WARTAGARUT.COM – Perpustakaan Harun Al-Rasyid MTsN 1 Garut menggerakkan kampanye penggunaan tumbler untuk mengurangi ketergantungan terhadap botol plastik sekali pakai.
Gerakan yang dimulai dari lingkungan kerja perpustakaan ini diarahkan menjadi kebiasaan bersama bagi guru, tenaga kependidikan, hingga peserta didik.
Kepala Perpustakaan Harun Al-Rasyid, Hj. Rina Rosmayana, S.Pd., M.Pd., mengajak seluruh staf membiasakan penggunaan wadah minum yang bisa dipakai berulang kali.
Langkah sederhana tersebut menjadi bagian dari upaya membangun budaya peduli lingkungan di lingkungan madrasah.
Melalui kampanye bertajuk “Saatnya Pensiunkan Botol Plastik Sekali Pakai”, Rina ingin perubahan perilaku dimulai dari keteladanan di lingkungan kerja, bukan sekadar imbauan.
“Jangan menunggu perubahan besar untuk mulai peduli terhadap lingkungan. Kita bisa memulainya dari meja kerja sendiri. Membawa tumbler adalah langkah sederhana, tetapi jika dilakukan bersama-sama, dampaknya akan jauh lebih besar. Sudah saatnya kita memensiunkan kebiasaan menggunakan botol plastik sekali pakai,” ungkap Rina.
Isi Artikel
Kebiasaan Membawa Tumbler Mulai Meluas
Gerakan tersebut tidak berhenti di lingkungan perpustakaan. Berdasarkan pemantauan Rina, kebiasaan membawa tumbler mulai terlihat di ruang guru.
Para pendidik dan tenaga kependidikan membawa air minum dari rumah, kemudian mengisi ulang menggunakan galon bersama yang tersedia di lingkungan madrasah.
Perubahan ini menjadi bagian dari pendekatan edukasi lingkungan melalui contoh sehari-hari.
Guru dan tenaga kependidikan tidak hanya mengajak siswa menjaga lingkungan, tetapi juga menunjukkan praktiknya secara langsung.
Kampanye selanjutnya diarahkan kepada peserta didik.
Siswa didorong membawa bekal air minum dari rumah menggunakan tumbler dan memanfaatkan fasilitas pengisian ulang yang tersedia.
Dengan kebiasaan tersebut, penggunaan botol plastik sekali pakai diharapkan dapat ditekan.
Selain mengurangi potensi sampah, gerakan ini juga membangun kesadaran bahwa menjaga lingkungan merupakan tanggung jawab setiap warga madrasah.
Menghidupkan Kembali Semangat Adiwiyata
Gerakan peduli lingkungan sebenarnya bukan hal baru bagi MTsN 1 Garut.
Madrasah ini telah merintis berbagai kegiatan lingkungan hidup sejak sekitar sembilan tahun lalu melalui program Adiwiyata.
Bahkan, MTsN 1 Garut pernah meraih prestasi sebagai juara Adiwiyata tingkat Provinsi Jawa Barat.
Namun, konsistensi pelaksanaan program tersebut mengalami pasang surut. Kebiasaan membawa wadah minum sendiri yang sebelumnya cukup berkembang sempat melemah dan hanya dipertahankan sebagian warga madrasah.
Kondisi tersebut menjadi pekerjaan bersama untuk kembali membangun budaya peduli lingkungan yang pernah menjadi salah satu kebanggaan madrasah.
Kini, penguatan ekoteologi di lingkungan Kementerian Agama menjadi salah satu landasan untuk menghidupkan kembali kebiasaan tersebut.
Melalui pendekatan ini, kepedulian terhadap alam tidak hanya dipahami sebagai persoalan kebersihan, tetapi juga bagian dari tanggung jawab moral dan keagamaan.
Penguatan tersebut sejalan dengan Keputusan Menteri Agama (KMA) Nomor 606 Tahun 2026 tentang Pedoman Penyelenggaraan Penguatan Ekoteologi bagi Pegawai Aparatur Sipil Negara di lingkungan Kementerian Agama.
Pedoman tersebut menjadi salah satu dasar penguatan kesadaran dan praktik pelestarian lingkungan.
Penggunaan tumbler, pengurangan sampah plastik, serta pemanfaatan fasilitas air minum isi ulang merupakan bentuk kebiasaan yang relevan dengan semangat tersebut.
Potensi Pengurangan Sampah Plastik Capai 607 Ribu Botol Setahun
Besarnya potensi gerakan ini dapat dilihat dari jumlah warga yang beraktivitas di MTsN 1 Garut.
Berdasarkan data yang disampaikan dalam bahan kampanye, terdapat sekitar 150 pendidik dan tenaga kependidikan serta 1.368 peserta didik.
Dengan demikian, total warga madrasah mencapai sekitar 1.518 orang.
Jika setiap orang menggunakan dua botol air minum kemasan sekali pakai dalam sehari, potensi sampah yang dihasilkan mencapai 3.036 botol per hari.
Dalam 20 hari efektif sekolah, jumlahnya dapat mencapai 60.720 botol. Sementara itu, dengan asumsi 200 hari efektif sekolah dalam setahun, potensi botol plastik yang dapat ditekan melalui perubahan kebiasaan tersebut mencapai 607.200 botol.
Angka tersebut merupakan simulasi berdasarkan asumsi konsumsi dua botol per orang setiap hari, bukan hasil pengukuran sampah aktual di lingkungan madrasah.
Perhitungan ini memperlihatkan bahwa perubahan kebiasaan secara kolektif dapat memberikan dampak yang jauh lebih besar dibandingkan tindakan individual.
Semakin banyak warga madrasah yang menggunakan tumbler secara konsisten, semakin besar pula potensi pengurangan sampah plastik sekali pakai.
Merawat Lingkungan sebagai Bagian dari Tanggung Jawab Keimanan
Kampanye penggunaan tumbler juga membawa pesan pendidikan keagamaan melalui pendekatan ekoteologi.
Dalam perspektif tersebut, menjaga kelestarian alam merupakan bagian dari tanggung jawab manusia sebagai khalifah di bumi.
Kepedulian terhadap lingkungan tidak sebatas menjaga kebersihan, tetapi juga mencerminkan nilai moral, tanggung jawab, dan rasa syukur atas karunia Allah Swt.
Mengurangi sampah plastik, menggunakan kembali wadah minum, serta membiasakan konsumsi yang lebih bijak menjadi tindakan sederhana yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Melalui gerakan ini, Perpustakaan Harun Al-Rasyid juga memperluas perannya.
Tidak hanya menjadi pusat sumber belajar dan literasi, perpustakaan diharapkan menjadi ruang edukasi yang mendorong tumbuhnya kesadaran lingkungan di kalangan warga madrasah.
Kampanye tersebut diharapkan tidak berhenti sebagai gerakan sesaat, melainkan berkembang menjadi budaya yang melekat di lingkungan MTsN 1 Garut dan terbawa hingga kehidupan sehari-hari.
Sebab, mengurangi sampah plastik tidak selalu harus dimulai dengan program besar.
Kebiasaan membawa satu tumbler dan menggunakannya secara berulang dapat menjadi langkah awal untuk menjaga lingkungan secara bersama-sama.***
Penulis : Soni Tarsoni
Editor : Soni Tarsoni

















Komentar