan mengingatkan siswa pada pentingnya keluarga, pendidikan, serta perjuangan meraih cita-cita.
Dari kisah seorang anak tukang becak, para siswa menemukan pelajaran bahwa impian boleh diterbangkan setinggi mungkin, tetapi nilai kehidupan dan kasih sayang orang tua tetap menjadi pegangan untuk menemukan jalan pulang.***
Penulis : Soni Tarsoni
Editor : Soni Tarsoni

















Komentar